
Arsy berjalan menuju ruang makan sambil membawa nampan berisi dua gelas minuman, satu gelas susu putih untuk dirinya sendiri dan satu gelas kopi hitam untuk Teddy, suaminya. Ia langsung meletakkan nampan itu dan memberikan kopi hitam itu kepada Teddy.
"Ini Pak, kopinya" ucap Arsy pelan.
"Terima kasih," jawab Teddy yang juga masih kaku. Ia juga tidak tahu harus memanggil Arsy dengan sebutan apa setelah menikah ini.
Arsy melanjutkan sarapan paginya. SEsaat suasana di ruang makan itu hening hingga Bunda Bella angkat bicara untuk menasihati pasangan yang baru menikah itu.
"Nak Teddy mau tinggal di mana setelah ini?" tanya Bunda Bella pelan.
"Eumm ... Saya sudah ada rumah Bunda. Di Perumahan dekat sekolah. Kalau di perbolehkan, kami berdua akan tinggal di sana," pinta Teddy sedikit ragu.
"Oh ... Bagus itu Nak Teddy. Memang sebaiknya, kalian harus hidup berpisah dan mandiri," timpal Papah dengan cepat, setuju dengan permintaan Teddy, menantunya.
"Apa? Rumah sendiri. Gak, Arsy gak mau. Bagaimana kalau nanti teman -teman Arsy tahu?" tanya Arsy kemudian.
Teddy langsung melirik ke arah Arsy, istri belianya. Ia tahu hal ini tidak mudah bagi gadis labil seperti Arsy.
"Arsy, Kamu itu sekarang istri Nak Teddy. Mau tidak mau, kamu harus mengikuti aturan dalam berumah tangga yang Nak Teddy buat. Setiap rumah tangga itu yang terpenting adalah memiliki rumah, karena rumah adalah cerminan rahasia keluarga," ucap Papah Arsy menasehati.
"Gak. Pokoknya ARsy mau tetap di rumah ini," ucap Arsy kesal.
"Rumah ini mau Papah jual," ucap Papah Arsy yang tak mau kalah.
"Apa? Arsy gak salah dengar? Maksud Papah itu apa?" tanya Arsy penasaran.
__ADS_1
"Usaha Papah bangkrut. Nak Teddy dan keluarganya yang selama ini membantu Papah. Mulai sekarang kamu harus nurut sama suamimu. Karena semua kebutuhan kamu, Nak Teddy yang akan penuhi. ATM, Kartu Kredit kamu sudah Papah blokir semua. Papah sudah tidak bertanggung jawab lagi atas semua kebutuhan kamu," ucap Papah Arsy tegas.
Arsy hanya diam. Ingin rasanya berontak, tapi ia mengurungkan niatnya. Ia tahu, Papahnya sedang sakit. Saat ini Arsy hanya bisa menurut dan mengiyakan saja.
"Eumm ... Sudah siang. Kita berangkat sekarang. Arsy jadi mau antar kan?" tanya Bunda Bella memastikasn.
"Jadi," jawab Arsy singkat.
Pagi ini, Teddy dan Arsy mengantarkan Bunda Bella dan Papah Arsy brangkat ke Bandara. Sepanjang jalan, Bunda Bella terus menasehati Arsy yang dari berangkat tiduran di pangkuan Bunda Bella. Rasanya tidak ingin berpisah apalagi jarak jauh yang sulit di jangkau dengan waktu yang sebentar.
"Kamu harus bisa jadi istri yang baik. Jangan bikin malu Bunda," ucap Bunda Bella setengah berbisik. di telinga Arsy sambil memainkan rambut Arsy yang hitam legam.
Arsy hanya mendengarkan ucapan Bunda Bella. Hatinya masih bimbang di sisi lain, Arsy masih sayang dengan Bismo, kekasihnya, hingga saat ini pun mereka belum ada kata putus. Tapi, pernikahan ini sudah memutuskan mereka secara otomatis. Namun hati Arsy masih belum bisa terbuka dengan baik untuk menerima Teddy sebagai suaminya mulai saat ini.
"Kamu denger Bunda ngomong gak sih?" tanya Bunda Bella pelan.
"Denger Bunda," jawab Arsy pelan.
Setengah jam kemudian, mereka tiba di Bandara. Arsy duduk di ruang tunggu menunggu jam keberangkatn. Tubuhnya terus menyender di lengan Sang Papah. Ia belum siap jika harus berpisah dengan kedua orang tuanya saat ini. Walaupun ia tahu kalau kepergian orang tuanya untuk pengobatan.
"Boleh gak? Kalau libur sekolah Arsy ke London?" cicit Arsy manja kepada Sang Papah.
"Boleh. Kalau kamu sudah lulus. Papah akan kasih tiket pesawat sebagai hadiah. Ingat dengan nilai terbaik," ucap Papah menjelaskan.
"Harus nilainya bagus. Kalau ujian kelulusan kan untung -untungan Pah." jawab Arsy sekenanya.
__ADS_1
Menurut pengalaman Arsy sih begitu. Jika ujian kelulusan itu sudah mempersiapkannya seperti apa kalau ternyata apa yang di pelajari tidak keluar ya samasaja kita menjwab seperti membei kucing dalam karung. Ujung -ujungnya kita menjawab dengan bermain kancing atau menggunakan insting tebak -tebak.
"Harus dong. Biar Papah bangga sama kamu. Katanya mau jadi dokter? Harus dapat nilai bagus," ucap Papah Arsy menyemangati.
"Dokter? Itu memang cita -cita Arsy. Tapi, Arsy kan sudah menikah Pah. Tentu gak bisa. Ruang gerak Arsy pasti juga di batasi," ucap Arsy sendu. Ia merasa pernikahan ini membuat Arsy menjadi tak semangat hidup lagi. Palagi harus tetap mengejar impiannya sebagai seorang dokter.
"Apa yang tidak mungkin? Justru dnegan kamu sudah menikah. Ada yang membantu kamu, Arsy. Teddy pasti menyemangati kamu, mensupport kamu. Makanya kamu kenali dulu dia seperti apa. Baru kamu bisa bicara, dia lelaki seperti apa," ucap Papah pelan.
"Huft ... Usia kita saja jauh berbeda Pah. Tentu sulit buat Pak Teddy mengrti Arsy," ucap Arsy pelan mencurahkan isi hatinya.
Papah Arsy pun mengusap lembut pucuk kepala Arsy dan mengecup pelan kening anak gadisnya itu.
"Teddy itu pria yang hebat. Kamu akan bangga memiliki dia Arsy," ucap PApah mengingatkan.
"Dia hanya Guru BK, pah. Apa yang harus Arsy banggakan?" tanya Arsy pelan.
"Hanya guru BK? Kamu tidak pernah tahu seperti apa kehidupan Teddy? Jangan menyudutkan seseorang dari jabatannya saja, Arsy. Papah gak suka," ucap Papah yang muali tak senang dengan arah pembicaraan Arsy.
Keberangkatan ke London pun sudah siap. Papah dan Bunda Bella sudah bersiap menuju arah pesawat. Semua weangan, nasihat dan semua hal yang positif sudah Bunda Bella ingatkan kepada Arsy.
Sekarang giliran Arsy yang harus berjuang hingga Arsy bisa lulus dari SMA dengan nilai terbaik. Tentu, Arsy ingin membuat Papah dan Bundanya bangga.
"Yuk, Kita pulang. Papah dan Bunda sudah pergi," ajak Teddy dengan suara pelan.
Arsy terus menatap punggung kedua orang tuanya hingga benar -benar menghilang dari pandangannya. Air matanya seketika luruh begitu saja. Ia mencoba menguatkan dirinya. Janji Sang Papah yang memperbolehkan Arsy untuk menjenguk dan berlibur ke London pun membuat ARsy semangat.
__ADS_1
Teddy menatap Arsy. Air mata itu jelas berjatuhan di pipi Arsy. Teddy pun menarik tangan Arsy dan memeluk erat istrinya, membawa kepala Arsy berada di dadanya agar merasakan kenyamanan di sana.
"Saya akan menjaga kamu, Arsy. Saya akan buktikan bahwa saya menikhaimu kamu, bukan karena perjodohan. Saya sayang dan saya cinta dengan kamu Arsy. Saya jatuh cinta sejak saya bertemu kamu pertama kali," ucap Teddy pelan di dekat telinga Arsy. Satu kecupan lembut d puck kepala Arsy membuat tubuh Arsy meremang. Ia merasa tulusnya Teddy bukanlah main -main.