
Teddy menatap cemas ke arah Bu Lina. Arsy dan Wulan juga saling berpandangan. Ketiganya tetap saja panik, ada ketakutan tersendirii kalau suatu saat rahasianya terbongkar. Dua murid berprestasinya hamil.
"Bu Lina? Belanjanya banyak sekali?" tanya Teddy yang melirik ke arah keranjang belanjaan milik Bu Lina untuk mengalihkan pembicaraan.
"Bapak bisa menyimak pertanyaan saya dengan baik? Siapa yang hamil? Saya dengar tadi tentang hamil?" tanya Bu Lina tajam ke arah Arsy.
"Saya menyimak pertanyaan Ibu dengan baik. Tapi, tadi hanya membahas apakah cokelat itu tidak bermasalah jika di makan oleh wanita hamil? Karena tantenya Arsy sedang hmail dan meminta di belikan oleh -oleh cokleat Bali. Jadi kita lagi sharing aja," ucap Teddy menjelaskan dengan baik tanpa ada keraguan sehingga penjelasannya pun meyakinkan.
Bu Lina menatap satu per satu anak didiknya itu dan terakhir menatap ke arah Pak Teddy.
Merasa di tatap tajam oleh Bu Lina, Arsy pun juga membalas tatapan itu tanpa gentar. Arsy tidak merasa terpojok sama sekali.
"Pasti ibu sedang mencari kesalahan saa, kan?" ucap Arsy sinis.
"Arsy. Bu Lina adalah guru kamu, dia orang tua dan pengganti orang tua selama di sekolah. Bersikap sopanlah," titah Yeddy dengan tegas dan tatapannya begitu lekat. Teddy menampakkan rasa keceanya terhadap Arsy yang tidak bisa memposisikan keadaannya.
Wulan menyyenggol lengan Arsy dan mengajaknya pergi dari tempat itu, sebelum ada peperangan di antara pasangan itu dan ulet bulunya.
"Kok ... Bapak malah membela Bu Lina? Dia sudah menuduh saya hamil," ucap Arsy kesal.
"Saya tidak menuduh kamu. Tolong di pahami dengan baik. Saya tadi bertanya, siapa yang hamil. Kalau memang kamu merasa baik -baik saja, tidak perlu panik dong," ucap Bu Lina tak mau kalah.
"Sudah cukup. Ini tempat umum. Kita pergi saja Bu. Wulan bawa Arsy pergi, mungkin dia kelelahan," titah Teddy kepada Wulan.
"Apa Bapak bilang. Saya kelelahan? Bu Lina tuh yang lelah. Pakai cari masalah saja," umpat Arsy keras.
"Kamu itu kenapa sih? Ada masalah sama saya?" tanya Bu Lina makin menjadi. Ia juga tidak mau harga dirinya di injak -injak oleh muridnya sendiri.
"Ibu tuh yang kegenitan, kegatelan sama Pak Teddy. Udah tahu Pak Teddy gak mau sama Ibu, masih aja mepet terus. Gak tahu malu," ucap Arsy keras. Ia terpancing untuk terus arah -marah. Mungkin efek hormon ibu haail juga, jadi sifat cemburu dan posesifnya begitu sangat kentara sekali.
"Eh ... Kmau bilang apa? Kamu punya bukti? Gak usah bikin lelucon di sini," ucap Bu Lina yang ikut geram. Kalau terbongkat tentu ia malu sekali.
"Sudah Bu. Kita gak perlu melayani murid labil seperti Arsy," ucap Teddy pelan dan mencoba menenangkan Bu Lina. Lengan Bu Lina langsung di tarik Teddy. Ia tidak punya pilihan lain selain membawa Bu Lina pergi dari tempat itu dan memisahkan dari Arsy yang nampak berapi -api dalam kemarahannya.
Teddy dan Bu Lina sudah pergi menjauh dan berputar lagi di tempat oleh -oleh itu dan entah apa yang di carinya.
__ADS_1
"Argh ... Lihat Pak Teddy malah membela ulet bulu di banding Arsy," ucap Arsy yang makin geram.
"Udah Sy. Mereka kan rekan kerja. Kamu jangan terlaluover thinking gitu. Lagi pula, kalau aku jadi Pak Teddy pasti lebih memilih rekan kerjanya demi keamanan semuanya. Seharusnya kamu juga paham di situasi ini," ucap Wulan menasehati.
Arsy menoleh ke arah Wulan. Ia tak percaya kalau Wulan, sahabatnya juga lebih membela guru ulet bulu itu.
"Kamu itu gak ngerasain punya suami yang di kejar -kejar sama ulet bulu. Jadi, sampai kapan pun kamu gak tahu rasa nano -nano yang aku rasain di hati aku," ucap Arsy kesal.
Di saat yang seperti ini tidak ada yang membantunya. Semua orang malah menyalahkan Arsy dan menganggap Arsy tidak dewasa.
Arsy dan Wulan kembali ke dalam Bis. Ia meletakkan smeua belanjanya di kursinya dan pergi begitu saja dari Bis itu. Ia mencari seseorang yang selama ini bakal bisa membuatnya tennag dan nyaman. Bismo.
"Mo ...." teriak Arsy keras.
Bismo menoleh ke arah Arsy. Bismo mendongak dan menatap Arsy yang semakin terlihat snagt cantik hari itu.
"Arsy?" panggil Bismo kemudian.
"Arsy mau pindah Bis lagi. Bismo duduk sama siapa?" tanya Arsy tiba -tiba.
Bismo menatap Arsy aneh. Pasti ada sesuatu yang terjadi.
"Gak usah sebut -sebut nama itu. Arsy lagi muak," ucap ARsy kasar.
"Hei ... Gadisnya Bismo kenapa?" tanya Bismo yang merasa di butuhkan kembali.
"Tinggal jawab aja. Duduk sama siapa? Mau tukeran nih," ucap Arsy cepat.
"Sama Robby," jawab Bismo pelan.
"Robby mana?" tanya Arsy kemudian melihat ke arah Bis.
"Di dalam. Kamu yakin mau duduk sama aku? Nanti Pak Teddy marah?" tanya Bismo pelan. Ia cukup bergidik ngeri mengingat ancaman Pak Teddy kemarin, bahwa ia tidak boleh mendekati Arsy lagi apalagi mencari kesemptan dalam kesempitan.
"Arsy yang mau. Kamu tinggal nurut aja." jawab Arsy santai.
__ADS_1
"Sy. Pak Teddy itu guru. Akan lebih mudah cari- cari kesalahan muridnya. Kadang kita gak salah bisa jadi salah," ucap Bismo menjelaskan.
"Udah ah. Arsy mau bilang sama Robby," ucap Arsy pelan.
Arsy langsung naik ke atas. Ternyata Bismo dan Robby duduk di bagian belakang. Maklum anak laki -laki lebih suka duduk di belakang sambil bermain gitar.
"Eh ... Ada nona cantik. Tumben nih datang ke habitatnya biasanya nempel terus sama guru kesayangan," ucap Robby sinis.
"Kenapa kamu? Kok ngomong gitu? Kita kan gak punya masalah?" tnya Arsy yang bingung.
Beberapa teman sekelasnya untuk memiliki pandangan yang sama dan begitu buruk dengan Arsy. Mereka mengira Arsy adalah murid gampngan yang mendekati guru hanya karena nilai. Karena beberapa kali RAys itu memnag dekat dengan guru. Dulu sebelum dengan Teddy, dengan guru olah raga Pak Tunggul, lalu guru geografinya Pak Yus yang baru lulus kuliah, belum lagi dengan penjaga perpusatakaan dan TU sekolah.
Robby tertawa keras.
"Kita memang gak ada masalah. Tapi temen -temen sekelas muak lihat kamu yang centil begitu," ucap Robby semakin nyinyir.
"Gila kamu, Robb!!" teriak Arsy kesal. Arsy pun pergi meninggalkan Robby yang sdeang duduk di ganjalan tangan sambil bermain gitar. Tangan Arsy langsung di tarik dan tubuh mungil itu tertarik hingga mendekat dengan Robby.
Robby adalah salah satu anak nakal di kelasnya, orangnya baik tapi memang cuek dan apa adanya.
"Mau kemana?" tanya Robby yang sengaja menggoda Arsy.
"Lepas gak? Jangan macam -macam sama Arsy," teriak Arsy dengan suara keras.
"Lepasin Arsy, Robb." titah Bsimo yang masuk ke dalam mobil.
"Cih ... Ada cowoknya," ucap Robby yang berdecih kesal. Ia melepaskan tangan Arsy.
"Lu pindah ke Bis enam, Arsy mau duduk sama gw," titah Bismo.
Robby menghentikan petikan senar di gitar yang di pegangnya. Tatapannya tajam ke arah Arsy seolah punya dendam tersendiri.
Robby mengambil tas kecilnya dan langsung pindah ke Bis enam. Bis di mana Arsy duduk tadi.
"Duduk Sy. Di belakang gak apa -apa kan? Gak bakal mual?" tanya Bismo pelan.
__ADS_1
Arsy tersenyum kecut.
"Gak apa -apa." jawab Arsy singkat. Dari pada hrus duduk dengan suami yang malah membela orang lain. Lebih baik ia duduk dengan Bismo.