Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
MULAI CEMBURU


__ADS_3

Tengah malam yang membawa berkah untuk Teddy. Tak ada angin ta ada hujan, Teddy gak perlu bersusah payah untuk mencari waktu berbicara dari hati ke hati dengan Arsy. Arsy sudah lebih dulu nempel kayak perangko. Apalagi semenjak melihat isi chat Ivaa yang emmang sedikit menujukkn rasa sukanya terhadap Teddy.


Masih bangga denagn seragam puti abunya yang pendek dan sedikit mengetat itu. Berulang kali Arsy emngahdap cermin besar dan melihat pantulan diirnya dari arah samping. Ia sering kali tak percaya kalau dirinya tengah hamil kini. Lalu, perutnya tentu akan membesar dan tidak akan mungkin Arsy memakai pakaian yang lama -lama tentu akan mengecil ini seiring dengan tubuhnya bertambah bobotnya karena mengandung.


Teddy masih sibuk di dapur. Membuat makanan untuk Arsy. Ia melongok sebentar ke arah ruang tengah melihat Arsy yang sedang berkaca sambil sesekali mengangkat kemejanya mmeperlihatkan perutnya yang masih rta.


Tiba -tiba saja Teddy datang dan memeluk Arsy dari belakang dan mencium wangi rambut Arsy yang selalu membuat Teddy gemas.


"Masih cantik. Masih langsing, dan yang terpenting, Mas akan terus sayang dan mencintai kamu. Menjaga kamu dan anak kita yanga ada di sini," ucap Teddy pelan sambil mengusap pelan perut Arsy yang masih rata.


"Ekkhem ... Bentar lagi smeuanay berubah. Tubuh ini juga membesar tak lagi seperti sekarang. Gak bisa pakai baju ini lagi di acara pelepasan siswa di akhir tahun nanti,' ucap Arsy pelan.


Seperti biasa. Acara turun temurun untuk anak kelas XII yang lulus dinamakan acara pelepasan atau kelulusan. Mereka akan berfoto dnegan seragam terbaik mereka menunjukkan effort dan semangat mereka sebagai pejuang putih abu selama tiga tahun mengabdi. Rasanya semua tidak mungkin sesuai dnegan keinginannya.


"Menurut kamu, yang keren itu pakai seragam begini? Rok pendek ketat pula. Seagam putih pendek dengan lengan kurang bahan mana ngepres pula. Mas itu mau hukum kamu dari dulu. Mas gak suka lihat kamu pakai seragamputih abu modelan bgini," ucap Teddy ketus.


"Dih ... Kok Mas gitu sih? Terus kenapa dulu gak kena sanksi aja?" tanya Arsy sengaja emmancing.


"Ini pertanyaan bener apa cuma mau mancing mas?" tanya Teddy pelan sambil mengecup pipi Arsy dari arah belakang.


"Kalau nanya ya bener dong," jawab Arsy ketus.


"Ya dulu gak kena sanksi karena memang biar kredit kamu gak besar. Bisa di keluarkan kamu nanti. Pikiran Mas itu karena kamu gadis pintar dan cerdas, jadi ada tolerasi dikit lah," ucap Teddy pelan.


"Hanya itu? Gak ada alasan lain?" tanya Arsy kesal. Arsy lagi bucin parah. Ia sedang sennag mendengar kata -kata manispenuh cinta. Arsy seperti merasa di cintai dan di sayangi.


"Karena kamu calon istri Mas. Mas gak mau kamu sedih. Udah intinya itu," ucap Teddy gemas dan mencubit dagu Arsy.

__ADS_1


Teddy pun bergegas kembali ke dapur karena aroma wangi mulai semerbak ke seluruh ruangan. Kompor segera di matikan dan tutup panci pun di buka. Karena gak punya microwave, semuanya di lakukan menggunakan panci ajaib. Teddy mencoba membuat makaroni schotel dengan keju mozarella yang sangat banyak.


Arsy sudah ada di meja dapur. Indera penciumannya cukup tajam jika masalah wangi makanan yang sudah matang dan siap di sajikan.


"Sudah matang Mas? Wanginya enak banget. Masak apa sih?" tanya Arsy yang tak tahu nama menu makanan. Mungkin kalau di ajak ke restauran bintang lim Arsy hanya membuka buku menu makanan dan membolak - balikkan buku menu itu dengan cengok. Kecuali memang ada contoh gambar makanannya.


"Eh ... Sayang udah gak sabar? Wangi banget ya? Ini namanya makaroni schotel ala Teddy," ucap Teddy dengan senyum bahagia.


Ia hanya ingin kebahagiaan istrinya tak lagi sirna dan terenggut oleh masalah -masalah baru. Cukup ia dan Arsy yang bahagia menjalani kehiduapn rumah tangganya tanpa ada orang lain yang menggangu baik yang datang dari masa lalu atau emamg datang di masa saat mereka sudah bersama.


"Lihat ini. Perutnya goyang -goyang soalnya laper," ucap Arsy yang semakin terlihat manja.


Arsy pun mendekati Teddy dan bergelayut manja dengan lelaki yang sudah sebulan ini menjadi suaminya.


"Coba Mas lihat perutnya," ucap Teddy lembut.


"Mas bilang apa? Serius amat?" tanya Arsy lembut saat Teddy menutup kembali kemeja Arsy dan brdiri menatap wajah cantik polos sang istri.


"Cuma ngasih nasihat aja. Biar gak nakal dan gak bikin Mamanya lelah," ucap Teddy pelan.


"Masa bilang gitu. Arsy kan gak bilang lelah cuma laper," ucap Arsy manyun.


Teddy pun terkekeh lalu melepas celemeknya dan membawa makanan itu ke ruang tengah sambil merangkul Arsy dan duduk bersama di sana.


Pelan Arsy pun di suapi oleh Teddy. Mereka berdua terlihat romantis dan hangat. Teddy pun sengaja membuat Arsy melupakan semuanya.


"Mas ...." tiba -tiba saja Arsy memanggil suaminya yang sedang mengambil susu untuk Arsy.

__ADS_1


"Ya. Apa Sayang?" tanya Teddy pelan. Ia duduk lagi sambil menyodorkan satu gelas susu untuk Arsy.


"Kalau berteman dengan lawan jenis boleh kan?" tanya Arsy ragu.


"Pertanyaan kamu mulai aneh. Sekolah kamu kan meang campur bukan sekolah keputrian, Sy," ucap Teddy pelan.


"Bukan itu maksud Arsy,' jawab Arsy cepat.


"Terus? Masalah apa?" tanya Teddy lembut mengusap sisa susu yang membekas di bibir Arsy.


"Masalah Bismo, Mas," ucap Arsy ragu. Ia bingung bagaimana menjelaskan kepada Teddy.


Teddy menahan emosinya lagi. Ia mencoba lebih tenang dan lebih bijak. Rasanya ingin marah kepada Arsy karena masih saja memikirkan lelaki itu.


"Bisa gak? Kalau lagi berdua gak usah bahas orang lain. Apalagi bahas tentang seseorang di masa lalu," titah Teddy kesal.


"Bukan itu maksud Arsy, Mas. Mas tahu, Bismo kayak menjadi orang yang berbeda. Bukan seperti Bismo biasanya. Dia beda, mungkin dia ada maslaah," ucap Arsy memelankan suaranya.


Deg ...


Jantung Teddy seperti di hujam batu yang begitu besar. Jleb ... Rasanya sungguh menyakitkan sekali.


Betapa pedulinya Arsy pada Bismo. Apakah ia masih menyukai mantan kekasihnya itu.


"Mas? Kok diem? Malah bengong?" tanya Arsy pelan.


"Ekhemm ... Kalau Bismo punya urusan pribadi, itu bukan urusan kita , Sy. Sekarang yang menjadi urusan kita, kenapa dia tetap menculik kamu? Kalau bahasa itu terlalu keras dan kasar. Kenapa dia membawa kamu, tanpa seizin Mas? Kamu bis ajeasin itu semua?" tanya Teddy mulai naik darah lagi.

__ADS_1


Teddy mulai terbakar cemburu. Ia tak mau Arsy berbagi perhatian dan kasih sayang untuk dirinya dan untuk Bismo.


__ADS_2