
Teddy duduk di kursi plastik tepat di samping tempat tidur Arsy. Arsy masih berbaring di ranjang rumah sakit. Dua bola matanya mulai terlihat di dalam kelopak yang masih tertutup. Tangan Teddy masih menggengam tangan Arsy denagn erat. Teddy harus menguatkan Arsy setelah ini. Bayi kembar yang sudah sangat di harapkan kehadirannya pun harus tiada di detik -detik terakhir.
Tangan Arsy mulai bergerak pelan. Kedua matanya mulai mengerjap dan terbuka perlahan. Dua bola mata indah itu terlihat menatap kosong ke arah Teddy dan pandangannya begitu sayu.
"Arsy? Arsy ... Kamu sudah sadar, sayang?" panggil Teddy lirih. Teddy harus bisa menyembunyikan rasa pilu di hatinya. Kesedihan yang membuat batinnya ingin menangis meraung sejak tadi.
"Mas ... Arsy pusing," jawab Arsy lembut sekali. Suaranya begitu parau dan terdengar sanagt menyesakkan. Ini hanya mendengar suara Arsy belum melihat raaut wajah kecewa dan tangisannya yang sudah pasti bakal histeris.
"Masih pusing? Istirahat dulu, Sayang. Mas akan tetap ada disini menemani kamu sampai kamu terbangun lagi," ucap Teddy begitu tenang dan lembut sekali. Teddy mengusap pelan kepala Arsy lalu mengecup kening Arsy penuh kasih sayang. Punggung tangan istriny juga tak luput dari kecupan bibirnyaa yang hangat.
"Haus Mas ...." ucap Arsy kemudian.
"Sayang ... Kamu boelum boleh minum. Mas basahi sedikit saja di bibir kamu ya? Biar gak kering. Terus kamu istirahat dulu," pinta Teddy begitu sesak dadanya.
Tak pernah terlintas dalam pikiran Teddy untuk mengurus Arsy dalam keadaan seperti ini. Mungkin keadaannya akan berbeda jika kedua bayi kembar itu terlahir denagn selamat dan hidup sampai saat ini. Perasaan bahagia tentua kan terpancar dari wajah Teddy.
__ADS_1
"Iya Mas," jawab Arsy sedikit terbatuk. Entah kenapa tenggorokannya jadi gatal dan ingin batuk -batuk setiap waktu. Perutnya mulai terasa sakit saat tubuhnya mulai bergerak karena batuk.
Uhukkk ...
"Sayang ... Kamu kenapa?" tanya Teddy mulai cemas saat Arsy memegang perutnya dan tersadar kalau perutnya sudah tidak besar lagi.
Kedua mata Arsy terbelalak sambil mengusap perutnya yang rata dan menatap Teddy.
"Mas ...." Arsy terus menatap Teddy lekat seolah meminta jawaban dari Teddy yang mungkin tahu akan maksud dari panggilan Arsy.
"Ya sayang ..." Teddy hanya menjawab singkat dan mengambil sendok lalu membasahi bibir Asry sedikit.
Teddy langsung menggenggam tanag Arsy dan mengecupnya berulang -ulang. Rasanya tak kauasa untuk memberitahukan kabar buruk ini pada istri tercintanya.
Teddy langsung memeluk tubuh Arsy untuk menahan isak tangisnya. Jangan sampai Arsy tersadar jika Teddy sedang menahan air mata agar tidak terjatuh.
__ADS_1
Pelukan Teddy begitu erat di tubuh Arsy yang masih nampak lemas.
"Mas ... Kamu kenapa?" tanya Arsy terbata. Arsy bingung sekali karena tidak biasanya Teddy seperti ini.
Teddy hanya diam dan tetap memeluk tubuh Arsy erat. "Biarkan Mas memelukmu erat seperti ini, sayang."
Arsy ikut terdiam dan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan ruang rawat inap itu.
"Mas ... Mana bayi kita," tanya Arsy berbisik. Arsy mnegendurkan pelukan Teddy dan menatap Teddy dengan lekat.
Raut wajah Teddy terlihat tidak bahagia dan begitu sedih.
"Mas Teddy kenapa? Jawab dong pertanyaan Arsy," tanya Arsy dengan gemas dan penasaran.
Teddy mengusap kepala Arsy dan terus merapikan anak rambut ke belakan telinga Arsy.
__ADS_1
"Sayang ... Mas mau minta maaf sebelumnya ...."
"Minta maaf? Soal apa, Mas?" tanya Arsy denagn suara lemah.