
Teddy harus lebih bersabar menghadapi sikap Arsy yang keras kepala, labil dan kekanak -kanakkan. Berulang kali, Teddy hanya bisa menghela napas panjangnya, dan berusaha menenangkan hatinya.
Sambil menunggu semua makanan itu di bungkus Teddy hanya diam menatap Arsy yang masih nampak marah dan kesal. Ia bangkit berdiri untuk membayar semu tagihan makanan malam ini.
"Sudah. Yuk pulang. Kita mampir ke mini market. Kamu mau beli apa untuk besok," ucap Teddy pelan sambil membawa semua kantong plastik berisi makanan yang sama seklai tak di sentuh oleh Arsy.
"Jadi ke rumah Wulan?" tanya Teddy pelan saat masuk ke dalam mobil.
Jangan samapi di salahkan lagi karena tidak menawarkan ingin kemana atau mau pergi kemana.
"Jadi." jawab Arsy singkat.
Teddy pun hanya mengangguk kecil lalu melajukan mobilnya menuju rumah Wulan.
Skip ...
Arsy dan Teddy sudah berada di dalam rumah Wulan. Ditemani oleh Mamanya Wulan dan Wulan sendiri yang duduk besama di ruang tamu yang kecil tapi begitu hangat dan nyaman.
"Oh ... Jadi ini suami Arsy?" tanya Mamanya aWulan pelan.
"Iya Ma. Ganteng gak?" tanya Arsy yang berpura -pura terlihat bahagia.
Teddy pun langsung menoleh ke arah Arsy. Ia tak yakin istri labilnya itu bisa merubah mood hatinya seketika. Karena yang sudah -sudah jika Arsy merajuk harus di rayu dengan sejuta gombalan dan traktiran. Itu pun kadang tidak berhasil.
"Ganteng banget. Laki -laki begini, harsu di pertahankan," bisik Mamanya Wulan pelan kepada Arsy.
"Masa sih Ma." tanya Arsy penasaran.
Teddy langsung menyenggol paha Arsy menggunakan tangnanya. Ia hanya tidak ingin Arsy membicarakan dirinya kepada Mamanya Wulan. Kedua mata Teddy melotot dan mengedip. Kode keras itu segera di pahami oleh Arsy.
__ADS_1
"Ma ... Lan ... Ini ada sedikit makanan buat kalian. Terus kapan rencana menikahnya?" tanya Arsy pelan.
"Lan ... Bawa Arsy ke kamar dulu. Mama ma bicar dengan Pak Teddy sebentar," titah Mama Wulan pelan.
"Iya Ma. Yuk Sy, bantu aku beres -beres baju untuk besok," ajak Wulan pelan.
"Ayuk." jawab Arsy singkat dan mnegangguk kecil ke arah Teddy.
Hatinya sudah memaafkan kejadian tadi. Kadang berpura -pura masih marah kan tidak masalah. Arsy dan Wulan sudah berada di kamar. Keduanya mulai melepar pertanyaan.
"Kamu gak jadi nikah, Lan?" tanay Arsy pelan.
"Jadi Sy. Bismo kan lagi cari kerjaan untuk ei mahar dan sebagainya. Lagi pula kan posisi aku juga lagi hamil, kata Mama gak boleh di nikahin," ucap Wulan pelan sambil membuka koper dan memasukkan beberapa pakaan yang sudah ia pilih sejak sore dn tinggal merapikan ke dalam koper.
"Bismo kerja di cafe kan? Tadi, Arsy ketemu," ucap Arsy menjelaskan.
Wulan mengangguk kecil. Kedua matanya basah.
"Terus? Pernikahan kalian?" tanya Arsy penasaran. Hatinya ikut terenyuh mendengar kisah Wulan dan Bismo.
"Minggu depan setelah dari Bali, sy. Itu juga kita buat kontrak pernikahan. Kamu tahu kan Sy. Bismo itu masih sayang sama kamu, dia beum bisa move on dari kamu, Sy. Lagi pula, kalau bukan karena kejadian ini, kita juga gak mungkin bersatu. Aku sendiri gak ada rasa sama Bismo, dan begitu sebaliknya Bismo juga gak ada rasa sama aku. Masa iya menikah tanpa ada rasa? Ini semua hanya untuk menyelamatkan bayi ini agar lahir ada Bapaknya," ucap Wulan menjelaskan.
Arsy langsung memeluk Wulan. Ia tahu sekarang. Betapa beratnya beban yang sebenarnya sedang di alami oleh Wulan. Tentu tidak mudah berada di posisi Wulan saaat ini. Ia menanggung beban dan mimpi buruk untuk masa depannya. Untung saja Wulan kuat dan tidak trauma atau gila karena masalah ini.
"Arsy tahu Lan. Cobaan ini pasti berat. Arsy akan selalu ada buat Wulan," ucap Arsy pelan.
Wulan membalas pelukan itu dengan erat. Ia tak bisa membayangkan jika ia berada di sekeliling orang -orang yang tidak peduli dengan dirinya. Untung saja, di sekelilingnya ada Mamanya, seorang wanita yang tangguh dan kuat. Ada Arsy yang selalu memberikan ketulusan sebagai sahabat, dan kini ada Bismo yang peduli pada kehamilannya.
"Minggu dpean rencana hanya akad saja, Sy. Itu juga di penjara, karena Ayah tidak dapat ijin untuk keluar dari lapas. Paling tidak hanya SAH saja dulu. Jujur, aku sama Bismo belum siap menikah. Apalagi Bismo harus keluar dari rumahnya dan akan di coret namanya dari kartu keluarga kalau benar nekat menikahi aku karena terallau muda," ucap Wulan pelan.
__ADS_1
"Terus? Bismo tetap memilih kamu kan?" tanya ARsy pelan.
Wulan mengangguk kecil.
"Aku sudah bilang. Untuk memikirkan lagi. Kalau masalah kehamilan, mungkin Bismo bisa bantu aku dalam hal keuangan saja tidak masalah," jelas Wulan.
"Isi kontrak itu apa?" tanya Arsy mulai penasaran.
"Bismo hanya menikahi aku dan ia akan tetap tinggal bersama orang tuanya agar tidak terjadi gap. Lalu, semua biaya hidup aku dan bayi ini akan menjadi tanggungan Bismo selama pernikahan itu masih berlangsung," ucap Wulan pelan.
"Sabar ya, Lan," ucap Arsy pelan.
Keduanya hanya bisa saling memeluk dan memberikan semangat saja. Entah solusi apa yang bisa menyelesaikan semuanya.
Di ruang tamu. Mama Wulan sedang berusaha meminta tolong secara pribadi kepada Teddy.
"Mungkin Bapak sudah tahu, apa yang terjadi dengan anak saya. Saya hanya ingin Wulan bisa menyelesaikan sekolahnya dan mengikuti ujian akhir yang hana tinggal beberapa bulan saja. Kira - kira bagaimana?" tanya Mamanya Wulan lirih.
Sebagai orang tua, Mamanya Wulan juga masih berharap anak perempuannya bisa sukses dan menggapai cita -citanya di masa depan. Walaupun saat ini Wulan harus mneerima kenyataan pahit karena hamil dan harus menjadi ibu muda.
"Saya sudah sampaikan hal ini pada Bismo. Bahwa saya akan membantu Bismo dan Wulan sebisa saya. Tapi kita perlu kolaborasi yang bisa saling menyimpan rahasia besar ini. Untuk itu saya sarankan Wulan memakai pakaian yang agak longgar dan sebia mungkin untuk menutupi kehamilannya," jelas Teddy kepada Mamanya Wulan.
"Terima kasih Pak. Wulan itu anak yang pintar dan cerdas. Cita -citanya juga sangat tinggi. Ia ingin sekali menjadi seorang dokter. Tapi, epertinya mimpi itu harsu di pupusakan untu sementara waktu selama Ayah Wulan berada di penjara. Buat makan saja, kita juga kesulitan," ucap Mamanya Wulan pelan.
"Kalau memungkinkan Wulan bisa ambil beasiswa dari sekolah. Nanti biar saya bantu," ucap Teddy menyanggupi untuk memberikan beasiswa bagi siswa teladan di sekolahnya.
Waktu semakin larut. Semua tujuan dari perbincangan ini juga sudah mendapatkan titik temu. Arsy dan Tedy berpamitan pulang, dan kembali ke apartemen.
"Mas ...." panggil Arsy pelan.
__ADS_1
"Ya ...." jawab Teddy singkat.
"Memang benar kata Bu Lina? Mas itu dokter?" tanya Arsy pelan. Wajahnya menatap lekat wajah Teddy yang duduk di sampingnya.