
Ivana sudah berada di ruang kerja Teddy. Ia membuka beberapa berkas penting dan laporan lalu mencocokkan dengan data base yang ada di sistem kantor tersebut.
"Bisa di buka lock nya dari satu tahun ke belakang. Mungkin mulai besok aku sama anak buahku akan mulai mencari bukti akuratnya. Mungkin sekarang aku penyesuaian dulu sama sistem kantor kamu," ucap Ivana pelan. Kedua matanya fokus menatap layar komputer dengan berkas dan laporan keuangan dipangkuannya. Satu kakinya di angkat ke paha yang lain dan Ivana sengaja menampilkan paha bagian bawahnya yang mulus untuk menggoda Teddy yang duduk bersebrangan denagnnya.
Teddy pun sudah tidak ingat dengan ponselnya. Ia sibuk dengan pekerjaannya yang benar -benar membuatnya pusing tujuh keliling. Teddy hanya takut, mertuanya berpikir ia tidak becus mengurus kantor dan mengabaikannya.
Sejak tadi pikirannya hanya ingin resign dari sekolah dan fokus mengurus kantor. Masalah Arsy? Hah ... Arsy? Dia di rumah sendrian, bahkan aku tak menelpon gadis itu. Belum lagi aku janji menjempuntnya untuk memeriksa kandungannya.
Teddy meletakkan berkas dan pulpen ke atas meja denagn sedikit kasar. Tatapannya berpindah pada jam dinding yang menempel pada dinding tepat di atas pintu masuk.
"Jam empat sore. Ya ampun sudah sore ternyata," ucap Teddy lirih. Tetap saja kata -kata yang terlontar dari bibirnya bisa di dengar dengan baiki telinga Ivana.
"Oh .. Sudah sore ya. Waktunya pulang," ucap Ivana pelan pura -pura menaikkan kedua tangannya untuk meregangkan otot -otot yang terasa pegal.
__ADS_1
"Kamu mau pulang. Aku juga harus pulang sekarang. Ada janji sama dokter," ucap Teddy membereskan semua berkas -berkas dan di tumpuk menjadi satu di atas meja.
"Iya. Tapi aku nebeng ya. Kita se -arah gak?" tanya Ivana pelan.
"Kamu mau kemana?" tanya Teddy pelan.
"Ke apartemenku. Di jalan teratai besar," jawab Ivana pelan.
"Yah ... Aku naik grab dong," cicit Ivana yang terlihat masam. Biasanya Teddy tipikal friendly dan tidak pernah tega melihat perempuan kesusaha.
"Aku ada janji Iv. Seharusnya tadi jam tiga. Tapi aku lupa. Masalah kantor begitu menyita aku. Gimana kalau besok aku jemput kamu biar bisa ke kantor bareng. Aku harus ke seklah dulu antar Arsy," ucap Teddy pelan.
"Ke sekolah? Antar Arsy? Siapa? Anak kamu?" tanya Ivana penasaran. Raut wajahnya begitu masam. Pertanyaannya juga terkesan menuduh dengan nada suara ketus seperti tidak terima.
__ADS_1
"Istriku," jawab Teddy pelan sambil menunjukkan cincin kawinnya.
"Hah? Istri? Masih sekolah?" tanya Ivana tak percaya.
"Ya. Dia muridku lebih tepatnya. Lucu, periang, baik, agak bar -bar, atpi aku suka. Lebih menantang," ucap Teddy terlihat serius.
"Gak usah nge -halu. Aku paling gak suka di prank seperti ini, Ted. Please. Jangan bercanda konyol," ucap Ivana tak percaya. Ia tahu tipe permepuan Teddy haru wanita smart, tapi ini masih bocah, tentu pengalaman dan ilmunya jauh seklai di bandingkan Teddy yang seorang dokter.
"Aku gak bercanda Iv. Ini serius. Nyata," ucap Teddy meyakinkan. Ia memakaijas hitamnya dan bersiap untuk pulang.
Ivana masih menggigit bibirnya. Dirinya masih tidak percaya dengan apa yang di dengar saat ini. Jauh dari pikirannya saat ini Ivana hanya ingin mendapatkan hati teddy. Bagaimana pun caranya.
"Aku mau kenal sama istrimu, bisa? Aku pastiin kmu cuma nge -halu," ucap Ivana pelan dan berusaha tertawa seperti orang sedang bercanda.
__ADS_1