Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
JAM KOSONG


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama Arsy dengan status baru sebagai tunangan dari Guru BP -nya sendiri.


Sejak pagi dirinya tidak fokus pada pelajaran.Di tambah lagi, Bismo sedang sibuk dengan urusan organisasi OSIS -nya dan sedikit mengabaikan Arsy.


"Sy?" panggil Wulan yang tiba -tiba datang dan mengagetkan Arsy dalam lamunannya.


"Eh ... Kamu, Lan. Udah selesai remedialnya? Lama banget?" tanya Arsy yang masih memangku dagunya dengan kedua punggung tangannya.


"Ekhemm ... Sebnarnya sudah selesai dari tadi. Tapi, mendadak pusing kepala, jadi istirahat dulu deh di UKS. Denger -denger guru matematika gak datang dan kelas sebelah yang ngisi Pak Tedy," ucap Wulan pelan.


Raut wajah Arsy pun langsung berubah seketika. Duduknya di tegakkan dan tangannya turun ke bawah. Sedikit cemas dan tegang.


"Pak Teddy?" tanya Arsy mengulang kembali. Risih rasanya kalau begini. Setiap hari harus bertemu. Setiap saat bisa menjadi pengisi pelajaran yang kosong.


Wulan mengangguk pelan.


"Ya. Pak Teddy. Guru BP kita. Tunangan kamu, Sy," ucap Wylan serius setengah berbisik.


"Ssutt ... Jangan buka rahasia," ucap Arsy pelan. Kini kepalanya malha sengan di letakkan di meja kelas yang di paainya dengan alas lengan tangannya snediri.


"Kamu gak jajan?" tanya Wulan pelan.


"Gak. Lagi gak pengen. Nanti pulang sekolah nongkrong yuk. Di tempat es krim biasanya," ucap Arsy pelan. Ia sudah membayangkan es krim cokelat yang dingin dan manis masuk ke dalam mulutnya.


"Boleh. Bukannya tadi di jemput Bismo?" tanya Wulan pelan. Wulan melihat di jalan Arsy dan Bismo sedang berboncengan tentu mereka pergi bersama ke sekolah.


"Iya. Tapi, Pak Teddy balikin mobil." jawab Arsy pelan sambil menunjukkan kunci mobil yang ada di kantong saku depan kemeja putihnya.


"Oke. But the way. Jari manisnya kelihatan makin manis," tawa Wulan langsung menggoda Arsy yang masih bete degan kejadian hari ini.


"Bawel." jawab Arsy kesal.


Waktu istirahat pun selesai. Wulan dan Arsy sudah duduk di kursinya masing -masing.

__ADS_1


Tepat sekali, apa yang di ucapkan Wulan tadi. Pelajaran terakhir kosong, dan Pak Teddy mengisi pelajaran kosong itu dengan bimbingan konselingnya.


"Sekarang masukkan semua bukupelajaran kalian ke dalam tas. Kita akan sedikit bermain hingga bel pulang berbunyi," ucap Teddy dengan senyum yang terlihat ramah sekali mengedar ke seluruh ruangan.


Tidak biasanya wajah Teddy begitu terlihat ramah dan baik. Biasanya semua siswa akan selalu melihatnya dalam raut wajah yang jutek, judes, nyebelin dan tidak ada baik -baiknya. Kalau siang ini, lebih terlihat macho, sedikit konyol dan sangat berbeda sekali dari biasanya. Senyumnya itu tak pernah berhenti hingga lesung pipi di kedua pipinya itu membuat Pak Teddy semakin tampan.


"Kita mau main apa, Pak?" tanya seoarng siswa dari arah belakang.


Tatapan Teddy mengedar ke semua siswa dan terhenti pada siswa yang mengajukan pertanyaan tadi.


"Ada ide? Mau main apa? Atau mau konseling? Lebih cerit tentang semua masalah, dari pendidikan, pertemanan, sahabat, jodoh, pacar? Kita bisa sharing," ucap Teddy pelan.


"Bisa Pak? lebih baik sharing saja," ucap satu siswa yang lebih senang mendegar pengalaman orang lain sebagai pembelajaran.


"Oke. Kalian mau tulis di kertas? Biar nanti saya bacakan satu -satu? Atau mau langsung saja?" tanya Teddy melemparkan opsi.


"Lebih baik pakai kertas Pak. Lalu, Bapak bacakan satu per satu tanpa tahu siapa pembuat pertanyaan itu dan Bapak menjawab," ucap Wulan pelan.


"Oke. Begitu juga baik. Silahkan tulis pertanyaan kalian, apa saja. Lalu, kumpulkan ke depan, dan saya akan membaca satu -satu pertanyaan kalian." titah Pak Teddy dengan suara tegasnya.


Semua siswa dan siswi di kelas itu sibuk dengan satu hingga dua pertanyaan yang menurut mereka memang perlu di tanyakan. Ada juga siswa atau siswi yang hanya ingin mengetahui identitas Guru muda yang tampan itu.


"Sekarang kita baca satu -satu dan akan saya jawab," ucap Pak Teddy pelan.


Gulungan dan lipatan kertas itu berada di meja paling depan. Pak Teddy berdiri dan membuka satu per satu lalu membacakannya.


"Pak Teddy, lulusan apa? Pertanyaannya kenapa malah tentang saya?" tanya Pak Teddy sambil mengernyitkan dahinya.


"Namanya juga pertanyaan Pak. Bebas dong, adn wajib di jawab," ucap seorang siswi tiba -tiba nyeletuk.


"Baik akan saya jawab. Saya lulusan magister di luar negeri," ucap Teddy pelan.


"Lanjut Pak," ucap Tita dari arah belakang. Tita adalah gadis idaman para kaum adam di sekolah.Banyak lelaki memuji kecantikan Tita.

__ADS_1


"Pak Teddy sudah punya pacar belum?" ucap Pak Teddy membaca prtanyaan yang bersifat pribadi.


"Kalau punya kenapa? Kalau belum punya kenapa?" tanya Teddy melempar pertanyaan.


"Jawab dong Pak. Harus jujur," ucap Tita pelan sambil menggulubgkan rambutnya.


"Oke. Lihat cincin ini? Saya sudah punya tunangan," ucap Teddy dengan nada yang tegas. Sekilas ia melirik ke arah Arsy yang hanya menunduk sambil memainkan pulpennya di tangan.


"Wah ... Sudah punya tunangan Pak? Bapak kan masih muda? Cantik gak Pak, tunngan Bapak?" tanya seorang siswa dengan berani.


"Tentu cantik. Dia pilihan saya sejak lama. Saya sudah jatuh hati sejak pertama kali bertemu," ucap Teddy pelan.


Wulan yang menyimak penjelasan jawaban Teddy pun langsung melirik ke arah Arsy yang ternyata sedang menatap Teddy.


"Siapa namanya Pak?" tanya Tita yang terus penasaran dengan guru tampannya itu.


"Ada. Kalau itu rahasia," jawab Teddy sambil tersenyum.


"Bukan anak SMA kan Pak? Bapak gak mau punya pacar murid sendiri? Karena saya mau jadi pacar Bapak atau jadi selingkuhan Bapak?" ucap Tita sambil tertawa.


Sontak ucapan Tita pun membuat Arsy dan Wulan menoleh ke arah belakang tepat di mana Tita duduk.


"Kenapa Sy? Kok, kamu ngelihatin aku gitu/ Kamu juga suka sama Pak Teddy?" tanya Tita geram. Arsy memang selalu di anggap riva oleh Tita. Mereka sama -sama cantik luar biasa, mereka sama -sama mempunyai talenta lebih, dan mereka saa -sama banyak di gilai oleh kaum adam. Dulu Tita dan Arsy pun sengit untuk mendapatkan Bismo, ternyata Bismo lebih menyukai Arsy yang lemah lembut di bandingkan Tita yang sedikit bar -bar.


"Aku? Suka sama Pak Teddy? Lupa? Kalau aku sudah ada Bismo?" ucap Arsy tak kalah ketus. Arsy pun menoleh kembali menatap ke arah depan tepat pada kedua mata Teddy yang sedang menatap dirinya. Namun, Arsy tak peduli dengan tatapan Teddy.


"Tita ... Kamu itu masih muda, perjalanan hidup kamu masih sangat panjang untuk bisa sukses dan mengejar semua impian serta cita -cita kamu," ucap teddy pelan.


"Tapi ... bapak kan sudah mapan. Kalau memang sudah ada yang mapan untuk apa kita mengejar impian, kalau impian saya hanya bisa hidup bersama dengan Bapak," jawab Tita tak mau kalah.


Jawabannya mendapat sorakan dan tepukan riuh dari teman -teman Tita seisi kelasnya.


Entah kenapa, Tita mengatakan itu membuat Arsy sedikit cemburu.

__ADS_1


__ADS_2