Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
S2.CPA.47


__ADS_3

Emil masih berada di kantor polisi. Semalaman ia di BAP dengan tiga puluh pertanyaan. Tidak hanya itu, di BAP bukan hanya soal kejujuran tapi juga tetap ada gertakan dan intimidasi yang seolah -olah menganggap kesalahan fatal di lakukan oleh Emil tanpa ada rasa belas kasihan.


Emil tertunduk pasrah. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan dari penyidik dengan baik dan lancar. Semua jawabannya selalu mengandung terkaan dan abu -abu karena tidak pasti. Dari gesture tubuh Emil juga selalu membuat penyidik semakin yakin kalau Emil memang terlalu santai dan tidak takut pada apapun.


"Kamu ceritakan semuanya dengan jelas dan detail. Kenapa kamu iseng sama Arsy. Dia junior kamu kan?" tanya penyidik itu denagn sikap tegas.


Emil hanya diam dan menggelengkan kepalanya pelan.


"Say atidak iseng. Saya memang sengaja membuat dia terjatuh. Dia memang junir saya dan saya tidak peduli, kalau akhirnya saya tahu dia adalah istri dari dosen saya sendiri. Intinya saya puas apalagi mendnegar bayikembar itu tidak selamat. Saya bahagia sekali. Seharusnya banyak orang berterima kasih pada saya, terutama Mama saya. Karena saya sudah berhasil membalaskan dendam sakit hati Mama saya," ucap Emil lantang.


"Kenapa kamu sangkut pautkan urusan kamu pribadi dengan keluarga kamu? Lalu kamu balas dendam kesumat kamu pada orang yang sama seklai tak berakitan denagn hidup kamu!" tanay penyidik itu sambil menggebrak meja.


"Intinya saya puas!! Titik!!" ucap Emil singkat dan begitu ketus.


Penyidik itu hanya menggelengkan kepalanya dan pergi dari ruangan itu sambil menarik napas panjang.


"Bisa gila gue!! Ngadepin bocil psikopat gitu!!" umpat penyidik itu kesal.


Di kondisi ini tinggal Arsy sebagai korban yang bisa menentukan nasib Emil. Teddy segera membawa Arsy menuju kantor polisi, setelah sebelumnya Teddy membelikan cemilan kesukaan Arsy yang begitu banyak.


"Kita jadi ke toko boneka kan, Mas?" tanya Arsy yang sedang menggingit cokelat vanila sambil menikmati perjalanan yang sedikit membuat hatinya senang. Mungkin efek cokelat yang membuat mood Arsy menjadi sedikit lebih baik.


"Nanti ya. Mas harus ketemu polisi dulu," ucap Teddy mencoba tetap tenang dan sama sekali tidak menyinggung soal Arsy.


"Po -polisi? Mau apa?" tanya Arsy kembali.


"Ada perlu sebentar?" jawab Teddy tetap tenang.


Arsy mengangguk pelan dan melanjutkan makan cokelatnya. Arsy menatap jalanan yang begitu ramai dan padat denagn kenadaraan bermotor.

__ADS_1


"Mas ...," panggil Arsy lirih.


"Ya ... Kenapa sayang?" jawab Teddy lembut.


"Jalan -jalan yuk? Mau naik kuda, mau naik banana boat, mau seru -seruan," ucap Arsy kemudian melirik ke arah Teddy.


Arsy pikir, Teddy akan marah dengan permintaanya tapi justru keinginan ARsy yang seperti inilah yang di tunggu -tunggu Teddy. Teddy tidak mau memaksa Arsy dan biarkan Arsy sendiri yang memintanya.


"Kok malah senyum -senyum. Arsy serius ini," ucap Arsy kemudian.


"Gak apa -apa. Seneng aja, denger permintaan kamu kali ini. Mas seneng banget," jawab Teddy menatap Arsy sekilas dan kembali fokus menyetir.


Tangan Teddy menarik tangan kiri Arsy dan di genggam erat lalu di cium punggung tangannay dengan penuh kasih sayang yang begitu tulus.


Arsy pun menyandarkan kepalanya di lengan Teddy dan memejamkan sejenak kepalanya merasakan aliran darah di tubuh suaminya yang selalu menguatkan diri Arsy.


"Mau liburan kemana?" tanya Teddy lirih merasakan manjanya istrinya yang sepertinya sudah kembali seperti sedia kala.


Teddy menarik napas panjang. Ternyata istrinya belum bisa melupakan dan mengikhlaskan kedua bayi kembarnya yang telah tiada. Teddy tertegun sejenak. Apa setelah ini ia akan bawa Arsy ke psikiater rekomendasi dokter keluarga tadi malam.


"Kemana saja yang kamu mau. Mas maunya kita berdua saja, tanpa ada siapapun. Kamu mau?" tanya Teddy mencoba merayu Arsy.


"Boleh. Nanti putra sama putri biar sama Bunda ya? Kapan kita berlibur?" tanya Arsy kemudian.


Arsy mendongakkan kepalanya ke atas melihat wajah Teddy dari arah bawah dan menatap rahang keras dan jakun yang bergerak naik turn. Arsy mengecup lembut leher itu dan tiba -tiba saja ia merasa gemas dengan rahang mulus itu.


Teddy menatap ke bawah dan emliaht Arsy tersenyum di bawah.


"Kaget ya? Apa merinding?" tanya Arsy tersenyum nakal pada suaminya. Nampaknya Arsy emmnag sedang ingin menggoda Teddy agar tak fokus menyetir.

__ADS_1


"Dua -duanya sayang. Jangan begitu, Mas lagi nyetir nanti gak fokus malah bahaya," titah Teddy memberikan nasihat pada Arsy.


"Maaf ya sayang," jawab Arsy kemudian tetap bersandar di lengan Teddy dan lama kelamaan malah tertidur pulas. Terlihat dari cokelat putihnya terlepas dari genggamannya.


Teddy meletakkan cokelat itu di atas dasboarg mobil dan membiarkan istrinya tertidur lelap di lengannya.


Tak berselang lama, mobil Teddy sudah sampai di Polres sesuai dengan panggilan untuk Arsy tepat jam sebelas siang.


Mobil Teddy sudah parkir di halaman parkir polres dan segera membangunkan Arsy dari tidur lelapnya.


"Sayang ... Bangun yuk. Udah samapi kantor polisi, Mas mau masuk ke dalam," ucap Teddy kemudian sambil menepuk pipi gembil Arsy yang semakin terlihat agak tirus.


"Ekhemmmm ... Mau masuk ya? Arsy ikut apa tunggu di mobil?" tanya Arsy lirih sambil mengucek kedua matanya melihat keadaan di sekitar.


"Seharusnya ya ikut masuk. Kan sebagai istri harus nemenin Mas," ucap Teddy berharap Arsy mau ikut masuk bersamanya.


"Oke ... Tapi, Arsy laper. Ada pempek gak sih? Pengen pempek," ucap Arsy kemudian.


"Gak tahu deh. Mau ke kantin dulu?" tanay Teddy kemudian.


"Boleh. Gak ngerepoton kan?" tanya Arsy kemudian.


"Gak lah. Buat istri apapun itu adalah berkah bukan malaah negrepotin. Yuk, turun," titah Teddy kemudian lalu turun dari mobilnya.


Arsy sudah turun dan menyelempangakn tas hitam kecil di bahunya sambil menunggu Teddy.


Karena waktu masih menunjukkan pukul sepuluh pagi, Teddy masih bisa mengajak Arsy makan dan menunggu Mega dan Rossa yang juga akan hadir sebagai saksi.


Teman -teman satu genk Emil juga di jadikan saksi dan beberapa sudah di drop out karena perlakuan ini di anggap seperti pembuhuna bernecana terhadap bayi Arsy.

__ADS_1


Kemungkinan besar juga, Emil akan di masukkan ke adalam sel tahanan dan merasakan dinginnya dinding dingin itu. Emil juga di masukkan ke ruang khusus untuk mendapatkan bimbingan psikiater agar bisa menghilangkan dendamnya.


__ADS_2