
Ini hari terakhir Arsy dan Wulan untuk masuk ke sekolah. Hari ini semua siswa kelas tiga akan menandatangani ijasah dan cap tiga jari di berkas kelulusan mereka.
"Tumben ramai banget sih? Memang gak ada pelajaran?" tanya Arsy saat memasuki gerbang sekolah.
Banyak murid perempuan yang berkumpul di dekat ruang mading dan berteriak histeris seperti sedang bertemu dengan salah satu anggota BTS.
"Lihat tuh, jiwa -jiwa jomblo gue ikut meronta -ronta ingin melihat apa yang terjadi," ucap Wulan menggoda.
"Gak pengen sama sekali," jawab Arsy pelan. Mereka melewati semua murid dan Wulan masih sempat bertanya pada salah satu adik kelasnya.
"Ada apa?" tanya Wulan pelan.
"Ada guru baru. katanya sih, guru laa, tapi kok terlihat wajah baru, gantengnya kebangetan," ucap gadis itu dengan bar -bar memuji.
"Guru baru? Siapa? Memang ada yang bisa ngalahin gantengnya Pak Teddy?" celetuk Arsy kesal.
"Nah itu Kak. Katanya mirip, mungkin kembarannya. Kan semua orang tahu, aklau Pak Teddy hilang dalam kecelakaan itu," ucap adik kelasnya itu asal bicara. Dia tidak tahu berbicara dengan siapa?
"Masa sih? Gantengnya sama persis gitu?" tanya Arsy makin menggila.
"Sudah Sy. Gak baik juga ngomel -ngomel sama adik kelas. Mereka kan gak tahu apa -apa," ucap Wulan mencoba menghindari perdebatan.
__ADS_1
"Ya. Kalau Kak Arsy gak percaya lihata saja, foto itu. Itu foto di ambil seseorang tanpa senagja, yang buntuti cowok misterius itu, ternyata mirip banget sama Pak Teddy," ucap gadis itu santai dan pergi begitu saja.
Arsy berjalan mendekat ke arah mading dan ikut menatap cowok misterius yang selama ini ada di sekolah ini.
"Iya Sy, mirip banget sama Pak Teddy. Tapi kan ... Argh ... Gue gak mau ambil kesimpulan sendiri," ucap Wulan pelan.
Wulan langsung menarik tangan Arsy dan segera membawa sahabatnay ke kantin dan melupakan sosok misterius itu.
"Dih ... Mau kemana sih?" tanya Arsy ketus.
"Katanya mau makan pisang plenet rasa keju dan cokelta. Mumpung sepi dan belum ramai. Duduk disana biar gue pesenin," ucap Wulan tegas.
"Iya udah sana pesen. Minum thai tea ya," pinta Arsy kemudian.
"Kak Arsy, bukan?" tanya seorang adik kelas yang tiba -tiba menyapa Arsy.
"Iya. Kenapa?" tanya Arsy pelan menatap adik kelasnya yang membawa paper bag.
"Ini buat Kakak, ada yang titip tadi katanya buat kak Arsy anak kelas tiga," ucap adik kelas itu tersenyum manis.
"Dari siapa?" tanya Arsy pelan kepada gadis di depannya itu.
__ADS_1
"Gak tahu Kak, tadi ada di ruang TU, dan kepala TU minta tolong sama saya buat cari Kakak," ucap gadis itu jujur dan polos. Maklum anak kelas satu, masih unyu -unyu.
"Oke. Makasih ya," ucap Arsy pelan dan menerima paper bag itu.
Arsy mengintip isi di dalam paper bag itu. Ada beberapa tumpuk kotak makan, dan satu per satu di keluarkan.
"Dari siapa? Banyak amat? Widih ... Favorit semua tuh .... Fans baru?" tanya Wulan tertawa.
Sudah tidak kaget lagi, bukan. Sejak duduk di kelas satu, Arsy sudah jadi idola di sekolah. Dulu, bahkan lebih parah, sampai Arsy tak berani keluar dari kelas karena banyak kakak kelas yang ingin mendekati Arsy dan mengajak jalan bersama.
"Gak tahu. Tapi, Arsy curiga nih. Ini pasti orang dekat dan kenal Arsy. Lihat tuh, setiap makanan yang di kirim ke Arsy semuanya adalah makanan kesukaan Arsy," ucap Arsy sambil menunjukkan smeua makanan dari dalam paper bag.
Mulai dari pempek palembang, chicken karage, telur gulung, dan pisang goreng crispy, serta susu kotak.
"Ada susu kotak lagi? Jleas itu pasti orang yang tahu, loe lagi hamil," ucap Wulan dengan suara keras hingga beberapa siswa yang ada di sana menatap keduanya secara bergantian.
Arsy dan Wulan terdiam dan saling menatap lalu mengedarkan pandangannya ke segala arah. Semua orang mendengar ucapan Wulan baru saja.
"Siapa yang hamil?" tanya seseorang dari arah belakang.
Deg ...
__ADS_1
Jantung kedua sahabat itu mencelos begitu saja. Rasa kagetnya benar -benar membuat keduanya gugup. Satu rahasia besar yang tertutup rapat harus berakhir seperti ini.