
Sore hari yang begitu ramai. Jalanan pun ikut macet karena bersamaan dengan waktu jam pulang kantor. Teddy masih tetap sabar menyetir menghalau kemacetan yang sama sekali tak terurai. Berbeda dengan Arsy yang terlihat sangat jenuh dan sudah lelah. Beberapa kali ia menguap dan memaksa kedua matanya untuk menatap jalanan yang hanya bisa melihat mobil di depannya berhenti dan tidak bergerak sama sekali sejak tadi.
Sekilas Teddy melirik ke arah istrinya yang berusaha untuk tidak memejamkan kedua matanay sambil mengusap perut besarnya yang terlihat kencang. Sungguh seksi sekali istrinya ini.
"Ngantuk ya? Tidurlah," titah Teddy kepada istrinya. Teddy menoelh ke belakang dan mencari bantal khusus untuk istrinya tidur selama berada di mobil.
"Pakai ini biar nyaman," ucap Teddy sambil meletakkan bantal mungil untuk mengganjal perut istrinya yang besar itu.
Arsy hanya merubah duduknya dan menggeser sedikit bokongnya agar lebih terasa nyaman. Dinginnya AC mobil di tambah alunan musik yang sengaja di putar Teddy untuk merangsang kedua bayinya yang sebentar lagi lahir membuat kedua mata Arsy pun mulai menutup dan pulas seketika. Arsy benar -benar sudah lelah dan mengantuk.
Teddy tetap tenang sambil mengangguk -anggukkan kepalanya pelan mengikuti alunan musik yang mendayu -dayu. Setidaknya ia bisa menghilangkan rasa jenuh menyetir saat macet itu benar -benar panjang dan bahkan tak terurai sama sekali. Tidak biasanya seperti ini.
Beberapa saat kemudian ...
Teddy berhasil mencari jalan tikus dan akhirnya sampai di restaurant yang di tuju. Arsy sedang ingin es serut mangga. Maklum mengidamnya kali ini agak terlambat tapi masih bisa di turuti oleh sang suami.
__ADS_1
"Sayang ... Bangun. Sudah sampai di restaurant. Katanya mau yang seger -seger agak asem. Yuk beli. Turun sekarang, hati -hati turunnya. tunggu Mas sebentar," ucap Tedddy yang sudah membuka sabuk pengaman dan mematikan mesin mobil lalu turun dari mobilnya dan berlari ke bagian samping tempat Arsy akan turun.
Arsy membuka kedua matanya dengan malas dan mengerjap beberapa kali agar pandangannya tidak samar. Ia menatap Teddy yang sudah membuka pintu mobil di sampingnya dan mencium pipi kiri Arsy agar istrinya segera terbangun dari tidurnya.
"Belum bangun juga? Gendong juga nih," ucap Teddy menggoda istrinya.
"Udah bangun ih. Gendong Arsy sekarang itu berat," cicit Arsy sambil mengerucutkan bibirnya. Tidur lelapnya terasa terganggu tapi perutnya juga lapar.
"Ayo bangun. Mas pegangin," ucap Teddy lembut.
Teddy menatap lekat ke arah mata Arsy.
"Mas sudah pesan tempat di dalam. Tempatnya enak dan nyaman buat ibu hamil kok. Makanya masuk dulu. Nanti kalau gak nyaman baru pindah ke mobil lagi ya," ucap Teddy menjelaskan kepada Arsy.
Arsy mengangguk pasrah. Tidak perlu lagi berdebat manja dengan Teddy. Seperti yang sudah -sudah, Teddy pasti sudah mempersiapkan semuanya untuk kenyamanan Arsy.
__ADS_1
Benar saja, Teddy sudah memesan tempat khusus yang bisa membuat nyaman ibu hamil untuk duduk dan menikmati makanan yang ada di sini.
Modelnnya seperti saung atau bilik yang bawahnya di alasi oleh bantalan agar empuk dan ada beberapa bantal juga untuk membuat nyaman.
Semau makanan juga sudah di pesan Teddy sesuai permintaan Arsy tadi.
"Sudah sesuai semua pesanannya? Ada yang kurang? Atau ada yang mau kamu ganti menunya?" tanya Teddy pada Arsy.
"Udah Mas. Ini sudah cukup. Arsy hanya ingin es serut ini," ucap Arsy dengan kedua bibirnya yang mulai mengecap karena ingin.
"Makan dulu, baru minum es serutnya," titah eddy pada Arsy.
"MAu makan es serutnya dulu. Ini anak kamu yang pengen lho Mas," ucap Arsy manja.
"Sayang ... Makan dulu. Perut kamu belum terisi nasi dari pagi. Tadi pagi cuma makan mie instant dengan alasan anaknya yang mau, siang juga cuma makan batagor. Sekarang makan nasi baru minum es serutnya. Kalau gak mau, mending gak usah," tegas eddy pada istrinya.
__ADS_1
Arsy akhir -akhir ini mudah sekali mual dan tidak bis amenampung banyak makanan. Hanya ingin makanan dan minuman yang segar -segar. Tapi apalah daya, permintaan Teddy, suaminya harus di turuti.