Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
ARSY JATUH


__ADS_3

Satu minggu berlalu. Hubungan Teddy dan Arsy semakin lebih baik. Obrolan dan komunikasi mereka semakin intens layaknya pasangan suami istri yang sedang di mabuk cinta. Merka bercanda, tertawa bersama dan merasakan kasih sayang yang ada di dalam hati mereka untuk pasangannya. Benih -benih cinta pun semakin tumbuh subur dalam kehiduapn berumah tangga mereka yang masih seumur jagunga.


Lama -lama Arsy pun terbiasa dengan perjalanan rumah tangga yang tersembunyi. Arsy mulai asyik dengan rasa cintanya yang terus di pupuk untuk suaminya.


Tidak di rumah dan tidak di sekolah, sikap Arsy semakin manja dan sellau ingin di perhatikan oleh Teddy. Begitu pun di kelas, Tedy tidak boleh menatap murid perempuan di kelas Arsy.


Pernah suatu hari, Teddy sedang menerangkan tentang golongan darah manusia dengan rhesusnya. Tanpa sengaja Teddy menatap ke arah Siska, siswi yang tergila -gila pada dirinya dan melepmpar satu petanyaan. Arsy yang mengetahui langsung mengangkat tangannya dan menjawab dnegan lantang. Terakhirnya, Arsy hanya bilang. Kalau kasih pertanyaan jangan pilih -pilh dong, Pak. Mentang -mentang Siska cantik di lihati terus. Begitu cara Arsy mengungkap ketidak sukaannya pada Teddy. Sampai kadang -kadang Wulan menyenggol Arsy untuk tidak keterlaluan menghujat Teddy. Biar bagaiamana pun juga. Teddy juga harus bersikap profesional. Mungkin di rumah, Teddy milik Arsy seutuhnya dan di sekolah Teddy adalah guru, dan milik semua muridnya.


"Loe sekarang cemburuan banget sih? Udah jtuh cinta ya? Karma kan loe?" ucap Wulan berbisik sambil mengaduk -aduk baksonya agar tercampur bumbunya menjadi satu.


"Gak. Biasa aja," jawab Arsy sambil mengunyah bakso urat yang begitu pedas. Hingga wajahnya memerah dan hidungnya terus meler karen kepedesan.


"Gak. Loe itu beda," ucap Wulan tak mau kalh.


"Ya, Gue gak suka aja lihat Pak Teddy terlihat akrab dengan murid perempuan. Rasanya mau nampol," ucap Arsy kesal.


"Yaelah. Loe aja sama Tono gitu. Gak ada Bismo, Tono pun jadi," ucap Wulan menuduh.


"Enak aja. Gak lah. Arsy kan harus profesional. Gak ada tuh rasa yang gimana sama Tono, biasa aja. Emang dia ganteng, tapi ...." ucapan Arsy langsung terhenti. Ia mengatupkan dua bibirnya hingga menutup.


Tono tiba -tiba datang dan duudk di sebelah Arsy sambil membawa nasi soto surabaya lengkap dengan sate telur puyuh, sate ati ayam, dan sate usus. Tidak lupa mendoan dengan piring terpisah. Arsy hanya menatap makanan yang cukup banyak di awa menggunakan nampan keil dan di letakkan di meja.


"Wah ... Lagi ghibah serius ya? Awas jngan ghibahin gue," ucap Tono pelan sambil mngedipkan satu matanya pada Arsy hingga membuat Arsy sedikit gugup.


"Santuy aja kali. Kita gak ada ngobrolin loe. Jadi gak usah kepedean," ucap Wulan pelan. Wulan pun melanjutkan makan baksonya.


Arsy malah sama sekali tak menjawab dan tetap fokus dengan baksonya. Sejak kejadian di gudang itu dan mengetahui sisi gelap Tono, Arsy mulai menjaga jarak. Bukan takut karenaa akan terkontaminasi dengan pergaulan yang tidak benar. Tapi, Arsy lebih ingin menjaga diri agar ia dan bayinya tidak berada dalam bahaya.


"Mau telur puyuh, Sayang?" tanya Tono dengan santai memanggil sayang kepada Arsy.


"Gila loe? Berani bilang sayang ke Arsy. Loe gak tahu, dia udah punya pawang?" teriak Wulan yang mulai emosi.


"Pak Teddy? Gue gak takut bersaing sama Pak Teddy,' ucap Tono santai.


"Gila loe," ucap Wulan kesal.


Arsy tak menanggapi. Ia sekarang lebih memilih bodo amat dengan semua yang terjadi.


"Diem aja sih? Sakit gigi?" tanya Tono dengan pelan. Ia mengaduk -aduk nasi soto yang sudah di campur jeruk nipis dan sambal serta sedikit kecap manis.


"Makan ya makan aja. Gak usah banyak omong," ucap Arsy geram.

__ADS_1


Arsy menghabiskan baksonya dan membuka susu kotak bekalnya. Teddy selalu menyuruh Arsy untuk selalu konsumsi susu kotak. Walaupun, tidak bisa minum susu hamil kalau di sekolah setidaknya ada susu alin yang masih bisa di konsumsi.


"Loe kenapa? Biasanya kalau ketemu di aula loe gak begini. Tapi kalau ada temen loe ini, loe jadi ketus gini?" tanya Tono menatap Arsy.


Arsy cuma diam. Ia langsung bangkit berdiri dan mengajak Wulan.


"Ayo Lan," titah Arsy pelan.


Jujur, Arsy sudah malas dengan Tono. Kalau bukan urusan drama perpisahan. Arsy sudah malas berkomunikasi. Ia sudah mengingatkan untuk berhenti memakai barang haram itu, namun Tono tak bisa merealisasikan itu semua.


"Gue cinta sama Loe, Sy. Gue udah berhenti, makanya gue mau loe jadi pacar gue," suara Tono begitu keras dan lantang mengungkapkan perasaannya kepada Arsy. Seluruh murid satu sekolah yang ada di kantin itu pun sejenak terdiam menatap Tono dan Arsy, lalu berteriak ricuh agar Arsy mau menerima cinta Tono.


"Gila tuh cowok. Berani banget nembak loe. Dia udah berhenti apa, Sy? Loe tahu sesuatu tentang dia?" tanya Wulan pelan.


"Biarin saja," jawab Arsy ketus. Ia tetap berjalan ke arah anak tangga menuju ruang kelasnya.


Merasa ucapannya di abaikan Tono pun bangkit berdiri dan bergegas berlari ke arah ARsy dan menarik tangan gadis itu yang sudah menaiki dua anak tangga hingga Arsy teratuh terduduk hingga di lantai paling bawah. Tubuhnya terasa sakit, begitu juga perutnya yang terguncang hebat tadi hingga terasa nyesek di bagian ulu hati.


"Arsy!!" teriak Wulan yang langsung turun untuk mmebantu Arsy.


Wulan berdiri tepat di depan Tono dan mendorong lelaki itu dengan berani dan menampar satu kali pipi lelaki itu yang juga kaget melihat Arsy seperti orang kesakitan.


"Inget!! Kalau sesuatu terjadi sama Arsy, loe adalah orang pertama yang harus bertanggung jawab!! Gue gak main -main soal ini," ucap Wulan dengan suaa keras.


"Kamu bisa Sy? Atau aku cari Pak Teddy buat bantu amu?" tanya Wulan berisik.


"Jangan Lan. Arsy kua. Bantu ARsy berdiri dan ke kelas ya? Jangan bilang soal ini dengan Pak Teddy," ucap Arsy pelan.


"Sy. Maafin gue ya? Mana yang sakit, biar gue obati. Gue nyesel banget, niat gue cuma manggil loe, malah jadi bencana," ucap Tono dengan nada melemah.


Arsy tak mau memperanjang masalahnya. Ia berjanji untuk tidak kontak komunikasi, kontak fisik juga dnegan Tono. Rasanya ingin pulang saja kalau seperti ini.


Wulan memegang Arsy dan berjalan menuju ruang kelasnnya. Sesekali Arsy meringis dengan hebat atas apa yang di rasakan di dalam perutnya.


"Perut loe sakit?" tanya Wulan cemas.


"Sedikit Lan," ucap Arsy pelan.


"Istirahat di UKS aja ya?" pinta Wulan menyarankan.


"Gak Lan. Arsy sudah banyak ketinggalan pelajaran. Arsy kuat kok," jawab Arsy pelan.

__ADS_1


Arsy sudah duduk di kursibelajarnya. Kepalanya ia letakkan di tangan yang di rebahkan di meja.


"Gue bilang sama Pak Teddy ya?" ucap Wulan yang panik.


Wulan takut sesuatu terjadi dengan Arsy. Tidak main -main jatuh dari dua anak tangga dengan paksa karena tidak seimbang.


Wulan sudah berdiri dan akan keluar kelas menuju ruang guru.


"Jangan lan. Hari ini, Pak Teddy mau pergi ke luar kota. Rumah sakit itu impiannya, Arsy gak mau membuat Pak Teddy dilema. Arsy hanya ingin Pak Teddy bisa mewujudkan mimpi -mimpinya yang sudah ia cita -citakan sejak lama. Arsy mohon jangan bilang apa -apa soal ini. Ars kuat kok," ucap Arsy pelan.


Arsy menahan rasa sakit di perutnya. Rasanya seperti di remas -remas dan ****** ******** terasa basah. Sesekai Arsy melihat kakinya, kala u saja ada darah mengalir seperti yang terjadi pada Wulan saat itu. Selama darah tidak mengalir di paha dan kakinya itu berarti aman dan tidak terjadi pendarahan. Karena yang ARsy tahu dari edukasi. Hamil muda itu masih riskan dn beresiko tinggi. Tidak bisa siap dengan guncangan hebat dan bisa mengakibatkan keguguran.


"Apa? Pak Teddy mau pergi? Loe tinggal sendiri?" tanya Wulan pelan.


"Gak. Arsy ikut Mama Tina. Tadi malam kita sudah pindah kesana. Mulai malam ini, Arsy akan tinggal di rumah Mama Tina. Mas Teddy ingin Arsy ada yang jaga," ucap Arsy pelan.


"Iya sudah. Tapi kalau ada apa -apa, loe mesti hubungin gue, Sy. Gue gak mau sesuatu terjadi sama bayi loe," ucap Wulan pelan.


"Siap Lan. Arsy janji," ucap Arsy pelan.


Tidak lama, Tono masuk ke dalam kelas. Ia langsung menghampiri Arsy dan meminta maaf untuk kedua kalinya. Ia benar -benra merasa bersalah sekali dan menyesali semua kelakuan konyolnya tadi.


"Sy ... Maafin gue ya. Gue mau ngurusin loe, gue mau loe jadi pacar gue," ucap Tono pelan.


Arsy hanya tersenyum kecut.


"Arsy bukan perempuan baik. Lagi pula kita juga masih SMA, ngapain juga mikirin cinta -cintaan. Lebih baik kita fokus sama ujian nasional sebentar lagi," ucap Arsy mengingatkn.


"Loe itu motivasi gue. Lo itu penyemangat gue. Gue berhenti karena loe. Lo spesial banget buat gue," ucap Tono lirih.


"Sudahlah. Jangan bahas itu lagi. Kamu tahu kan? Arsy lagi dekat sama siapa?" tanya Arys kepada Tono.


"Guru sialan itu? Sok muda, gayanya selangit mau dapetin daun muda yang masih belia," ucap Tono nyeplos begitu saja.


PLAK!!


"Jaga bicara kamu, Ton. Arsy pikir kamu itu baik dulu. Ternyata kelakuan asli kamu, seperti ini?" ucap Arsy yang merasa menyesal telah mengenal Tono.


"Sakit Sy. Memangnya gue salah mencintai loe?" tanya Tono dnegan tatapan tajam ke arah Arsy.


"Salah besar!! Loe paham gak sih, Ton. Sejak awal gue udah bilang. Arsy itu sudah tunangan sama Pak Teddy," ucp Wulan dengan keras.

__ADS_1


"Gue gak peduli sebelum janur kuning melengkung," jawab Tono santai.


__ADS_2