Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
ENAK GAK?


__ADS_3

"Serius udah?" tanya Wulan penasaran.


Arsy mengangguk kecil. Ia nampak malu sekali.


"Udah beneran. Arsy belajar kejadian kemarin. Suami minta gak di kasih, giliran kejadian kayak kemarin, Arsy harus di sentuh lelaki lain yang bukan suami Arsy," ucap Arsy pelan.


"Enak gak?" tanya Wulan sambil mengedipkan satu matanya kepada Arsy.


Arsy memutar kedua bola matanya dengan malas. Pertanyaan yang unfaedah, batin Arsy di dalam hati.


"Harus di jawab gitu?" tanya Arsy pelan.


"Iya dong. Aku kan mau tahu," jawab Wulan pelan.


Bel tanda masuk berbunyi nyaring ...


"Sudah masuk Lan. Nanti lah kita bahs lagi, ucap Arsy tertawa.


"Oke, Janji cerita ya?" jawab Wulan penasaran.


Arsy hanya mengangguk kecil. Lalu keduanya berjaln menuju ruang kleas mereka.


Bismo berdiri di depan kelas menunggu Wulan. Arsy hanya tersenyum pada Bismo dan melewatinya. Dulu memang Bismo sering ke kelasnya untuk menemuinya, mencarinya dan sekedar melihat Arsy dalam keadaan baik -baik saja. Tapi, kini, yang Bismo tunggu tentu berbeda jalur. Ia sekarang menunggu Wulan, mencari Wulan dan mengkhawatirkan keadaan Wulan.


"Kamu baik -baik saja, Lan?" tanya Bismo yang terdengar cemas.


Arsy mendengar dari kejauhan. Tapi, memang seperti itu sikap Bismo, selalu cemas, perhatian dan peduli. Kalau sudah sayang dia pasti tanggung jawab untuk menyayangi. Tapi, Arsy sudah memiliki Teddy, lelaki yang menurut Arsy lebih sempurna dari banyak lelaki yang ia temui termasuk Bismo.


"Baik. Tidak ada salah paham lagi dengan Arsy. Kamu gak perlu khawatir, Mo," ucap Wulan berusaha membuat Bismo tenang.


"Ya sudah aku ke kelas. Kamu baik -baik, kalau mual atu pusing, lebih baik ijin ke UKS, jangan di paksakan," ucap Bismo pelan.


Bismo berjalan dan tersenyum maniskepada Wulan. Semua perlakuannya kepada Wulan tidak luput dari pandangan dan pendengaran Arsy.


Wulan masuk ke dalam kelas dan duduk di sebelah Arsy.

__ADS_1


"Bau -bau bucin nih," ucap Arsy sambil tertawa.


"Harusnya aku yang bilang gitu. Kalau Bismo hanya khawatir sama bayiku," ucap Wuln berbisik.


"Baik kan Bismo? Dia memang gitu," ucap Arsy pelan.


"Pantes dulu di pertahanin. Jujur, aku biasa saja. Cuma memang agak luluh sama perahatiannya aja. Maksimal banget," ucap Wulan pelan.


Pelajaran pagi itu baru saja di mulai. Arsy yang sejak pagi memang lelah pun berkali -kali menguap karena ngantuk.


"Ngantuk?" senggol Wulan yang menatap Arsy dengan mata yang terlihat tinggal lima watt itu.


Apalagi pelajaran hari ini pelajaran bahasa inggris, benar -benar membuat mata ingin mnutup dan di sandarkan di meja.


"Banget. Cape. Terus di sini sakit kayak pegel gitu," ucap Arsy mengegrutu kesal.. Ia menunjukkan ke arah pangkal pahanya.


"Emang sakit banget? Emang Pak Teddy mainnya kasar?" tanya Wulan penasaran.


Karena waktu itu Wulan pun merasakan sakit luar biasa. Tapi, dalam waktu dua hari sakit itu tak terasa lagi. Karean yang terasa lebih ke sakit hati dan kesal pada diri sendiri.


"Gak kasar. Dia malah tanya sakit gak? Emang kayak gitu ya? Malah mau ke rumah Mama dan tanya soal ini," ucap Arsy pelan..


"Iya pasti," jawab Arsy pelan.


Hari ini hari yang sangat melelahkan sekali bagi Arsy. Akhirnya jam pelajaran terakhir pun berakhir. Seharian ini, Arsy hanya di kelas saja. Bahkan saat istirahat pun hanya di kelas menemani Wulan yang terasa mual -mual. Biar bagaimanpun juga, Wulan adalah sahabatnya. Arsy haus ada untuk Wulan di saat Wulan memang sedang membutuhkan dirinya.


"Kamu ikut study tour kan?" tanya Arsy pelan.


"Gak tahu Sy. Aku belum bayar uang study tour. Kmau tahu lah, konisi kleuarga aku sekarang semenjak Papa di penjara. Mama hanya membuka pesana kue itu pun secara online, jadi tidak setiap hari ada yang pesan," ucap Wulan.


"Sudah aku bayar Lan." ucap Bismo tiba -tiba yang datang ke kelas Arsy.


"Hah? Serius Mo?" tanya Wulan pelan.


"Iya. Ini kan syarat untuk mengikuti ujian akhir. Tadi pas istirahat, aku menemui Pak Teddy di ruangannya dan menanykan soal masalah ini. Pak Teddy siap membantu kita dan menyembunyikan masalah ini," ucap Bismo yang merasa aman.

__ADS_1


"Tapi Mo ... Perut ini lama -lama akan membesar," ucap Wulan yang merasa ragu.


"Lan ... Percaya sama Pak Teddy. Mungkin beliau punya cara tersendiri untuk bantu kamu," ucap Arsy pelan.


"Iya Sy. Aku akan semangat belajar demi cita -cita yang pernah kita impikan," ucap Wulan penuh semangat.


"Pulang yuk? Kamu harus banyak istirahat Lan," titah Bismo pelan.


"Iya. Ayuk Sy kita ke depan bareng," ajak Wulan pelan.


Ketiganya jalan bersama. Mereka sudah sama -sama memaafkan dan saling menerima.


Skip ...


Seminggu kemudian ...


Hari yang paling di tunggu seluruh siswa dan siswi kelas XII. Studi tour ke Bali adalah tour yang paling menarik sepanjang thun ini. Bukan hanya karena tujuannya tapi juga waktu yang cukup lama bisa di habiskan untuk kata liburan. Walaupun setelah ini, mereka berjuang mati -matian untuk membuat tugas akhir yang akan di kumpulkan selama dua bulan ke depan sebagai syarat ikut ujian akhir.


Tidak hanya itu saja. Setelah study tour ini, semua murid kelas XII akan mendapatkan tambahan belajar sebagai persiapan unutk menghadapi ujian akhir.


Arsy duduk di kasur sambil merapikan beberapa pakaian ke dalam koper besar. Ia memilah -milah mana yang akan di bawanya. Memang sedikit ribet. Sambil mlihat beberapa jadwal acara, ARsy menyesuaikan outfit yang akan di pakai selama berada di Bali.


"Dari tadi belum selesai juga? Sudah dua jam kamu duduk di situ?" tanya Teddy pelan sambil duduk di kasur di sisi yang lain sambil menatap Arsy yang sibuk dengan aktivitasnya tanpa terganggu.


"Kan harus di sesuaikan Mas. Acaranya apa? Pakai baju apa? Secara di sana kan bukan hanya untuk urusan bikin tugas akhir aja, kita kan liburan," ucap Arsy penuh semangat. Kedua matanya mulai berbinar membayangkan dirinya sudah berada du Pulau Bali, menatap pantai kuta yang begitu indah sambil menunggu sunset dalam pelukan suaminya. Oh ... Begitu indah kalau itu benar terjadi, batin Arsy di dalam hatinya. Pikitannya sudah melayang sampai di sana, hanya raganya yang masih berada di kamar apartemen.


"Arsy? Senyum -senyum gak jelas," ucap Teddy sambil tertawa. Lama -lama hidup satu rumah dengan Arsy dan mengenal Arsy luar dalam itu alah banyak gemasnya di bandingkan kesalnya, karena Arsy itu ceria, konyol , lucu dan unik.


"Ih ... Lagi bayangin yag indah - indah juga." cicit Arsy ketus.


"Cepet beresin. Kita makan di luar yuk?" ucap Teddy pelan.


"Oke Bos. Sekalian beli cemilan ya," pinta Arsy dengan manja.


"Iya," jawab Teddy pelan.

__ADS_1


"Memang Wulan dan Bismo mau menikah?" tanya Teddy pelan sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur.


tatapannya terus mengarah pada wajah cantik istrinya.


__ADS_2