Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
DIA CALON KAMU


__ADS_3

Arsy memberhentikan aktivitasnya dan menumpuk beberapa pakaian dalam yang dipilihnya di pahanya. Pertanyaan Teddy membuatnya lupa sesuatu.


"Menikah Mas. Tapi bilangnya waktu itu minggu depan. Itu tandanya hari ini. Tapi Wulan gak bilang apa -apa. Nanti kita mampir ke rumah Wulan sebentar, bisa Mas?" tanya ARsy pelan.


"Bisa. Nanti setelah makan malam kita mampr ke sana. Mama juga minta kita main ke rumah Sy. Kita sudah lama gak main ke rumah," ucap Teddy pelan.


"Memang waktunya cukup? Belum belanja?" tanya Arsy pelan.


"Mampir sebentar saja ya. Gak enak, Mama tadi sampai telepon," ucap Teddy pelan.


Teddy memainkan ponselnya dan membaca beberapa pesan singkat yang masuk baru saja. Salah satunya dari Bu Lina. Guru bahasa indonesia itu masih berusaha untuk terus mendekati rekan sesama guru yang di anggap terbaik untuk menjadi pasangan hidupnya.


Dari kejauhan Arsy melirik mimik wajah Teddy saat membaca pesan singkat yang masuk ke ponselnya. Dahinya mengernyit seperti malas membaca pesan itu.


Arsy menutup kopernya. Semua pakaian dan handuk yang akan di bawa untuk study tour ke Bali besok sudah selesai. Tas kecil berisi make up dan alat mandi pun sudah rapi tertata di dalam tas. Ia mengambil cardigan dan memakainya agar terlihat lebih manis. Rambutnya di kuncir ekor kuda dan di beri lip balm sedikit agar bibirnya terlihat berkilau.


"Mas ... Jadi kan perginya?" tanya Arsy pelan dan duduk di depan Teddy yang masih serius menatap ponsel.


Teddy terkejut dan mengangguk kecil saat Arsy sudah ada di depannya.


"Jadi. Kamu sudah siap?" tanya Teddy pelan.


"Sudah. Mas kenapa? Kayak ada yang serius?" tanya Arsy mulai penasaran.


"Ekhemm ... bukan apa -apa. Tidak penting. Yuk ...." ajak Teddy kemudian mematikan ponselnya dan mengambil kunci mobil serta dompet dan keluar dari kamar apartemennya menuju mobilnya.


Arsy hanya mengikuti Teddy. Cukup membawa tas kecilnya Arsy juga ikut bejalan keluar kamar.


Saat di dalam mobil, Teddy nampak diam tidak seperti biasanya yang bertanya mmau makan dimana atau mau makan apa? Kali ini Teddy malah terlihat bingung dan cemas setelah membaca isi pesan dari ponselnya.


"Kita mau makan apa?" tanya Arsy yang berusaha mengalah bertanya lebih dulu.


"Ekhemm ... Apa ya?" suara Teddy terdengar kaget dan bingung.


"Memang kita mau kemana sih? Kenapa di tanya mau makan kemana, Mas Teddy malah kayak bingung?" tanya Arsy pelan.


Tentu sebagai istri, Arsy penasaran dengan perubahan sikap Teddy yang tiba -tiba ini.


"Kita mampir ke rumah Bu Lina dulu ya, Sy?" pinta Teddy lembut dengan nada memohon.


"Hah? Ke rumah Bu Lina? Arsy gak salah denger. Arsy lapar lho Mas? Kok malah peduliin Bu Lina sih?" ucap Arsy kesal.


"Bu Lina sakit Sy. Kalau begini besok acara bisa gagal," bela Teddy dengan suara tegas.


"Sakit? Kemarin di sekolah baik -baik saja. Masih mengajar di kelas dengan baik, suaranya juga masih manja, sok di lembut -lembutin. Lagi pula, memang harus Mas Teddy yang nengok? Bukannya masih ada guru lain yang masih single atau guru perempuan lain. Kenapaharus Mas Teddy? Ganggu aja," ucap Arsy dengan nada suara kesal dan marah.


"Kamu kenapa Sy? Cemburu?" tanya Teddy yang malah tertawa dengan sikap serta respon Arsy yang makin lucu kalau ngambek.

__ADS_1


Arsy malah diam menatap lurus ke depan. Kedua tangannya berlipat di depan dada dan bibirnya mengerucut. Kakinya menyilang dan sengaja tak menjawab pertanyaan Teddy.


"Kamu marah? Cemburu sama Bu Lina?" tanya Teddy pelan dan lembut..


menurut Mas Teddy? Arsy harus gimana? Gak boleh marah? Gak boleh cemburu? Sebenarnya Arsy itu siapanya Mas? Cuma murud Mas? Cuma status istri di buku nikah aja? Tapi pedulinya ke orang lain, eh ke wanita lain? Gitu?" ucap ARsy yang semakin memperkeruh keadaan. Omelannya makin melebar hingga yang tidak perlu ia katakan ikut terhubung di ikut sertakan dalam pernyataan yang tak jelas.


Melihat Arsy yang begitu semangat mengomel, Teddy pun hanya menganggapinya dengan senyum dan sesekali tertawa kecil.


Lirikan Arsy semakin tajam melihat Teddy yang begitu cuek seolah tak menanggapi Arsy.


"Senyum terus. Bukannya kasih jawaban," ucap Arsy semakin kesal.


Teddy menarik napas dalam. Tangan kirinya pun menari tangan kanan Arsy yang masih berlipat di di depan dada.


"Kamu kan memang istrinya Mas. Mas hanya ingin ambil jadwal acara untuk besok. Kemungkinan Bu Lina tidak bisa ikut kalau kondisinya tidak memungkinkan. Makanya untuk antiispasi, Mas ambil sekarang. kan kesana juga ajak kamu, Sy," ucap Teddy dengan suara menenangkan.


"Baguslah. Lebih baik gak usah ikut. Semoga kondisinya memang beneran sakit, bukan cuma cari perhaian suami orang. Lagi pula, Bu Lina kan gak tahu, kalau Arsy itu istrinya Mas," ucap Arsy ketus.


"Kok doanya jelek sih Sy?" ucap Teddy yang menggenggam erat tangan Arsy.


"Biarin. Kok Mas malah bela Bu Lina sih?" ucap Arsy menggerutu.


"Ucapan adalah doa. Tahu kan? Makanya orang itu jangan berpikiran jelek terus berucap lalu kejadian. Mending positif thingking, tetep mendoakan yang baik -baik dan hasilnya pasti sesuai keinginan kita," ucap Teddy menasehati.


Tangan Arsy di angkat dan cium lembut oleh Teddy. Tak ada yang perlu di ragukan oleh seorang Arsy. Sikap Teddy semakin hari semakin manis dan mesra kepada Arsy.


Beberapa menit kemudian, mobil Teddy masuk ke halaman sebuah rumah singgah yang sangat etnik dan bergaya adat khas.


"Ini tempat apa?" tanya Arsy menelisik setiap sudut tempat itu.


"Rumah singgah." jawab Teddy singkat.


"Rumah singgah? Ada tempat makannya?" tanya Arsy yang masih mengira Teddy datang untuk makan malam.


Teddy menoleh ke arah Arsy dan memegang dagu istri labilnya. Pipi Arsy yang sedikit tembem itu di cium dengan lembut.


"Makan malamnya setelah ini. Kita ambil jadwal dulu ya? Habis ini kita makan. Yuk turun," titah Teddy pelan.


"Jadi kita tetep ke tempat Bu Lina? Tempat apa ini? Ngajak ketemu di rumah singgah? Rumah singgah itu tempat penginapan kan?" tanya Arsy ketus.


"Iya sayang. Ini memang rumah singgah yang biasa di gunakan untuk tempat penginapan. Ini milik keluarga Bu Lina. Rumah pribadinya ada di belakang tempat ini," jelas Teddy pelan.


"Cih ...." Arsy hanya bisa berdesis kesal.


Mau tidak mau, Arsy pun turun mengikuti Teddy. Lebih baik di ikuti dari pada nanti berbuat macam -macam.


Arsy sengaja menjaga jarak agak jauh di belakang, yang penting ia bisa lihat arah langkah kaki Teddy menuju kemana.

__ADS_1


"Pak Teddy ...." panggil Bu Lina agak keras. Ia berdiri di dekat meja yang sudah tertata rapi dengan makanan di lengkapi dengan dua kursi.


Teddy bingung. Tadi Bu Lina bilang sakit, tapi sekarang malah pakai baju yang kurang bahan di taman pula. Bukankah angin malam malah akan memperburuk kondisi tubuhnya, kalau benar sakit.


Begitu juga dengan Arsy yang kaget dan berusaha menutup mulutya dengan kedua tangan mungilnya.


"Mana jadwalnya Bu? Saya buru -buru karena ada perlu," ucap Teddy tegas.


"Pak ... Saya memang sakit. Tapi rasa sakit saya di sini," ucap Bu Lina sambil menunjuk ke arah dadanya.


"Sakit? Sakit hati?" tanya Teddy pelan.


"Ya ... Saya sakit hati. Karena usaha saya tak pernah Bapak hargai," ucap Bu LIna lantang.


"Usaha? Apa sih maksud Ibu? Saya tidak paham," tanya Teddy dengan bingung dan menoleh ke arah belakang sambil menatap Arsy yang berdiri di belakang pilar sebagai pembatas antara koridor lorong dengan taman belakang.


"Saya suka dengan Bapak. Saya sengaja membawa Bapak kesini agar berkenalan dnegan kedua orang tua saya. Tapi, Kenapa Bapak cuek dengan saya? Apa kurangnya saya?" tanya Bu Lina yang merasa kacau.


Pengharapannya untuk mendapatkan Teddy sangatlah tinggi. Sudah sejak setahun ini, Bu Lina memang menyukai Teddy. Diam -diam ia melakukan hal konyol seperti anak muda. Ia mengirim surat, mengirim cokelat, mengirim makanan, dan semua itu di ketahui oleh Teddy.


"Arsy ...." panggil Teddy pelan.


Arsy pun memunculkan tubuhnya dan berjalan ke arah Teddy. Ia berdiri tepat di sisi Teddy dan menunduk.


"Kami berdua sudah bertunangan. Jadi Ibu tidak perlu repot -repot lagi untuk mencintai saya. Sudah ada hati yang harus saya jaga. Makanya, kenapa Arsy selalu pulang dan pergi dengan saya. Karena dia wanita kesayangan saya, wanita istimewa saya," ucap Teddy pelan sambil merangkul bahu Arsy dan merapatkan tubuhnya dengan tubuh Arsy.


Wajah Bu Lina terlihat memerah, antara kesal, malu, marah, kecewa, sakit hati, benci, semua campur aduk menjadi satu. Bahkan ia benci melihat Arsy yang bisa meluluhkan hati Pak Teddy.


"Saya gak salah dengar? Arsy itu masih di bawah umur Pak? Usia kalian bahkan berbeda jauh sekali. Belum lagi, Bapak itu seorang dokter, dan Arsy hanya murid biasa. Apa yang bisa di banggakan?" tanya Bu Lina lantang.


Arsy langsung melongo dan menatap ke arah Teddy. Ia tak percaya denagn ucapan Bu Lina, yang lebih mengenal Teddy dengan baik. Siapa Teddy pun, Bu LIna tahu betul. Bahkan Arsy , istrinya tidak pernah tahu, kalau suaminya seorang dokter.


"Mas?" panggil Arsy lirih.


Teddy hanya mengangguk kecil ke arah Arsy.


"Mana jadwalnya Bu? Bu Lina, kalau besok mau ikut atu tidak. Saya tidak peduli. Jadwal acara biar saya pegang. Saya bisa minta tolong sama ketua osis untuk membantu melancarkan semua acara selama kegiatan di Bali." tegas Teddy tanpa basa basi.


"Pergi Pak. Pergi semuanya. Kamu juga Arsy." teriak Bu Lina dengan suar alantang.


Kedua orang tua Bu Lina pun masuk ke taman belakang. Tenyata Bu Lina memang membuat acara seolah, Teddy ingin melamarnya malam ini.


"Ada apa ini?" tanya orang tua Bu Lina.


"Tidak ada apa -apa. Hanya salah paham saja. Maaf, kami harus segera undur diri. Permisi," ucap Teddy dnegan sopan.


Teddy langsung menggandeng tangan Arsy dengan mesra di depan Bu Lina yang menatap nanar.

__ADS_1


"Itu kan calon kamu? Kenapa dia dengan perempuan lain?" tanya orang tuanya kepada dirinya.


Bu Lina langsung pergi dengan menagis tanpa menjawab pertanyaan kedua orang tuanya.


__ADS_2