
Dengan cepat Teddy langsung memakai kaos oblongnya dan celana pendeknya. Beberapa kali Arsy berteriak kesal sambil mengintip juga. Jiwa mudanya tentu meronta -ronta melihat sesuatu yang halal.
"Gak usah ngintip gitu, Sudah halal juga. Mau di lihat dan di pelototin juga gak masalah. Mau lihat yang polos?" goda Teddy sambil menahan tawanya.
"Ahhh ... Gak. Siapa juga yang lihat." jawab Arsy ketus.
Arsy langsung menurunkan tangannya dan menutup wajahnya dengan selimut. Sedangkan Teddy yang sejak tadi menatap Arsy pun hanya menggeleng -gelengkan kepalanya saja. Rasanya ingin tertawa ngakak melihat tingkah polah Arsy yang lucu.
Pelan Teddy pun ikut tidur di sebelah Arsy. Pertama Teddy hanya duduk di tepi ranjang itu dan menatap tubuh Arsy yang sudah trbungkus rapat dalam balutan selimut.
Teddy pun mematikan lampu kamar, ia terbiasa tidur dalam gelap. Selain baik untuk kesehatan mata, tidur dalam keadaan lampu padam itu lebih terasa nyaman dan nyenyak.
Baru juga mengangkat kedua kakinya naik ke atas ranjang. Arsy yang sepertinya belum tertidur. Tiba -tiba Arsy berteriak keras.
"Jangan dekat -dekat. Guling di tengah sebagai pembatas. JAngan di pindah." teriak Arsy mengingatkan. Ia berteriak di bawah selimut tebalnya dan kemudian memejamkan kedua atanya. Tubuhnya terasa sangta lelah sekali.
"Iya." jawab Teddy pasrah.
Pernikahannya ternyata tak seindah seperti di bovel -novel atau cerita sinetron yang sering ia lihat. Pernikahan karena perjodohan ternyata haus mengalami masa -masa seperti ini. Masa - masa salah satu pasangan tidak bisa menerima dengan ikhlas. Padahal kalau sama -sama mau mengerti mereka bisa saling mengenal, memahami, melengkapi. Tapi pada kenyataannya ego mereka masih sangat besar, dan yang ada hanya rasa gengsi yang besar untuk menjatuhkan sedikit harga drinya.
Malam pertama pernikahan mereka pu terlewati dengan kesunyian dan kepulasan tidur. Bagaimana tidak, seharian mereka beraktivitas dan mendadak menikah karena sesuatu hal yang tak bisa di hindari.
Pagi -pagi buta, Teddy terbangun. Suara adzan shubuh menggelitik telinganya untuk segera bangun dan berwudhu. Ia menoleh ke arah samping, Arsy masih terlelap pulas. Selimutnya sudah turun hingga perut dan wajah cantik Arsy terihat lelah saat tidur.
"Cantik," batin Teddy yang menatap kagum wajah Arsy.
"Eummm ...." Arsy mendesis pelan. Kedua matanya perlahan membuka pelan dan menatap ke arah Teddy.
__ADS_1
Tatapan Arsy begitu lekat dan dalam. Arsy lupa kalau ia sudah menikah. Arsy yang tak sadar pun langsung terduduk dan ingin berteriak kencang.
Dengan cepat Teddy langsung menutup mulut Arsy dengan tangannya.
"Jangan berteriak. Ini masih pagi. Ini aku, suamimu," ucap Teddy pelan mengingatkan.
"Suami?" tanya Arsy yang tak percaya.
"Iya. Kamu lupa kita sudah menikah? Ini buktinya," ucap Teddy pelan sambil menunjukkan jari manis sebelah kanan yang udah terlingkar cincin emas yang sangat cantik.
Arsy menatap jari tangan Teddy dan menatap ke arah jari tangannya sendiri. Otaknya mulai berpikir dan mencari jawabannya sendiri. Ya, benar sekali kemarin baru saja mereka menikah.
"Sudah ingat? Apa masih amnseia?" tanya Teddy kemudian.
"Ingat." jawab Arsy pasrah.
"Sholat yuk. Aku akan jadi imam untukmu mulai hari ini, Arsy," titah Teddy pelan.
Jawaban Arsy hanya dengan anggukan. Arsy sudah berjanji pada Bunda Bella untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Arsy mencoba menerima semuanya dengan ikhlas. Mencoba saja, kalau ada hal yang tak di sukai tentu ia akan berontak. Maklum, Arsy kan masih muda tentu gadis itu masih labil dalam berpikir dan bertindak. Teddy sebagai suami harus ekstra sabar menghadapi istri yang masih belia seperti Arsy.
Arsy langsung turun dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk berwudhu dan menyiapkan perlengkapan sholat. Ia menggelar dua sajadah di lantai agak menjorok ke depan untuk Teddy sebagai imam dan satu sajadh lagi untuk dirinya tepat di belakang samping Teedy. Mungkin dnegan pernikahan ini, Arsy akan lebih rajin lagi melakukan kewajibannya sebagai umat muslim.
Senyum Teddy sumringah melihat sajadah yang sudah terhampar di lantai. Arsy yang sudah selesai memakai mukena pun ikut tersenyum membalas senyuman Teddy yang begitu terlihat manis dan tampan. Tetesan air wudhu di wajahnya pun membuat lelaki dewasa itu semakin menarik hingga membuat Arsy tak berkedip menatap Teddy yang kini sudah menjadi suaminya.
"Ganteng banget sih." batin Arsy sambil menatap kagum wajah Teddy.
Teddy nampak cuek dan terlihat biasa saja. Padahal hatinya ikut bergetar dan jangan di tanya jantungnya juga ikut berdegup kencang saat kedua mata mereka saling bertemu dan saling mengagumi.
__ADS_1
"Sudah siap? Kita mulai sholat berjamaah ya," titah Teddy dengan suara lembut.
Teddy pun mulai mengimami sholat perdana berjamaah dengan istrinya. Pagi itu terasa berbeda, adem, nyaman, dan terasa indah saja. Baik Teddy dan Arsy sama -sama merasakan ketenangan dan kekhusyukkan hingga sholat itu selesaiakn di laksanakan.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Non Arsy, Den Teddy ... Bunda sudah memanggil mau sarapan bersama sebelum berangkat ke Bandara," ucap Mbok Yum pelan dari arah luar.
Arsy yang sedang melipat perlengkapan sholatnya pun sedikit kaget dengan ucapan Mbok Yum dari arah luar. Sedangkan Teddy nampak biasa saja, karena sejak malam hal ini sudah di bahas. Tatapan Arsy kini berganti ke arah Teddy yang sedang mengganti kaosnya.
"Pak Teddy tahu sesuatu? Kenapa Bunda mau ke Bandara? Kenapa Arsy tidak tahu?" tanya Arsy pelan kepada Teddy.
Teddy berjalan meghampiri Arsy. Teddy berlutut di depan Arsy yang nampak bingung dan polos tak tahu apa -apa.
"Kamu mau mendengarku sebentar saja?" tanya Teddy pelan sambil menggenggam tngan ARsy yang mulai dingin. Entah kenapa Arsy merasa cemas, seperti ada hal yang bakal tidak enak di dengarnya.
Arsy mengangguk pelan. Ia penasaran.
"Jelaskan pada Arsy." pinta Arsy lembut sambil menahan rasa kecewanya di dalam hati.
"Papah sakit. Beliau harus berobat ke London bersama Bunda. Bunda dan Papah tidak mau kamu bersedih. Mereka menikahkan kita berdua, agar saya bisa menjgakamu dengan baik Arsy." ucap Teddy pelan sekali menjelaskan secara runtut.
"Apa? Papah sakit? Papah tidak pernah cerita pada Arsy? Begitu juga dengan Bunda? Kenapa?" teriak Arsy yang histeris.
Mungkin hal ini terasa berat karena kaget dengan berita yang tiba -tiba. Teddy pun berusaha menenangkan ARsy dan memeluk gadis itu yang terus menangis.
"Kamu hasrus ikhlas Arsy. Jangan menangis seperti ini. Kalau kamu begini, tentu Papah akan merasa sedih meningglakan kita di sini. Papah ingin berobat agar sembuh dan bisa berkumpul dengan kita kembali," ucap Teddy pelan menjelaskan.
__ADS_1
Arsy masih memejamkan kedua matanya. Ia tidak tahu lagi harus mengekspresikan berita ini seperti apa.
"Arsy ...." panggil BUnda Bella dari arah luar kamar Arsy.