
Aroma parfum pelakor itu hampir sama semua. Wangi yang sangat tajam hingga membuat gatal di hidung. Pantas saja, banyak lelaki menjadi gatal -gatal, mungkin memang parfumnya di buat sedemikian rupa agar lawan jenis menjadi tergoda dan merasa gatal.
"Lagi makan apa? Mau es krim?" tanya Ivana dengan gaya yang sudah sok akrab.
"Arsy menggelengkan kepalanya cepat. Dengan santainya Arsy masih tetap memotong roti isi dagingnya dengan di cocol saus sachet yang di dapat di dalam bungkusan roti itu.
"Sudah berapa menikahnya?" tanya Ivana sambil menatap cincin yang ada di jari Arsy.
"Sebulan," jawab Arsy singkat.
"Oh ... Terus kenalnya udah lama?" tanya Ivana masih berusaha mencari keterangan.
"Kita kan di jodohkan. Jadi, gak kenal. Arsy juga gak tahu kalu mau di nikahkan saa guru Arsy sendiri," ucap Arsy pelan.
__ADS_1
"Oh ... Gitu," jawab Ivana merasa menang selangkah.
Arsy masih berusaha menghabiskan roti isi daging itu sebelum ia membuka roti kedua yang berbentuk menyerupai pizza dan biasa di sebut sebagai roti pizza dengan toping keju dan sosi yang begitu banyak di atas rotinya.
"Tapi ... Selera kalian beda ya? Teddy tuh gak suka sama roti isi daging begitu. Dia lebih suka yang seger, kayak pie buah, atau puding," ucap Ivana sedikit ketus.
"Hemmm ... Iyakah? Arsy malah baru tahu," ucap Arsy santai. Ia seolah tak peduli. Sudah cukup ia di uji sama ulet keket begini. Arsy selalu ingat kata -kata Bunda Bella yang selalu bilang, tidak semua orang yang kamu temui itu adalah orang yang bisa kamu percaya. Mereka memang baik, care, perhatian tapi tidak sepenuhnya bisa di percaya, di andalkan dan amanah. Karena apa? Setiap manusia itu pasti punya sisi baik, tapi setiap manusia bisa membaca situasi baik untuk di manfatkan demi keuntungan kepentingan pribadinya.
"Masa iya kamu gak tahu? Bukankah kalian sudah menikah? Harusnya kamu tahu dong? Apa yang di sukai Teddy? Apa yang gak di sukai Teddy? Satu lagi, dia hobby memasak," ucap Ivanasengaja membuat Arsy panas.
"Udah selesai ngomongnya? Atau mau Arsy kasih waktu buat pidato? Biar durasinya agak panjang?" tanya Arsy mulai geram.
Tatapan Ivana begitu tajam seakan -akan menghujam ribuan jarum kebencian kepada Arsy.
__ADS_1
"Hemm ... Lagi PMS ya? Kok galak banget? Saya baik -baik datang untuk mengajak ngobrol kamu, Sy," ucap Ivana berusaha tenang dan santai kembali. Emosinya yang sempat naik pun harus segera di redam agar bisa kembali di kondisikan situasinya.
"Gak kok. Gak perlu sok tahu. Udah ah, mau naik lagi. Paling gak enak, lagi sendiri ada yang ganggu," ucap Arsy pelan.
Arsy langsung bangkit berdiri dan membawa kantung plastik yang masih berisi beberapa roti yang ada di dalamnya. Dengan hati kesal ARsy mencoba untuk tidak benci pada Ivana. Jleas, niat Ivana sedang membuat Arsy marah dan panas. Situasi seperti ini tak mungkin bisa di hindari bukan.
Ternyata memang, Teddy itu begitu sangat sempurna, hingga banyak wanita di masa lalunya yang merasa tidak percaya kalau Teddy sekarang sudah menikah.
"Arghh ... Dasar bocil tengil. Di kira gw seneng main samadia. Kepept nih, kalau bukan emang pengen ambil hati Teddy, gw juga ogah. Secara, apa sih kelebihan bocil itu sampai Teddy begitu terlihat sayang," ucap Ivana mulai kesal sendiri. Kedua matanya mulai mengedar ke segala penjuru dan mencari cara lain yang lebih trelihat eegan dan berkualitas.
Ting ...
Arsy sudah berada di lantai yang di tuju. Saat pintu lift terbuka tepat di depannya ada Teddy yang juga mau masuk dnegan beberapa rekan dan kliennya serta satu perempuan yang berusaha mengajaknya bicara. Perempuan muda dan dari gaya terlihat sangat kaya dan cerdas.
__ADS_1
Kedua maa Teddy dan Arsy pun saling bertatap dan akhirnya Arsy memilih menunduk lalu berjalan keluar. Bahunya sengaja di tabrakan pada Teddy sebagai suatu isyarat. Ya, tepat Arsy makin di buat cemburu. Kenapa sih, Teddy itu selalu berhubungan dnegan wanita. Hatinya mulai panas, pikirannya pun mulai terbang entah kemana. Di otaknya hanya ingin marah, marah dan marah saja.