Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
TATAPAN SINIS


__ADS_3

Pembicaraan Arsy dan Wulan terlihat kaku sekali. padahal mereka berbicara melalui sambungan telepon tapi terkesan bukan berbicara pada seorang sahabat.


Arsy terlihat malas menanggapi tai juga tidak mau mengabaikan. Sambil memejamkan kedua matanya Arsy hanya menjawab beberapa pertanyaan Wulan dengan singkat. Tak lama sambungan telepon itu di tutup dan ponsel Arsy di letakkan kembali ke pangkuannya.


Teddy hanya elirik sekilas dan kembali fokus menyetir kembali. Kini berganti ponselnya yang berbunyi, Riana, sekertarisnya sedang meneleponnya.


"Ya, Riana? Saya sudah berada di jalan. Setengah jam lagi sampai. Siapkan saja ruang rapatnya," titah Teddy dengan suara tegas.


Arsy hanya mendengarkan dengan kedua mata yang masih terpejam. Tak lama, mobil Teddy pun sudah masuk ke dalam gedung perkantoran yang sudah tak asing lagi bagi Arsy. Beberapa kali Arsy di ajak Bunda Bella untuk mengantarkan makan siang untuk Sang Papa atau mengantarkan snack untuk rapat. Tapi, tidak ada yang pernah tahu, kalau Arsy adalah anak Papah, Sang Pemilik perusahaan. Ingatan Arsy jadi rindu kepada Bunda Bella dan Sang Papa.


"Sudah sampai. Yuk, masuk," titah Teddy pelan.


Teddy mengambil tas yang berii laptop dan beberpa berkas yang di tumpuk. Lalu keluardari mobil dan mengunci mobil itu.


Arsy berjalan di belakang Teddy, sambil menggendong tas ransel sekolahnya. Ia malah terlihat seperti anak kecil yang sdenag di bawa pergi.


"Tahu gitu tadi tetap sekolah. Ngapain juga bawa perasaan tentang Wulan dan Bismo. Toh, Arsy juga sudah menikah, lebih ganteng lagi," lirih Arsy menggerutu.


Ternyata ikut Teddy ke kantor itu bukan pilihan baik. Benar kata Teddy tadi, ia akan jenuh seharian hanya duduk di dalam ruangan sempit. paling hanya bisa memainkan ponsel saja.


Saat memasuki gedung kantor, Teddy yang memang sudah di kenal oleh banyak orang pun sangat di hargai. Semua orang menyapa dan menunduk kecil sebagai tanda penghormatan.


Teddy berjalan memasuki lift dan di ikuti oleh Arsy. Di dalam lift itu sekitar ada enam orang termasuk Teddy dan Arsy. Beberapa orang menyapa dan tersenyum ramah kepada Teddy dan beberapa orang memandang aneh kepada Arsy.


Teddy keluar lift dan Arsy tetap mengekor. Banyak orang menatap Arsy dengan tatapan tak suka.


"Masuk," titah Teddy kepada Arsy yang masih melihat ke sekeliling kantor itu.


Arsy pun masuk dan Teddy menutup kembali ruangannya. lalu menutup tirai ruangan itu agar tak bisa di lihat dari luar.


Arsy berjalan di salah satu sofa dan melepaskan tas ranselnya.

__ADS_1


"Kenapa harus di tutup juga tirainya?" tanya Arsy pelan.


Teddy sudah berada di meja kerjanya dan merapikan ebberapa berkas yang di bawanya tadi.


"Gak enak aja kalau di lihat dari luar. Kamu gak lihat semua karyawan tadi melihatmu aneh. Itu karena seragam kamu," ucap Teddy pelan.


"Seragam? Salah gitu Arsy pakai putih abu?" tanya Arsy pelan. Arsy berjalan menuju meja kerja Teddy. Melihat Teddy yang terlihat sibuk sekali dengan semua berkas -berkasnya.


"Bukan salah Sy. Tapi coba kamu bercermin dan lihat apa yang salah dari pakaian kamu," titah Teddy pelan.


Arsy membalik tubuhnya dan mencari kaca besar yang ada di kantor. Ia mulai berkaca. Tubuhnya yang terlihat berisi dengan rok pendek bahkan memang terlihat sangat pendek sekali dengan kemeja putih tidak di masukkin dan sangat cocok dipakai oleh pelajar SD. Rambutnya yang tergerai indah hanya di pakaikan bandana.


"Bagus. Cantik juga. Rapih," jawab Arsy pelan.


Teddy mengangkat wajahnya dan menatap Arsy. Teddy pun bangkit berdiri dan menghampiri Arsy yang masih bercermin menatap pantulan dirinya yang semkain terlihat cantik.


Bahu Arsy di pegang Teddy dan kepala Teddy sengaja di sanggakan di bahu Arsy dan keduanya sama -sama menatap pantulan dirinya di depan cermin.


"Modus." jawab Arsy ketus.


"Kok di bilang modus sih. Saya serius sayang," ucap Teddy pelan.


Tangan Teddy pun melingkar di depan perut Arsy. Pelukan Teddy dari belakang itu pun semakin hangat dan rapat hingga Arsy sedikit terbuai dengan itu semua.


Tok ... Tok ... Tok ...


Suara ketukan pintu ruangan yang keras membuat Teddy dan Arsy terkejut. Dengan cepat Arsy melepaskan tangan Teddy yang ada di perutnya. Ia tidak mau orang -orang di kantor tahu.


"Kenapa di lepas?" goda Teddy pelan.


"Malu Pak," jawab Arsy pelan.

__ADS_1


Arsy pun kembali duduk di sofa dan memainkan ponselnya. Satu kakinya di angkat ke kaki yang lain.


"Masuk," jawab Teddy keras saat ia sudah kembali duduk di balik meja kerjanya.


Tampak seorang wanita masuk ke dalam ruangan tersebut, dengan rok span yang pendek dan terlihat sempit dan kemeja perempuan tunik dnegan leher rendah hingga belahan dadanya sedikit kelihatan.


Wanita itu menatap Teddy dan tersenyum manis, lalu melirik ke arah Arsy yang sejak tadi juga menatap wanita itu.


Dengan gemulainya menggunakan sepatu high heels wanita itu berjalan bagaikan model yang sedang berjalan di atas cat walk.


"Pak Teddy, ini berkas untuk rapat nanti. Silahkan di cek dulu," ucap wanita yang terlihat manis dengan suara yang di buat -buat.


"Oke Riana. Nanti saya cek," jawab Teddy yang terlihat cuek dan dingin.


"Iya Pak," jawab Riana pelan. Riana masih saja berdiri di samping Teddy dan menunggu sang direktur mengecek pekerjaannya. Semua itu tak luput dari pandangan Arsy.


Teddy menoleh ke arah Riana yang masih terus berdiri bagai patung.


"Kenapa masih berdiir di situ?" tanya Teddy ketus.


"Tadi kata Bapak mau di cek dulu?" jawab Riaa yang tak mau kalah.


"Ya memang saya bilang begitu. Tapi tidak perlu juga menunggu saya mengecek. Nanti juga kita ketemu di ruang rapat. Berkas ini pasti saya bawa ke sana," jawab teddy pelan.


"Iya Pak. Maaf," jawab Riana yang terlihat malu.


Riana pun bergegas pergi dari sana. Tadinya ingin memperlihatkan kedekatanya dengan Teddy pada anak ingusan yang duduk di sofa. Riana tidak tahu, kalau Teddy sudah menikah, dan anak yang di anggap ingusan itu adalah istrinya.


"Riana. Tolong kalau pakai pakaian jangan terbuka seperti itu. Biasanya kamu baik dalam berpakaian kenapa hari ini kamu terlihat sangat buruk," ucap Teddy menasehati.


"Iya Pak. Saya bawa jas kok. Nanti saya pakai jas," jawab Riana masih berusah membela diri.

__ADS_1


Riana keluar dari ruangan itu dan menutup kembali pintu ruangan itu dnegan pelan. Dalam hati Riana kesal dan malu, ia di permalukan di depan anak ingusan yang entah siapanya sang direktur. Padahal cara berpakaiannnya juga sama ketatnya dan sama pendeknya.


__ADS_2