Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
17


__ADS_3

Nada menoleh ke arah belakang. Pramono sudah berada tepat di belakang gadis cantik itu dan menyapa Nada dengan suara lembutnya.


"Ka - kamu Pramono kan?" tanya Nada dengan jujur. Nada ingat betul dengan Pramono, suami pura - puranya.


"Mbak Nada kenal saya?" Pramono malah bertanya balik kepada Nada karena bingung.


Jujur dalam hati Pramono begitu bahagia, karena gadis idamannya mengenal dirinya bahkan mengetahui namanya dan bisa menyebutkan dengan sangat tepat.


Kini giliran Nada yang malah bingung dengan pertanyaan bodoh Pramono. Gimana Nada tida kenal Pramono, mereka bahkan telah menikah di depan kedua orang tua Pramono. Tatapan Nada seolah menyengat Pramono yang terlihat semakin bingung.


"Maaf Mbak Nada? Apa saya punya salah dengan Mbak Nada? Saya hanya mengantarkan pacar saya Lisa untuk latihan di sini dan tidak bermaksud lain," ucap Pramono yang terlihat gugup saat Nada menatapnya semakin tajam.


"Apa? Pacar? Lisa? Biduan desa itu?" tanya Nada dengan sengit.


'Argh ... Kenapa aku harus cemburu. Biarkan saja mereka berdua pacaran. Lagi pula pernikahan itu hanya pura - pura saja, untuk apa harus aku pertahankan sih?' batin Nada menenangkan dirinya.


"Iya Lisa, biduan desa. Kami merasa sangat terhormat sekali bisa di undang di acara ini dan bertemu langsung dengan super star seperti Mbak Nada," ucap Pramono sopan.


Pramono terlihat beda, sikapnya sangat kaku tidak seperti biasanya. Tatapannya pun terlihat sangat kosong.


"Ohh ya. Selamat ya, akhirnya balikan lagi sama Lisa," ucap Nada polos. Nada berusaha menutupi ras kecewanya. Hanya sedikit, cuma kecewa saja bukan cemburu. Tapi kecewa dan cemburu itu kan bedanya tipis banget apalagi hubungannya dengan seseorang yang sempat berada di si kita, mau itu di sengaja atau tidak, tetap saja ada rasa tak rela untuk melihat kebersamaan dengan yang lain.


Pramono mengernyitkan dahinya. Ia semakin di buat bingung dengan pertanyaan Nada dan sikap Nada yang terlihat sedikit aneh.


"Mbak Nada, saya pacaran sama Lisa itu sudah lama banget. Kita berdua berniat akan menikah" ucap Pramono pelan.


Nada hanya bisa menatap Pramono dengan bingung. Nada baru ingat, kalau sebenarnya ia terlahir baru. Hanya masa lampau yang mengenalnya. Ia hidup sebelum mengenal desa itu, karena tujuannya adalah untuk menolong desa itu agar terbebas dari pelet.

__ADS_1


'Pramono itu perjaka. Berarti aku harus, mendapatkan dia juga. Jangan samapai Pramono menikahi Lisa. Mencari tiga puluh perjaka itu tidak mudah. Lebih baik aku mendekati Pramono yang sudah jelas perjaka, dan menjebaknya,' batin Nada di dalam hatinya.


"Mbak Nada? Sudah dari tadi?" panggil Broto dengan suara pelan. Broto yang sengaja mencari Nada pun, kini sudah berada di depan mata Nada.


"Eh ... Kamu ketua mahasiswa itu? Ekhem Broto ya?" tanya Nada dengan suara lembutnya.


"Iya. Katanya Mbak Nada juga pernah mengenyam pendidikan di univesitas ini? Angkatan berapa?" tanya Broto pelan. Banyak informasi yang ia ketahui hanya saj akebenarannya masih simpang siur.


"Iya betul sekali. Saya masih angkatan baru kok, terus keluar," ucap Nada pelan tanpa ada rasa malu.


"Denger - denger selirnya Pak Arwana ya?" ucap Broto dengan ragu.


Nada menarik napas panjang. Kesal sekali di bilangselirnya Pak Arwana, terkesan memang ada hubungan khusus padahal sama sekali tidak. Kmeungkinan yang menyukai itu Pak Arwanan bukan Nada.


"Jangan mudah percaya gosip kan? Jangan mengurusi hidup saya. Mau latihan atau tidak?" ancam Nada dengan suara pelan.


"Iya." Nada hanya menjawab singkat.


"Pram ... Saya latihan dulu, nanti kalau ada waktu kita bisa makan bareng," ucap Nada kepada Pram dengan pernyataan ajakan.


Bisa kebayang kan, gimana rasanya di ajak pergi apalagi makan bareng sama sang idola? Tentu rasa bahagianya berlipat lipat dari rasa bahagia jika hanya menemani Lisa, kekasihnya itu.


"Iya Mbak Nada. Dengan senang hati," ucap Pramono jujur. Pramono bnera benar tersenyum bahagia, tidak sedikit pun rasa bahagia ini ia sembuyikan.


Siang ini, Nada sudah berlatih bernyanyi di panggung dnegna membawakan satu lagi, dan satu lagu lainnya akan di berikan sebagai surprise. Berbeda dengan Lisa yang hanya di beri kesempatan untuk tapil satu kali saja dengan membawakan lagu yang di inginkan oleh anak - anak mahasiswa sebagai permintaan.


Sejak tadi, sosok Komariah menghilang begitu saja. Entah kemana hantu itu pergi. Tentu saja di sebut hantu, tiba - tiba saja bis adatang dan pergi sesuak hati dan lenyap hilang tanpa berwujud dan berpamitan. Memang cocok dan sama seperti slogan jalangkung, datang tak di jempung dan pulang tak di antar.

__ADS_1


Sudah satu jam lebih, Nada berlatih. Ia kini duduk di salah satu kursi yang telah di sediakanoleh pihak panitia dengan di sajikan beberapa snack untuk mengganjal perutnya yang mulai terasa lapar.


"Ini jus jeruk untukmu," ucap Arwana lirih dari arah belakang Nada sambil meletakkan satu cup jus jeruk untuk Nada.


Nada cukup kaget, jus jeruk itu tepat berada di depan Nada.


"Kenapa harus repot - repot Pak?" tanya Nada pelan.


Nada menoleh ke arah Arwana dan berusaha menampilkan rentetan didi putiha dan berusaha tersenyum manis.


"Saya natar pulang ya? Sekalian makan bareng saya?" pinta Arwana pelan.


"Tapi Pak? Saya kan bersama Komariah? Manajer saya?" jawab Nada pelan sambil mencari cari sosok Koamriah.


"Komariah? Sejak tadi pun kamu sendiri Nada, tidak ada satu pun orang yang berjalan bersama kamu," ucap Arwana pelan.


"Apa? Saya sendiri? Saya datang sam aKomariah Pak?" ucap Nada semakin tegas dan tak mau kalah. Kedua matanya mengedar ke sekeliling. Namun, sosok Komariah memang tak di temukan.


"Permisi Mbak Nada. Kita mau minta foto bareng dan tanda tangannya? Bisa?" tnaya beberapa laki - laki muda yang masih duduk di bangku sekolah. Mereka datang berbondong - bondong hanya ingin bertemu Nada.


Nada menatap satu per satu anak lelaki yang berjajar ke samping untuk memohon bisa foto bersama dirinya. Se - Tenar itu, Nada sekarang? Hingga keberadaannya di cari banyak orang terutama kaum adam.


"Foto bersama saya?" tanya Nada pelan memastikan sambil menunjuk wajahnya dengan jari telunjuknya.


Dengan kompak semuanya menjawab seretak.


"Iya." semua menjawab serempak.

__ADS_1


"Betul Mbak Nada. Kami semua sampai menerobos penjagaan satpam di depan hanya untuk ketemu Mbak Nada, Super star idola kami," ucap salah satu kaum ada yang membawa bunga mawar merah untuk Nada.


__ADS_2