
Keduanya sudah berada di dalam Bis pariwisata. Arsy malu bukan kepalang sampai tak berani menatap Teddy yang ada di sebelahnya.
Ia teringat kejadian yang terjadi tadi di toilet wanita. Keduanya sama -sama malu. Diam -diam mereka sama -sama menghanyutkan dan ganas di ranjang.
Belum lagi saat kulitnya tersentu tangan Teddy, arsanya merinding sekali. Mau tak mau, noda merah yang katanya sebagai bukti cinta bukan keganasan karena nafsu itu hanya di tutupi dengan hansaplast untuk sementara. Rambut Arsy di gerai menutupi pundak dan tergerai di bagian dada depan.
"Jangan gugup begitu kayak orang punya salah. Santai saja," ucap Teddy berbisik ke arah Arsy.
Arsy melirik ke arah Teddy dengan kesal sekali.
"Bukan gugup tapi kan memang malu kalau ketahuan orang," cicit Arsy yang masih kesal.
Tubuhnya bersandar di jok Bis. Dengan kedua tangan menlipat di depan dada dan memaiknakn rambut panjangnya yang menjulur melalui bagian dada depan.
"Terus nyesel?" bisik Teddy yang terus berdebat.
Arsy melngos begitu saja. Ia memilih memalingkan pandangannya dan menatap pemandangan dari arah samping kaca yang menembus ke luar.
Bukan indah lagi, pemandangan itu terlihat sangat sempurna sekali di mata Arsy.
"Bagus ya?" ucap Teddy tengah berbisik di telinga Arsy yang sedang menikmati keindahan itu dnegan kagum.
Arsy yang kget pun langsung memejamkan kedua matanya. Untung saja gak kena bogem dari kepalan tangannya. Biasanya kalau orang kaget, ia akan reflek melakukan apapun di luar kenalarannya.
"Bisa gak sih, gak bikin kaget. Lagi pula ini di Bis. Mau semua orang tahu tentang kita?" ucap Arsy semakin kesal.
"Memang Mas ngapain. Cuma berbisik. Orang juga gak akan ada yang tahu soal ini," ucap Teddy yang juga bersikeras. Maklum dong penganti baru rasanya mau berdempetan terus, tidak mau kehilangan, ikut mensupport apapaun yang di lakukan. Hampir setiap pasangan pasti melakukan itu. Bukan pengantin baru saja, orang yang masih pacaran pun akan emlakukan hal ynag sama.
Lokasi pertama adalah Tanah Lot. Semua Bis sudah parkir di tempat yang telah di sediakan. Semua siswa dan siswi sudah turun dan beralan mengikuti tour guide yang mendampingi mereka. Semua murid fokus dengan penjelasan dari tour guide. Mau tidak mau mereka harus menyimak dengan baik, karena perjalanan kali ini bukan hanya studi tour biasa tapi akan ada laporan akhir sebagai syarat ikut ujian akhir.
Beberapa orang tampak sibuk bemain ponsel, ber -swa foto di tempat -tempat yan bagus.
Wulan dan Arsy berjalan melambat. Tubuh keduanya seolah terasa sangat lelah dan capek. Apalagi jalan menuju lokasi agak menanjak da panas. Sungguh melelahkan.
Teddy berada sedikit jauh di belakang. Ia sengaja berjalan pelan untuk memantau Istri labilnya dan sahabat istrinya yang sedang hamil.
"Sy ... Aku capek. Perut keram juga, sakit banget," ucap Wulan mengeluh lirih.
Wajah Wulan memang tampak pucat sekali. Tubuhnya penuh denagn keringat. Memang hawanya panas sekali, tapi keringat itu keluar karena suhu tubuh Wulan mendingin seperti orang sedang menahan sakit.
"Lan? Kamu pucet banget. Keram banget? Sakit gitu? Istirahat saja ya?" ucap Arsy pelan.
Tangan Wulan berushaa memegang pembatas jalan untuk berpegangan dan satu tangannya lagi memegang erat tangan Arsy untuk meminta bantuan. Pandangan Wulan mulai berkunang dan bruk ... Wulan trjatuh negitu saja di jalanan.
Sontak Arsy langsung berteriak keras karena kaget dan panik melihat sahabatnya tersungkur di jalan.
__ADS_1
"Argh ... Tolong!! Wulan ... Lan ... Kamu gak apa -apa?" panggil Arsy dengan cemas.
Arsy terlihat kalang kabut dan ikut berjongkok menepuk pipi Wulan karena panik. Teddy bergegas berlari ke arah Wulan da Arsy.
"Wulan kenapa Sy?" tanya Teddy yang juga ikut cemas.
"Gak tahu. Tadi ngeluh lemes dan perutnya keraam," jawab Arsy cepat.
"Jangan -jangan? Ini ada kaitannya sama ...." ucapan Teddy langsung di sela oleh Arsy.
"Ga usah bikin panik. Gak usah ngucapin apa -apa. Sekarang kita bawa kemana?" tnya Arsy bingung.
"Ada apa ini?" tanya beberapa guru pendamping yang ikut cemas.
"Kelelhan sepertinya. Lebih baik saya bawa ke rumah sakit atau klinik terdekat. Biar saya naik taksi saja. Tolong kabari saya posisi kalian nantinya," titah Teddy kepada rekan sejawatnya.
Teddy sudah mengangkat tubuh Wulan. Bu Lina ikut berjalan di belakangnya dan Arsy pun ikut berjalan di samping Teddy.
"Arsy. Kmau ikut rombongan saja. Ini urusan guru pendamping," titah seorang guru kepada Arsy yang baru saja melangkah.
Teddy pun ikut berbalik mentap guru itu.
"Arsy sahabatnya. Bisa memberitahu orang tuanya tentang kondisi Wulan," ucap Teddy membela.
"Kalian sudah berdua. Ada Bu Lina juga. Lagi pula Arsy itu masih siswa tak akan mengerti. Lebih baik kamu masuk rombongan dan ikut penelitian di sana. Kamu mau tidak dapat nilai nantinya," ancam seorang guru yang sejak dulu memang tak suka pada Arsy.
"Kembalilah pada rombongan. Nanti Mas kabari soal Wulan. Kalau ada apa -apa kamu kabari Mas. Ingat ponsel kamu harus dalam posisi on, gak ada bantahan. Karena biar Mas mudah hubungi kamu," bisik Teddy lirih. Ia merasa bersalah tidak bisa mengajak Arsy. Ini memang aturan sekolah jadi tidak mungkin di bantah.
"Tapi ...." rengek Arsy yang mau ikut menemani Wulan.
"Ayolah Sy. Jangan memperkeruh masalah," titah Teddy pelan.
Arsy hanya bisa mengangguk pasrah. Tidak ada yang bisa ia perbuat selain menurut.
Langkah Arsy pelan dan melanjutkan jalannya untuk bersatu dengan teman -teman lainnya.
Saat melewati guru yang membuat ia tidak boleh ikut pergi menemani Wulan. Tatapan Arsy begitu sengit dan tajam.
Ya, Guru itu adalah guru olah raganya. Namanya Pak Tunggul, ia adalah perjaka tua yang sudah menginginkan menikah. Beberapa kali menggoda Arsy saat jam pelajaran olah raga, bahkan pernah terang -terangan menyataan rasa suka kepada Arsy sewaktu Arsy duduk di kelas dua.
"Kenapa? Menatap saya seperti itu?" tanya Pak Tunggul kepad Arsy.
Arsy hanya melewati saja tanpa menjawab pertanyaan gurunya itu.
"Arsy ...." panggil Bismo sedikit gugup.
__ADS_1
Arsy menatap ke arah depan. Bismo berlari dari arah berlawanan dan nampak gugup.
"Sy ... Wulan kenapa? Katanya pingsan? Ada hubungannya sama ...." ucapan Bismo terhenti karena bentakan Arsy.
"Cukup Mo. Gak usah di bahas di sini. Wulan ngeluh keram pada perutnya. Arsy juga gak tahu apa yang terjadi sama dia. Pak Teddy lagi bawa Wulan ke rumah sakit. Kita tunggu saja hasilnya," jawab Arsy ketus kepada Bismo.
"Ketus amat. Maafin Bismo ya, Sy. Bismo di suruh Bu Lina untuk deketin kamu lagi. Bu Lina tahu tentang hubungan kalian. Memangnya Bu Lina di kasih tahu?" tanay Bismo pelan.
"Gak usah ikut campur urusan Arsy, Mo. Seharusnya kamu juga bisa membnatu untuk menyembunyikan ini semua, bukan malah mau di suruh -suruh sama nenek lampir itu," ucap Arsy kesal.
"Maafin Bismo, Sy. Bismo masih sayang sama Arsy," cicit Bismo jujur.
"Lupakan semuanya Mo. Arsy sudah milik orang lain," ucap Arsy lirih.
"Iya Sy. Bismo paham," jawab Bismo plean.Mereka berjalan bersama dan saling beriringan.
Kedua sejoli ini sudah di pisahkan oleh takdir. Mungkin kalau jalan hidup berkata lain. Mereka juga akan menjadi pasangan yang paling bahagia saat ini. Jalan bersama, bahkan bisa bergandengan, dan berfoto bersama.
"Sy ... Bismo mau foto bareng untuk terakhir kalinya. Buat kenang -kenangan," ucap Bismo lirih.
Arsy menoleh ke arah Bismo. Lelaki yang terkeal tegas dengan teman -temannya itu ternyaata hanya bisa lembut kepada dirinya dan Wulan. Sikap ini yang membuat Arsy dulu jatuh cintaa pada Bsimo.
Cinta pada pandangan pertama, saat peryama kali memakai seragam putih abu. Cinta yang bergelora dan merasakan rindu sampai ke ubun -ubun. Mengangumi sosok lelaki yang setiap hari selalu membuat Arsy semangat untuk bersekolah. Pergi ke kantin karena hanya ingin melihat wajah tampan Bismo yang sedang berkumpul bersama satu gengnya di pojokkan belakang kantin.
Sampai tiba saatnya cinta Arsy bersambut dnegan baik. Bismo beberapa kali cari perhatian masuk ke adalam kelas Arsy dan berpura -pura untuk meminjam catatan kepada teman satu gengnya hanya untuk melihat wajah canti ARsy yang tersenyum.
Tahu kan? Gimana rasanya kita di perhatikan oleh lelaki yang kita sukai. Berasa terbang ke awan dan terus meninggi sampai langit ke tujuh.
Masa -masa indah dengan seragam putih abu itu akan menjadi kenangan yang tak terlupakan sampai kapan pun.
Bukan tentang cinta saja, tapi juga persahabatan dan pertemanan bahkan permusuhan.
Beberapa bualn lagi mereka akan menanggalkan seragam yang tiga thun ini telah melekat pada diri mereka menjadi jiw yang lebih dewasa. Masa remaja dan belia yang di godog menjadi lebih baik lagi bukan kekanak -kanakkan. Karena seragam putih abu itu dalah penentu masa depan kita selanjutnya.
"Kok diem? Boleh gak?" tanya Bismo mengulang pertanyaanya dengan pelan sambil melirik ke arah Arsy. Bismo memberanikan diri menggenggam tangan Arsy.
"Mo ... Jangan begini. Gak enak kalau di lihat sama ...." ucapan Arsy pun langsung di bantah oleh Bismo.
"Gak enak sama Pak Teddy? Pak Teddy gak ada. Kita sekarang sahabat kan? Aku hanya ingin bisa tetap menjaga kamu, Sy," ucap Bismo pelan. Genggaman tangan Bismo semakin erat.
Dulu mereka selalu bergandengan tangan dan tertawa riang tanpa punya masalah atau beban. Hubungan mereka sangatlah posistif. Sama -sama saling menyemangati dan berjuang untuk mendapatkan nilai baik. Keduanya sama -sama punya mimpi untuk masa depan. Sampai keduanya mempunyai keinginan untuk kuliah di tempat yang sama dengan jurusan yang sama juga.
Andaikan waktu masih bisa terulang, mungki Bismo masih bisa merasakan kebahagiaan bersama Arsy. Menatap senyum manis gadis itu setiap saat. Menemani makan di jam istirahat dan sekesar melongok lewat jendela saat melewati kelas Arsy saat ingin ke toilet.
Kenangan receh tapi sangat berarti dan membuat semuanya itu menjadi suatu pengalaman hidup yang akan di simpan dalam album putih abu.
__ADS_1
"Indah ...." ucap Bismo.
"Indah? Maksudnya?" tanya Arsy bingung.