Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
TIDAK ADA HAK


__ADS_3

Arsy dan Teddy pun turun ke bawah menuju ruang makan. Di sana sudah ada Mama tina dan Papa Baron yang sedang menyantp makan malam terlebih dahulu.


"Ma ...." panggil Teddy pelan yang berjalan di depan da RAsy berjalan tepat di belakang Teddy. Arsy masih canggung dan malu untuk berkumpul dengan kedua mertuanya.


"Hey ... Pengantin baru. Sini makan malam. Ini Mama yang masak. Arsy wajib mencicipi," ucap Mama Tina sengaja berdiri menghampiri Arsy dan mengajak Arsy duduk di kursi yang telah di sediakan.


Hal ini membuat Arsy semakin merasa tidak enak. Mama Tina dan Papa Baron sama baiknya seperti Papah dan Bunda Bella. Keduanya menyayagi ARsy sudah seperti anaknya sendiri bukan perlakuan sebagai menantu.


Teddy pun duduk tepat di samping Arsy.


"Sebenarnya anak kandungnya siapa? Kenapa jadi ARsy yang di perahtikan," ucap Teddy yang merasa tersaingi. Biasanya Mama Tina begitu perhatian kpada dirinya.Mengambilkan piring dan emngisi nasi serta lauk pauknya untuk di santap oleh Teddy. Tapi kini, Mama Tina lebih memperhatikan Arsy sebagai anggota baru di keluarganya agar terbiasa dan tidak canggung.


"Teddy ... Umur kamu buka bocah empat tahun yang harus di suapi terus oleh Mamah kamu.Kamu juga sudah menikah, tugas dan tanggung jawab Mama tentu beralih kepada istrimu," ucap Papah Baron pelan dan santai menjelaskan. Tidak hanya itu, Papa Baron sengaja ingin menasehati kedanya agar bisa hidup berkeluarga dengan baik. Tugas dan tanggung jawab setelah menikah tentu akan berbeda saat sebelum menikah.


Sekilas Arsy menatap ke arah Papa Baron. Arsy paham, nasehat itu tentu juga untuk dirinya karena pernikahan ini anatra dirinya dan Teddy.


"Mau cicip masakan Mama yang mana? Biar Mama ambilkan?" tanya Mama Tina pelan.


Arsy menoleh ke arah Mama Tina dan tersenyum manis.


"Biar Arsy ambil sendiri Ma." jawab Arsy singkat.


Arsy berdiri dan mengambil piring lalu mengambil nasi dan beberapa lauk pauk serta sayur. Lalu meletakkan piring nasi itu di depan Teddy. TAnpa menawarkan mau makanan yang mana saja, Arsy berpikir tugas seorang istri melayani saja, cukup mengambilkan. Selain itu, Arsy juga kan belum tahu apa yang di sukai oleh Teddy dan apa yag tidak di sukai, ia hanya mengambilkan menurut yang ia suka saja.


"Untuk saya?" tanya Teddy lebih meyakinkan dengan mengulum senyum. Suatu kebahagiaan tersendiri, melihat kesigapan Arsy tanpa di suruh.


"Iya. Apa ada yang salah?" tanya Arsy yang masih bingung.


"Gak ada. Terima kasih sayang," jawab Teddy dengan senyum lebar dan mulai melahap semua makanan yang ada di depannya.


Lalu, Arsy mengambil satu piring lagi untuk diirnya. Mengambil nasi dan ayam goreng. Arsy tidak suka sayur.


"Cuma ayam goreng? Kamu tidak mau cicip udang atau cumi?" tanya Mama Tina pelan.

__ADS_1


"Gak Ma. Ini saja cukup," ucap Arsy pelan.


"Gak usah malu ARsy. Biar Mama ambilkan ya?" ucap Mrma Tina pelan dan meletakkan beberapa udang dan cumi di atas piring Arsy.


"Jangan Ma," ucap Arsy pelan. Ia tak bisa menolak tapi juga ia tidak bisa makan makanan seafood seperti itu.


"Habiskan. Mama gak mau tahu. Mama tidak mau, menantu Mama kelaparan," ucap Mama Tina pelan.


Arsy terdiam. Pelan ia menyantap semua makanan itu sampai habis. Arsy sebenarnya doyan sekali dengan seafood dan makanan laut lainnya. Tapi, di kondisi tertentu, tubuhnya akan bereaksi gatal kaena alergi.


"Kamu kenapa?" tanya Teddy pelan yang masih setia menemani Arsy makan di meja makan.


Mama Tina dan Papa Baron sudah selesai sejak tadi dan meninggalkan ruang makan lebih dulu karena ada tamu.


"Tidak apa -apa. Sudah selesai kok," ucap Arsy pelan.


Arsy membereskan semua piring dan membawa ke dapur. Ia mencoba mencuci piring semua piring kotor yang ada di wastafel. Ia ingat pesan Bunda tadi di mobil sbeelum berangkat. Usahakan setelah makan kamu cuci piring. Bisa cuci piring kan? Ingat sekali Bunda Bella mengingatkan hal itu.


"Kamu mau apa Sy?" tanya Teddy ayng mengikuti Arsy menuju dapur.


"Ekhemm ... Boleh. Kamu bisa?" tanya Teddy yang ragu.


"Bisa dong. Arsy juga pernah cuci piring," jawab Arsy kesal. Ia di anggap gadis manja oleh Teddy. Gadis yang mungkin tidak bisa melakukan tugas ringan seperti ini.


Dengan cepat RAsy pun mencuci piring sebisa dia. Terlihat masih kaku dan memang terlihat tidak biasa kerja. Teddy pun hanya meirik cara kinerja Arsy dan berpura -pura membuat kopi.


"Selesai." jawab Arsy penuh kemenangan. Rak piring itu terlihat tak beraturan. Arsy hanya asal meletakkan dan tidak merapikan sesuai dengan tempatnya.


Tapi, paling tidak ini pengalaman buat Arsy sekaligus pelajaran berharga sebagai calon ibu rumah tangga yang baik.


"Sudah? Mau balik ke atas?" tanya Teddy pelan.


"Iya. Besok kan harus sekolah. Mau cek ada PR atau gak," ucap Arsy pelan.

__ADS_1


"Tinggal tanya Wulan. Hari terakhir kan kamu gak masuk," ucap Teddy pelan menyarankan.


Arsy seolah ta mau mendengar nama sahabatnya itu. IA teringat kejadian siang tadi saat berada di restaurant cepat saji. Ia melihat Wulan dan Bismo berboncengan.


Arsy nyelonong begitu saja dan menaiki tangga menuju lantai atas emninggalkn Teddy yang terpaku sediri.


"Memang saya salah bicara apa?" ucap Teddy pelan pada dirinya sendiri.


Teddy berbalik dan ikut naik ke at lalu masuk ke dalam kamar. Ia melihat RAsy membuka buku -bukunya dan merapikan ke dalam tas sekolahnya.


Teddy berjalan ke arah meja kerjanya. Meletakkan segelas kopi di atas meja itu.


"Kamu kenapa Sy?" tanya Teddy pelan


Arsy menutup resleting tasnya dan menatap Teddy yang sudah berdiri di depannya.


"Gak apa -apa. Cuma lelah aja," jawab Arsy singkat. IA berjalan menuju kamar mandi namun tangannya di tarik oleh Teddy dan tubuh mungil itu di peluk oleh Teddy.


Teddy tahu, istri belianya sedang berpikir sesuatu ha.


"Ada masalah dengan Wulan?" tanya Teddy kemudian.


"Gak ada." jawab Arsy singkat sambil menatap lekat kedua mata Teddy.


Arsy tidak sedang ingin membahas itu.


"MAu jujur atau mau di cium?" tanya Teddy mengancam.


"Apaan sih Pak. Kita ini hanya di jodohkn. JAdi jangan seolah -olah Bapak berhak atas seluruh kehidupan Arsy. Arsy paling tidak suka di kekang," ucap Arsy ketus dan mendorong tubuh Teddy yang sejak tadi mendekap erat.


Arsy langsung berjalan cepat menuju kamar mandi untuk membersihkan wajah dan menggosok gigi sebelu ia akan tertidur.


Kini, Arsy sudah berada di tempat tidur. Menutup setengah tubuhnya dengan selimut sambil memainkan ponselnya. Hampirsatu hari ini ia sibuk hingga tidak memegang ponsel. Teddy masih berkutat pada laptopnya dan duduk fokus di meja kerjanya.

__ADS_1


Wulan mengirim pesan singkat pada Arsy. Ia mengatakan bahwa Ia melihat Bismo dengan adik kelas yang lain tadi siang di salah satu restauran cepat saji.


"Arsy hanya menggeengkan kepalanya dan memutar dua bola matanya dengan malas. Sahabatnya sendiri tega menikan ia dari beakang. Jleas tadi ia lihat Wulan dan Bismo bergandengana tangan lalu naik motor berboncengan. Masih melempar kesalahn pada orang lain.


__ADS_2