Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
MULAI ADA RASA CEMAS


__ADS_3

Wulan dan Arsy sudah turun tepat di depan Rumah Wulan. Namun, Wulan malah berjaln berbik arah sambil menggandeng Arsy menuju gang kecil.


"Kok lewat sini, Lan? Kan tinggal masuk gerbang aja kayak biasanya. Terus tadi itu siapa?" tanya Arsy mulai bingung.


Wulan adalah sahabat Arsy sejak duduk di kelas sepuluh dan mereka selalu satu kelas dan duduk satu meja. Tidak hanya itu, mereka adalah teman yang satu frekuensi. Wulan sangat rajin dan teliti. Namun ia memang cenderung pendiam dan jarang menceritakan tentang kehidupannya.


"Ikut aja," jawab Wulan tersenyum kecut.


Padahal baru seminggu yang lalu Arsy mengantarkan Wulan pulang ke rumahnya dengan Teddy. Saat itu usai acara lamarannya.


Tiba saatnya, Wulan melewati rumah yang sederhana dan kusam. Wulan membuka pintu pagar rumah itu dan masuk ke dalam.


"Ma ...." panggil Wulan dari luar sambil mengetuk pintu rumah itu.


Arsy menatap Wulan dengan raut wajah bingung.


"Mama? Sejak kapan kamu pindah Lan? Kamu kenapa gak bilang sama aku?" tanya Arsy pelan.


Begitulah kedua sahabat ini kalau sedang bersama. Kadang menggunakan bahasa yang sopan dan baku, dan terkadang kalau memang lagi bercanda mereka akan selalu membully sebagai candaan. Keduanya tidak akan marah satu sama lain. Hati keduanya sudah mati dengan candaan konyol antar sahabat ini.


Wulan tak menjawab. Pintu rumah itu terbuka. Senyum Mama Wulan seperti biasa terlihat ceria seolah tidak terjadi apa -apa.


"Ma? Kok lama buka pintunya? Sedang apa di dalam?" tanya Wulan pelan sambil mencium punggung wanita paruh baya itu dnegan span.


Wulan memang anak penurut dan patuh. Sikapnya sellau sopan denga orang yang lebih tua. Ini satu alasan kenapa Bunda Bell abegitu sayang dengan Wulan, bahkan sudah di anggap seperti anaknya sendiri.


"Lagi masak. Jadi gak denger. Lagi pula keran air Mama nyalakan. Arsy? Sini masuk sayang. Makan siang dulu yuk. Mama buat ikan tongkol balado kesukaan kalian," ajak Mama Wulan dengan senyum bahagia.


Mama Wulan juga sama. Sudan menganggap Arsy sebagai anaknya sendiri. Arsy yang selalu ceria dan membuat suasana rumah menjadi raai kalau sedang berkunjung ke rumah Wulan.


"Ma ... Mama sehat?" tanya ARsy lembut sabil mencium punggung tangan Mama Wulan lalu memeluk erat karena rindu.


"Baik. Kamu lihat kan? Mama sehat. Katanya kamu sudah menikah? Bagaimana dengan pernikahanmu? Senang dong?" tanya Mama Wulan pelan sambil merangkul Arsy membawa masuk gadis cantik itu ke dalam rumah.


"Iya Ma. Namanya juga di jodohkan Ma. Arsy belum cinta sama Pak Teddy. Mama juga tahu kan, kalau Arsy punya pacar," ucap Arsy mengadu.


Mama Wulan membawa Arsy duduk di sofa, dan membiarkan gadis itu beristirahat sebentar menenangkan hati dan pikirannya.


"Kamu harus lebih sabar dan ikhlas. Nanti lama -lama rasa suka itu datang sendiri. Lupakan pacar kamu yang namanya siapa itu? Bismo? Kamu harus lebih fokus untuk kebhagiaan kamu, kebahagiaan pernikahan kamu. Karena setiap orang tua tentu akan memberikan yang terbaik untuk anaknya, bukan untuk membuat anaknya menderita," ucap Mama Wulan menasehati.


"Udah nih temu kangennya?" tanya Wulan yang sudah ganti pakaian.


Arsy menjulurkan lidahnya kepada Wulan.


"Sirik aja ih. Lagi curhat soal rumah tangga," ucap Arsy ketus kepada Wulan sampai membuat Wulan terkekeh sendiri.

__ADS_1


Arsy tidak pernah tahu kehidupan Wulan pun butuh perhatian khusus tapi mereka tetap santai menjalaninya.


"Curhatnya sambil makan yuk? Wulan lapar," ucap Wulan pelan.


"Iya bear. Yuk makan dulu Sy," ajk Mama sambil menggandeng Arsy menuju dapur dengan ruang makan menyatu.


Sejak tadi Arsy mau bertanya kepada Mama Wulan atau Wulan kenapa mereka tinggal di tempat yang lebih kecil. Walaupun tempat ini lebih tenang dan memang lebih nyaman.


Ketiganya sudah duduk di kursi maan. Mama Wulan memberikan piring yang sudah berisi nasi putih kepada dua anak gadisnya dengan adil. Lalu meletakkan air putih.


"Ambil lauknya sama sayurnya. Habiskan ya?" ucap Mama Wulan pelan.


Suasana makan itu begitu tenang dan sunyi. Tak ada yang bicara, dan smeua nampak menikmati ikan tongkol dan tumis kacang panjang buatan Mama Wulan.


Arsy mengunyah makanan sambil menatap satu per satu wajah Mama Wulan dan Wulan secara bergantian tanpa mereka ketahui.


"Sebenarnya ada apa sih? Kayak gak biasanya," celetuk Arsy pelan sambil meneguk air putih.


Mama Wulan mengangkat wajahnya dan menatap Arsy dnegan senyuman yang tulus dan ramah. Wulan sendiri nampak asik makan dan tidak peduli. Mungkin ia tidak mau membahas masalah keluarganya.


"Apa? Tidak ada apa -apa. Kami bahagia Arsy, sangat bahagia. Ya kan Wulan," tanya Mama Wulan sambil memegang erat tangan Wulan dan mengusap lembut punggung tangan itu.


Kode itu membuat Wulan mengangkat wajahnya dan mengangguk pasrah.


"Kenapa Mama dan Wulan pindah ke rumah ini? Ada apa dengan rumah yang di depan kompleks?" tanya Arsy mulai penasaran. Ia langsung bertanya to the poin, hal yang sejak tadi membuatnya penasaran.


"Iya Ma," jawab Arsy pelan.


Arsy tidak punya pilihan lain selain menghabiskan makanan yang sudah ad di piringnya dan setelah ini mungkin Arsy akan mendapatkan jawaban yang enak dan memuaskan.


Skip ...


"Kita sebenarnya mau kemana Bu? Lalu kita mau membeli apa untuk mendukung acara di Bali nanti?" tanya Teddy yang sejak tadi hanya mengikuti arahan Bu Lina.


Bu Lina hanya diam, hatinya tak tentu arah sejak melihat cincin yang melingkar di jari manis Teddy.


"Kita mau bahas masalah susunan acara di Bali selama tiga hari. Kemarin saya dapat data dari tour dan travel yang bekerja smaa dengan sekolah. Mereka membuat susunan acara kemana saja tempat yang akan di kunjungi beserta dnegan waktunya. Nah, sekarang giliran kita yang menentukan acara apa saja yang akan kita lakukan selama berada di tempat yang telah di tentukan. Mungkin, makan siang dimana? Atu tempat berbelanja dnegan waktu sekian atau ada waktu khusus untuk anak -anak konsultasi masalah judul untuk tugas akhir sebagai syarat untuk mengikuti ujian akhir nasional, ucap Bu Lina pelan.


"Oke baiklah. Kalau tidak salah kita ada lima bis yang berangkat. Dengan posisi di setiap bis ada tiga sampai lima guru yang mendampingi? Agar anak -anak bisa terpantau dnegan baik. Ini perjalanan jauh bukan hanya perjalanan antar kota. Kita menyebrangi lautan," ucap Teddy lantang. Sebenarnya ia lebih mengkhawatirkan Arsy. Gadis labil itu sepertinya tidak pernah bepergian jauh menggunakan angkutan umum, bisa jadi Arsy mabuk laut juga selama di kapal untuk penyebrangan.


"Benar Pak. nah di depan itu belok kiri lalu masuk gerbang saja," titah Bu Lina pelan.


Teddy menuruti dan langsung masuk gerbang lalu sudah berada di salah satu halaman rumah. Rumah itu sangat etnik dan terlihat kuno namun elegan.


"Ini tempat apa?" tanya Teddy yang bingung.

__ADS_1


"Ini rumah saya Pak. Tapi di belakang bangunan ini, bangunan depan ini joglo lalu di belakangnya adalah rumha singgah. Dan di belakang rumah ini rumah saya dan bapak ibi saya," jawab Bu Lina pelan.


"Rumah singgah? Seperti losmen atau hotel?" tanya Tedddy bingung.


"Ya, Seperti itu. Tapi ada juga yang di kontrakan seperti kos -kosan," ucap Bu Lina pelan.


Teddy mengangguk paham. tapi, kenapa harus ke rumah Bu Lina untuk membicarakan ini.


"Bu ... Kita cari tempat lain saja. Gak enak kalau harus di rumah Ibu. Karena ...." ucapan Teddy pun langsung di sela oleh Bu LIna.


"Karena apa? Ini semua kan biar Bapak kenal dengan orang tua saya," ucap Bu Lina cuek. Ia berpura -pura tidak tahu tentang cincin itu. Bisa jadi, cincin itu hnaya hiasan saja bukan dengan arti khusus. Bu Lina berusaha selalu positif thinking.


"Hah? Biar kenal? Maksudnya apa ya? Saya kok semkain gak paham?" tanya Teddy yang masih duduk di dalam mobil. Teddy tak berani turun.


"Udah turun dulu Pak. Kita bisa obrolkan nanti di dalam," ucap Bu Lina pelan.


Bu Lina pun turun lebih dulu. Ia sengaja membawa Teddy ke rumahnya, karena kedua orang tuanya sudah menanyakan tentang jodoh. Harapan satu -satunya hanya Teddy, karena selama ini Bu Lina hanya dekat dengan Teddy.


Teddy meghembuskan napasnya dengan kasar. Ia tak tahu harus bicara apa. Melihat Bu Lina turun lebih dulu, Tedy pun mencoba menelepon Arsy. Baginya sebuah kejujuran dalam pernikahan itu sangat penting.


'Angakt dong Sy. Apa kamu masih marah sama saya?' batin Teddy terus menggerutu.


Arsy menatap ponselnya yang bergetar di atas meja makn. Posisinya ia masih makan siang bersama Wulan dan Mamanya Wulan.


"Angkat Sy. Pak Teddy y?" tuduh Wulan dengan tepat.


Arsy menatap Wulan dan mengangguk.


"Siapa tahu penting. Memang kamu tidak khwatir dengan keadaan suami kamu, Sy?" tanya Mama Wulan pean.


Arsy mengangguk lagi dan mencoba mengangkat telepon Teddy.


"Iya Pak. Kenapa?" tanya Arsy sedikit pelan.


Jujur ia masih malu terlihat mesra dengan Teddy, suaminya.


"Sy ... kamu baik -baik di sana? saya kok cemas," ucap Teddy pelan untuk menghilangkan rasa gugupnya.


Tadi pagi saja Arsy terlihat begitu marah dnegannya saat melihat Bu Lina berada satu ruangan dengan pintu tertutup dan mereka sedang sarapan pagi besama.


Bagaimana kalau saat ini Arsy tahu, ia sedang bersama dengan Bu Lina dan lbih parahnya Bu Lina sengaja menjebaknya untuk main ke rumahnya dengan maksud tujuan lain.


"Arsy baik -baik saja. Arsy lagi makan siang sama Mama Wulan. Pak Teddy dimana? Katanya urusan kepanitiaan, kok kayaknya sepi," ucap Arsy mulai peduli dan resah.


Arsy masih duduk di kursi makannya dan berbicara sedikit berbisik. Namun suaranya tetap saja terdenganr jelas oleh Wulan dan Mamanya Wulan karena menyimak betul pembicaraan pasangan muda itu.

__ADS_1


"Nanti pulangnya saya jemput. Kamu di sana saja ya. Jangan pergi -pergi," titah Teddy pelna lalu sambungan telepon itu mati begitu saja tanpa Arsy menjawab.


__ADS_2