Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
MULAI TERASA


__ADS_3

Semakin lama hubungan Arsy dan Teddy semakin mesra dan intim. Mulai dari hal -hal kecil, Arsy mulai bersikap manja dan sellau ingin di perhatikan. Sifat Teddy yang pada dasarnya dewasa dan mengayomi pun sangat cocok dengan Arsy yang kekanak kanakan.


Arsy yang ceria dan senang sekali tertawa, sangat cocok berdampingan dengan lelaki dewasa yang pendiam dan terkesan dingin serta cuek seperti Teddy.


Tidak hanya keripik kentang saja yang berpindah dari plastik sampai perut, tapi juga ada roti, susu dan cokelat. Mereka lupa kalau mereka itu sedang berada di dalam bis dan di lihat banyak tean -teman satu angkatannya. Serasa hidup mereka hanya berdua dan yang lain hanya bisa menonton dramaa kisah kasih antara murid dan gurunya.


Tersadar banyak mata memangdangnya. Arsy mengatupkan mulutnya dan melirik ke arah kanan. Dalam kegelapan pun tetap terlihat beberapa pasang mata terjaga dan menatap ke arah Arsy dan Teddy seolah sedang mencari pembenaran tentang apa yang mereka lihat.


Tatapan Arsy berpindah ke arah Teddy. Lalu Teddy menyuapkan sisa potongan cokleat yang tersisa ke dalam mulut Arsy. Dengan tenang Arsy pun menerima suapan terakhir itu.


"Mas ...." panggil Arsy saat Teddy meletakkan tas kecil itu ke bawah dekat kursi Arsy.


"Hemm ...." jawab Teddy hanya berdehem.


"Serius ih ...." panggil Arsy kemudian tengah berbisik.


"Apa sih? Masih lapar? Bentar lagi sudah mau makana malam, nanti yang ada kamu gak makan nasi kalau kebanyakan ngemil," ucap Teddy pelan.


"Dari tadi kita di lihatin temen -temen Arsy," ucap Arsy berbisik. Ia mengganti posisi duduknya bersandar pada sandaran jok dengan kaki tetap bersila di atas jok dan area bawah perut sampai kaki tertutup dengan selimut.


"Terus kenapa? Katanya gak malu? Mas kan udah bilang, Mas gak malu. Kalau pun harus mengakui kamu sebagai tunangan Mas pun Mas tidak akan keberatan," ucap Teddy berbisik tegas. Wajahnya memang terlihat sangat serius dan tidak main -main.


"Bukan malu Mas ... Tapi, Arsy kan butuh penyesuaian," ucap Arsy pelan.


"Penyesuaian? Penyesuaian apa?" tanya Teddy pelan.


"Ekhemm ... Sebagai Tunangan Mas lah. Secara Mas kan fans nya juga banyak di sekolah," ucap Arsy mulai kesal sambul melipat kedua tangannya di depan dada.


Perempuan itu memang aneh. Dia yang memancing tapi ujung -ujungnya dia juga ynag marah dan seolah pria lah yang bersalah. Dia yang bilang butuh penyesuaian tapi giliran di turuti seolah keinginannya itu hanyalah pancingan dan di anggap tidak serius.


Teddy merangkul pinggang Arsy dari belakang dan merapatkan duduknya. Tangan kanan Teddy menarik tangan Arsy dan merekatkan jari jemari mereka. Sungguh lucu kalau Arsy sedang merajuk. Kalau bukan di bis mungkin istri labilnya ini cukup di angkat dan di rebahkan di kasur lalu ....


Argh ... Sayangnya ini di bis, jadi tidak bisa melakukan hal -hal di luar dugaan sampai Arsy meminta ampun seperti biasanya.


Teddy pun tersenyum membayangkan.


"Ih ... Senyum - senyum lagi mesum ya?" cicit Arsy lirih. Sejak tadi Arsy menatap Teddy.


Merasa di perhatikan Teddy pun menarik senyuamn di bibirnya dan melipat bibirnya ke arah bawah.


"Senyum dari mana? Ada juga lagi berpikir, kira -kira makan malam ini enaknya makan apa ya?" tanya Teddy berpura -pura berpikir.


Arsy memutar kedua bola matanya malas. Ia tahu Tddy sedang berbohong dan mencari alasan.


"Mau tahu, menu apa yang cocok?" ucap Arsy tiba -tiba.


Mungkin sesekali menggoda Teddy dengan candaan receh tidak akan masalah.


Teddy menatap lekat Arsy, rasanya Teddy tidak yakin dengan pilihan Arsy saat ini.


"Apa?" tanya Teddy lirih.


Kepalanya sengaja agak mendekat ke arah Arsy hingga wangi rambut Arsy beraroma strawberry itu membuat Teddy ingin teru memeluk istri labilnya itu.


"Makan Arsy," jawab Arsy berbisik.


"Kamu lagi menggoda Mas ya?" tanya Teddy pelan.


"Siapa yang meggoda Mas? Gak ada goda Mas. Arsy serius," ucap Arsy dengan wajah menahan tawa.

__ADS_1


"Gak usah memancing Mas, kalau kamu gak mau di pancing," bisik Teddy tepat di telinga Arsy. Seketika ucapan itu membuat tubuh Arsy merinding.


Dengan berani Arsy mendongakkan kepalanya dan cup ...


Bibir Arsy mendarat cepat dan kilat di pipi Teddy. Arsy langsung membenarkan duduknya dan menatap ke arah depan seolah tidak terjadi apa -apa baru saja.


Teddy terkesiap, kedua matanya terus menatap Arsy dengan tatapan tak percaya. Sejak kapan istri labilnya ini pintar menggoda. Dan tidak biasanya melakukan hal ekstrim, apalagi ini di muka publik.


"Berani goda gurunya kena sanksi. Mau?" goda Teddy kemudian.


"Goda gurunya?" tanya Arsy menoleh ke arah Teddy.


Teddy mengangguk kecil.


"Barusan cium -cium tanpa ijin," ucap Teddy yang berniat menggoda Arsy.


"Oh ... Kalu Arsy yang begitu harus ijin? Kalau yang lain tingga di kasih saja, gitu? Memang maunya hubungan ini sekadar hubungan guru dan murid?" tanya Arsy mulai kesal sendiri.


"Lho? Kamu kok nge -gas, Sy. Mas kan cuma ajak kamu bercanda," ucap Teddy merasa bersalah.


"Bercandaannya Mas itu garing," ucap Arsy kesal.


"Hem ... Gitu ya?" jawab Teddy bingung.


"Udah ah ... Arsy mau tidur," ucap Arsy mulai kesal sendiri.


Kedua mata Arsy di pejamkan, dan melepaskan tangan Teddy yang berada d pinggangnya karena mengganjal punggungnya untuk bersadar di sandaran kursi. Kepalanya sudah nyaman berada di lengan Teddy yang kekar.


Dengan posisi tangan Arsy melingka di tangan Teddy dan saling menautkan jari jemarinya. Memang ini adalah posisi ternyaman saat berada di dalam bis. Arsy merasa sangat di perhatikan dan di lindungi.


Selimut tipis itu menutup sebagian tubuh Arsy agar tetap hangat dan nyaman.


"Belum tidur?" tanya Teddy tyang ikut membuka matanya. Ia juga baru sja ingin memejamkan kedua matanya sebentar.


"main tebak -tebakan yuk? Biar gak boring," pinta Arsy lirih.


"Boleh. Siapa yang duluan?" tanya Teddy pelan.


"Arsy duluan ya?" ucap Arsy penuh semangat. Baru saja ia punya ide tebak -tebaan yang menurutnya bagus.


"Oke. Apa itu?" tanya Teddy antusias dan penasran.


"Apa bedanya Borobudur sama Arsy?" tanay Arsy menatap Teddy.


Teddy segera berpikir.


"Kalau bisa jawab? Arsy mau kasih apa buat Mas?" tanay Teddy mulai ingin mengakali Arsy.


"Kok jadi minta apa ke Arsy?" cicit ARsy kesal.


"Ya itu kan suatu bentuk kemenangan Sy. Kalau Mas bisa jawab, Arsy kasih apa kek bua Mas, anak juga boleh," ucap Teddy sambil tersenyum.


"Dih ... Milih minta anak," ucap Arsy kesal.


"Emang gak mau, ngasih anak ke Mas? Kan buatnya enak Sy?" goda Teddy yang sejak tadi memancing dan menjurus -jurus ucapannya.


"His ... jawab dulu. Kalau benar, kita honey moon," jawab Arsy semangat. Ia yakin Teddy tidak akan bisa menjawab tebak -tebakan konyol itu. Secara Teddy itu kan terlalu serius, jadi jiwa candaan recehnya agak kurang.


"Setuju. Honey moonya di Bali, besok," pinta Teddy semangat.

__ADS_1


Teddy memang sudah memesan kamar pribadi sendiri. Ia sengaja memesan kamar untuk menginap berdua dengan Arsy jika malam tiba.


"Di Bali? Besok?" tanya Arsy kemudian.


"Ya. Sambil menyelam minum air," jawab Teddy antusias.


"Oke. Siapa takut," jawab Arsy lantang.


"Ulangi tadi apa pertanyaannya?" tanya Teddy kembali.


"Apa bedanya Borobudur dan Arsy?" tanya Arsy kembali.


"Kalau Borobudur itu Candi, Kalau Arsy Candunya Mas. Bener kan?" jawab Teddy dengan senyum lebar. Ia yakin sekali menang.


Arsy hanya bisa menganga dan menatap lekat Teddy yang terlihat girang.


"Kenapa? Bener kan?" tanya Teddy tersenyum.


"Ah gak seru. Batal. Pasti Mas sudah tahu sebelumnya," ucap Arsy kesal.


Kan ia jadi kalah taruhan. 'Kenapa juga bisa jawab? Kirain gak bisa di ajak bercanda. Ternyata tahu jawabannya,' batin Arsy menggerutu dengan kesal.


"Batal gimana? Perjanjinanya jelas lho, Sy," ucap Teddy yang juga tak terima.


"Satu lagi. Siap?" tanya Arsy pelan.


"Boleh. Siapa takut?" jawab Teddy semangat.


"Awas kalau bisa jawab," ancam Arsy sambil tertawa.


"Lha? Diman -mana bisa jawab itu bagus. Ini malah di ancam. Untung istri Mas," ucap Teddy sambil menoel pipi Arsy.


"Kenapa kalau istri Mas?" tanya Arsy penasaran.


"Tandanya Mas sayang. Jadi kalau di ancam, langsung Mas bawa ke kamar saja," ucap Teddy lembut.


"Yakin sayang?" goda Arsy sambil mengedipkan satu matanya ke arah Teddy.


"Beneran lah. Kalau gak sayang gak Mas nikahi," ucap Teddy singkat.


"Cium dong," pinta Arsy sambil memonyongkan bibirnya dan memejamkan kedua matanya. Ia berada di lengan Teddy dan mendongakkan wajahnya.


"Kamu serius Sy? Minta di cium? Ini di tempat umum? Yakin kamu gak malu?" tanya Teddy mencoba memastikan.


Arsy mengangguk kecil.


"Dua rius. Ngapain bercanda. Noh biar Bu Lina tahu, kalau Mas itu memang sayang sama Arsy," cicit Arsy manja.


Teddy melihat ke sekeliling. Ia takut ini jadi skandal. Tapi, ya sudahlah, memang kenyataannya merek sudah menikah. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Tanpa aba -aba Teddy pun mulai menundukkam kepalanya dan mencium lembut bibir Arsy. Untung kondisi Bis gelap dan jalanan pun pas di tempat yang sepi jadi suasana benar -benar gulita dan sunyi. Teddy mulai terbawa suasana. Kecupan itu berubah ******* kecil yang menggemaskan dan akhir ya menggigit bibir Arsy hingga tanpa sadar Arsy mendesah dan berteriak kecil.


Teddy langsung terduduk dan kaget sambil menggenggam tangan Arsy semakin erat untuk menyadarkan Arsy untuk bersikap tenang.


"Maaf Mas. Kenapa di gigit Arsy kan kaget," cicitnya lirih sambil terus menggelayut manja pada Teddy.


"Gak apa -apa. Mas cuma kaget aja," jawab Teddy pelan.


Sepertinya tidak ada yang menyadari itu. Dan Arsy bisa bernapas lega. Arsy membalas genggaman Teddy dengan erat juga. Benih cinta itu sudah mulai bisa di rasakan oleh Arsy. Kadang kebersamaan bisa membuat mereka merubah kondisi, apalagi keduanya sudah semakin intim. Ikatan batinnya pun akan semakin terasa di keduanya.


Teddy sedikit tegang karena ada rasa malu. Ia takut ada yang menyadari kejadian barusan. Tatapannya kosong ke arah depan.

__ADS_1


__ADS_2