
Rosa tak hanya mengamati tapi juga langsung melirik ke arah tangan Arsy. Fix, cincin Pak Teddy dan Arsy memang sama dari warna dan bentuknya.
Tapi, Sekarang apa urusan Rosa jika mengetahui itu semua. Kalau memang kebenarannya Arsy dan Pak Teddy itu memiliki hubungan dan status yang SAH.
"Kamu kenapa melamun saja? Kamu dengar saya bicara?" tanya Teddy pada Rosa yang sejak tadi memang sama sekali tidak memperhatikan Teddy berbicara.
"Ekhemmm ... Denger Pak," ucap Rosa terbata membuat semua mahasiswa menatap ke arah Rosa.
"Apa?!" tanya Teddy tegas dan lantang.
"Tugas di tumpuk di pinggir meja untuk di periksa," ucap Rosa sedikit ragu.
Teddy tak menjawab dan mengetuk jarinya sebagai tanda kuis di mulai.
"Kuis dimulai. Semua buku di masukkan dan tak ada yang bicara. Bila ada yang ketahuan menyontek atau meminta jawaban dari teman. Kalian silahkan keluar dari kelas saya dan langsung saya beri nilai D, silahkan mengulang semester depan," ucap Teddy Teddy denagn tegas dan lantang.
__ADS_1
Semua mahasiswa menuruti perintah Teddy. Tak ada satu pun yang bicara dan langsung sibuk membaca soal dan mengerjakan soal -soal kuis tersebut hingga jam kuliah berakhir.
"Waktu telah habis dan segera kumpulkan ke depan," titah eddy dengan suara tegas.
Arsy sudah berdiri dan bersiap maju ke depan untuk mengumpulkan kertas kuis itu ke dpean, dan denagn sengaja Emil beserta teman -temannya seperti ingin keluar terburu -buru dan menabrak Arsy hingga gadis itu jatuh tersungkur dan berteriak keras secara spontan.
"Arghhhh ... Sakit ...," teriak Arsy spontan terus mengaduh dan memegang perutnya.
Teddy langsung berdiri dan denagn cepat mengangkat Arsy keluar dari kelas. Ia tidak peduli lagi dengan kertas kuis, kertas tugas dan mahasiswanya yang ia tinggal begitu saja.
"Pak ... Ini gimana? Malah ngurusin orang hamil lagi," ucap Emil tertawa keras.
Semua mahasiswa di kelas itu menatap Emil dan teman -temannya dengan sinis. Bisa -bisanya mendorong teman sendiri yang sedang hamil dan itu sengaja.
Emil mengedarkan pandangannya dan emnatap satu per satu anak baru yang ia anggap masih ingusan itu.
__ADS_1
"Kenapa lu semua liatin gue?! Gak suka? Kalau gak suka, silahkan keluar dari kelas ini!" ucap Emil ketus dan lantang.
Emil dan teman -temannya segera pergi dari kelas itu. Mega yang panik berinisiatif langsung menumpuk kertas kuis itu dan membawatugas ke kantor dosen.
"Ada yang mau numpuk jawaban kuisnya? KIta kumpulkan saja. Saya tahu ruangan Pak Teddy," ucap Mega berteriak agar seluruh kelas itu mendengar.
Kertas hasil kuis sudah terkumpul dan Mega membawa ke ruangan Pak Teddy.
"Kamu teman Arsy" tanya Rosa yang sejak tadi mengikuti Mega.
"Iya Kak," jawab Mega sopan karena Mega tahu, Rosa adalah salah satu bagian dari anggota genk Emil.
"Jangan takut. Gue bukan bagian dari genk Emil lagi. Lo tahu, ada hubungan apa Arsy sama Pak Teddy?" tanya Rosa kemudian.
Mega menggelengkan kepalanya dengan cepat karena ia tidak tahu apa -apa soal Arsy. Mereka hanya berteman selama berada di Kampus saja. Bahkan keduanya tidak pernah berbalas chat walaupun sudah bertukar nomor ponsel.
__ADS_1
"Maaf Kak. Mega gak tahu soal itu," ucap Mega jujur.
"Ohh ... Oke kalau begitu," ucap Rosa pada Mega.