
Hari ini setelah selesai latihan dan gladi bersih, Nada menyerah dan ikut pulang bersama Arwana, rektor dimana Nada dulu menjadi salah satu mahasiswa di dana.
Di dalam mobil, selama perjalanan keduanya saling diam dan kaku. Rasanya bingung ingin memulai suatu tema pembicaraan di antara mereka. Nada memilih diam dan menikmati perjalanannya.
Nada terus saja memegang tusuk konde di dalam genggaman telapak tangannya. Satu hari ini sudah berjalan setengah hari, minimal target Nada satu orang laki - laki bisa ia dapatkan keperjakaannya. Tapi, kalau tidak bertanya mana mungkin Nada bisa tahu?
"Mas ...." panggil Nada dengan suara yang begitu lembut sekali.
Arwana pun menoleh ke arah Nada. Memang ini bukan pertama kali Nada duduk manis di jok mobilnya. Dulu, sewaktu Nada masih kuliah, Nada sering sekali menumpang di dalam mobilnya hingga Arwana memang terpesona dengan Nada. Bukan akal - akalan atau hanya untuk main - main saja. Arwana jatuh cinta kepada Nada.
"Ya? Mau makan kan? Ini Mas lagi cari tempat yang enak," ucap Arwana pelan dengan senyum sumringah bahagia.
"Cuma mau makan aja, Mas?" Nada mulai memberanikan diri untuk berbicara yang sedikit mengarah nakal. Wajah cantiknya tentu sangat menggemaskan ketika suaranya terdengar manja.
Arwana cukup kaget dengan pertanyaan Nada yang terakhir yang begitu terlihat menggoda dirinya. Sampai - sampai Arwana memberhentikan laju mobilnya dan menatap lekat ke arah Nada
"Apa maksud kamu, Nada? Apa pertanyaan kamu itu ingin membuat Mas tergoda?" tanya Arwana dengan rasa percaya diri yang begitu tinggi.
Arwana beranggapan Nada pun memiliki perasaan yang sama seperti dia.
"Ekhem ... Maksud Nada ..." suara Nada terdengar gugup dan terputus. Nada tak melanjutkan ucapannya. Jika, mengikuti isi hatinya, tentu Nada tidak mau melakukan ini. Tapi bayangan tubuhnya yang terbaring lemas seolah tinggal menunggu ajal pun membuat Nada semakin merinding tak karuan.
"Kamu kenapa, Nada? tanya Arwana yang semakin bingung dengan sikap Nada yang semakin terlihat gugup dan aneh.
__ADS_1
"jadi gini Mas Arwana. Selama ini Mas Arwana itu menganggap Nada itu sebagai apa?" tanya nada dengan suara pelan.
"Sebagai apa? Mas malah semakin gak paham sama ucapan kamu," ucap Arwana yang semakin bingung. Jantungnya malah ikut - ikutan berdegup dengan kencang seolah berlomba lomba membuat hainya semakin panik dan cemas akan perasaannya sendiri.
"Kita dekat lho Mas?" tanya Nada kemudian semakin memancing Arwana untuk masuk dalam perangkap jebakanya.
""Iya dekat. Terus? Kamu kok jadi aneh, Nada? Bukankah dulu kamu yang selallu menghindari Mas. Lalu, Kamu juga yang selalu mengingatkan saya untuk tidak memainkan perasaan Mas lebih dalam lagi. Karena hubungan kita sebatas pekerjaan, dan kita harus profesional hingga kamu sekarang menjadi biduan terkenal seantero jagat raya. Tapi, kedatangan kamu kembali seolah ingin menguji Mas? Kalau boleh jujur, Mas sangat mencintai kamu," ucap Arwana dengan jujur.
"Mas serius? Tapi kan Mas itu duda? Ini yang membuat Nada merasa rugi," ucap Nada mulai memancing Arwana agar membuka kehidupannya.
"Rugi? Apa maksudmu Nada? Apa yang membuatmu rugi?" tanya Arwana mengernyitkan dahinya semakin tidak paham dengan ucapan Nada.
"Ya ... Rugi. Nada masih perawan, dan Mas Arwana sudah duda. Tentu, Nada tidak bisa merasakan keperjakaan dong," ucap Nada sabil terkekeh. Rasanya malu mengungkapkan hal itu sambil memancing Arwana.
Nada menoleh ke arah Arwana dan menatap lelaki berkumis tipis dan sama sekali tidak tampan. Nada merubah cara duduknya dengan sedikit miring menghadap ke arah Arwana dengan satu kaki menopang ke satu kakinya yang lain.
Nada berusaha menyimpan rasa ingin tertawanya di dalam hati. Dirinya benar - benar seperti orang gila mengemis cinta agar para lelaki yang masih perjaka itu benar -benar menginginkan Nada.
"Mas Arwana yakin? Masih perjaka? Mas Arwana sedang tidak bohong kan? Sedang tidak ingin mengambil kesempatan yang ada?" tanya Nada yang berpura - pura tidak ingin di bohongi.
"Sama sekali tidak. Untuk apa, Mas berbohong? Kalau pun kamu mau, Mas bisa bersumpah atas nama Tuhan," ucap Arwana menegaskan.
"Oh ... Tidak perlu Mas. Tidak perlu sampai bersumpah segala. Nada percaya," ucap NAda yang merasa geli sendiri.
__ADS_1
"Kita makan di hotel? Gimana?" tnya Arwna yang langsung pada intinya. Kesempatan emas bisa berduaan denagn Nada tidak mungkin di lepaskan begitu saja.
Apalagi Arwana sudah menyukai Nada sejak lama. Tidak mungkin pernyataan NAda yang sudah sedikit mengarah ini harus di belokkan ke jalna yang benar.
Arwana menoleh sekilas kepada Nada yang tersenyum manis. wajhanya seketika terlihat berbeda dari Nada sesungguhnya. Ada wajah berkeriput di sana dengan rambut putih yang tergelung dengan konde. Arwana langsung memberhentikan laju mobilnya dengan menginjak rem sangat dalam. Hingga mobil yang di tumpanginya pun mengeluarkan bunyi decitan yang sangat keras. Nada pun hampir saja menubruk dashboard di depannya.
"Argh ...." teriak Nada dengan suara yang sangat keras.
"Maaf Nada. Mas tidak bermaksud ingin mencelakaimu. Tapi ...." ucapan Arwana terhenti dan menatap ke arah depan jalan sambil menarik napas dalam. Arwana benar - benar syok sekali. Apa yang di lihatnya tadi benar - benar nyata dan jelas di depan matanya. Nada berubah menjadi seorang nenek tua yang berkeriput.
"Tapi apa?" tanya Nada yang ikut panik. Nada menatap lekat ke arah Arwana yang masih dalam keadaan syok berat. Kedua tangan Arwana masih memegangi bundaran setir di depannya dan sesekali menarik napas panjang lalu perlahan di keluarkan agar jatungnya tidak lagi berdegup dengan keras dan rasa sesak itu bisa hilang perlahan.
"Tidak apa - apa Nada," jawab Arwana pelan sambil menatap Nada lagi. Arwana meyakinkan dirinya kembali dan menatap lagi ke arah Nada.
"Apa sih? Katakan saja, Mas?" tanya Nada pelan yang jugaikut bingung menatap Arwana yang semakin pucat.
"Nada ... Jawab jujur. Apa kamu memakai sesuatu?" tanya Arwana pelan.
Nada menatap lekat ke arah kedua mata Arwana. Ia bingung dengan pertanyaan aneh Arwana seolah telah melihat sesuatu yang menakutkan.
"Mas Arwana sakit? Kita ke hotel saja, tidak apa - apa. Nanti biar Nada yang merawat Mas Arwana atau Mas Arwana mau Nada pijat?" ucap Nada pelan.
"Heh ...." hembusan napas Arwana terdengar sangat kasar. Arwana masih tidak percaya dengan penglihatannya baru saja.
__ADS_1
"Mas? Mas Arwana?" panggil Nada dengan lembut sambil mengusap lengan Arwana. Seluruh tubuh Arwana terasa bergetar. Sentuhan lembut Nada membuat semua organ tubuhnya mulai bergerak dan berjalan sesuai fungsinya masing - masing.