Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
S2.CPA.20


__ADS_3

"Mas!! Mas Teddy!! Mas Teddy belum selesai makannya lho," panggil Arsy denagn suara keras namun panggilan itu tak di hiraukan sama sekali oelh suaminya.


Arsy terpaksa menyelesaikan makan malamnya sendiri lalu mencuci piring bekas makanan itu dan masuk ke dalam ruang tengah sambil membawa kopi hitam agar Teddy tidak marah lagi pada dirinya.


"Kopinya Mas," ucap Arsy lembut lalu meletakkan kopi itu di meja.


Arsy duduk dengan santai dengan punggung bersandar nyaman pada sandaran sofa yang empuk.


Teddy melirik sekilas dan menatap kopi hitam yang di buat Arsy. Sudah lama Arsy tak membuatkan kopi untuk Teddy. Bukan Arsy tidak mau, tapi memang Teddy tidak memperboelhkan Arsy untuk berada di dapur terlalu lama di usian kandungan yang mulai besar ini. Teddy begitu menjaga kandungan Arsy agar tidak terjadi sesuatu apapun.


Tatapan Arsy fokus pada layar televisi di depan yang mempertontonkan tari india yang sangat gemulai.


"Di minum ya, sayang," ucap Teddy yang tak bisa menolak dengan wangi kopi buatan Arsy.


"Iya Mas," jawab Arsy lembut sambil membukakan toples yang ada di sana. Setiap weekend, Teddy selalu mengajak Arsy untuk pergi berbelanja. Selain memang mengajak istrinya untuk berjalan -jalan dan makan siang bersama, Teddy selalu menyempatkan ke supermarket untuk mengisi lemari makanan, lemari es dan membeli cemilan untuk mengisi toples di ruang tengah dan di ruang tamu.

__ADS_1


Arsy menatap Teddy yang terlihat begitu menikmati kopi hitam buatannya.


"Enak Mas?" tanya Arsy dengan senyum manisnya yang etrus memancarkan kebahagiaan.


"Enak. Enak banget. Rasanya pas banget, gak manis dan gak begitu pahit," ucap Teddy sambil mengangguk kecil.


"Coba ini Mas. Ini cemilan juga enak banget," pinta Arsy sambil memberikan satu cemilan renyah ke dalam mulut Teddy yang sudah membuka menerima cemilan itu.


Arsy rindu dengan waktu seperti ini. Biasanya Teddy sibuk di depan layar laptopnya dan mengabaikan dirinya hingga Arsy sendiri terlelap dalam tidur.


"Enak banget sih. Ini kue apa? Mas baru coba lho. Mas kan gak suka ngemil," ucap Teddy menatap makanan yang ada di tolpes itu.


Teddy mengunyah sambil menganggukkan kepalanya.


"Mas masih marah?" tanya Arsy pelan masih menyuapi Teddy.

__ADS_1


Teddy hanya menarik napas dalam lalu menggelengkan kepalanya dengan pelan.


"Gak marah sayang. Maaf ya, kalau sikap Mas sudah buat kamu kecewa tadi. Kamu sudah makan kan?" tanya Teddy lembut sambil mengusap perut Arsy yang nampak bulat seperti bola.


"Sudah Mas. Arsy gak apa -apa. Arsy yang malah seharusnya minta maaf sama Mas, karena tidak jujur karena keegoisan Arsy," ucap Arsy lembut dengan kedua tanagn memegang pipi Teddy yaang terlihat semakin tirus.


Teddy memegang kedua tangan Arsy yang berada di pipinya dan mencium kedua punggung tangan itu dengan penuh cinta.


"Gak ada salah Sy. Kita hanya terlalu cemas dengan pasangan kita masing -masing. Mas cemas dan khawatir sama kamu bila tidak sedang bersama Mas. Tapi di sisi lain, kamu pasti mencemaskan nama baik Mas dan diri kamu sendiri. Secepatnya kita harsu mempublikasikan hubungan kita, Arsy. Biar tidak ada yang salah paham," titah Teddy kemudian.


Arsy menutup bibir Teddy dengan telunjuknya.


"Arsy gak mau bahas ini Mas. Ke depan yuk? Arsy kok pengen makan lontong sate madura yang lewat di depan rumah sebentar lagi," pinta Arsy manja.


"Kamu masih laper sayang?" tanya Teddy pada istrinya.

__ADS_1


"Masih. Padahal tadi di belakang supnya Arsy habiskan," ucap Arsy yang memang sedangdoyan makan.


"Ya udah yuk duduk di depan, kita atunggu tukang satenya," titah Teddy terkekeh sendiri melihat nafsu makan istrinya yang begitu terlihat menyenangkan sekali.


__ADS_2