
Arsy diam dan berpura -pura acuh sambil memainkan ponselnya. Ia mengambil headset dari tas ranselnya dan mulai di sambungkan dari ponselnya. Headset itu kemudian di pasangkan di telinganya dan memutar musik dengan kencang sambil mengangguk anggukkan kepalanya.
Teddy hanya menggelengkan kepalanya pelan saat menatap Arsy. Teddy sibuk dengan berkas -berkas dan tepat pukul delapan semua berkas itu di tumpuk dan Teddy bergegas menuju ruang rapat. Ia meletakkan berkas -berkas itu di pangkuannya dan duduk di samping Arsy yang bersandar di sofa dengan kepala mendongak ke atas sambil menutup kedua matanya.
Headset itu di lepaskan dari telinga Arsy dan Teddy berbisik lembut.
"Saya harus rapat sekarang. Kamu di sini ya. Kalau mau jajan, di lobby ada kantin. Ini uangnya, yang penting kamu chat saya. Posisi kmau di mana," bisik Teddy lalu mengecup pipi Arsy saat kedua mata Arsy masih terpejam.
Dengan cepat Arsy membuka kedua matanya karena terkejut. Duduknya langsung tegask dan melirik ke arah Teddy sambil menghapus pipinya dengan telapak tangannya.
"Kenapa harus cium -cium sih?" ucap Arsy ketus lalu mengambil uang yang ada di tangan Teddy. Uang itu ia lipat dan di masukkan ke dalam kantong kemejanya.
"Emang punya siapa? Gak boleh gitu?" tanya Teddy menautkan kedua alisnya dan berpura -pura marah.
"Bukan masalah punya siapa? Tapi, Bapak harus bisa jaga sikap ini di kantor," ucap Arsy kesal.
"Jadi, kalau di rumah boleh dong?" tanya Teddy menggoda.
"Gak juga. Intinya gak usah ambil kesempatan dalam kesempitan. Arsy gak suka. Kita cuma ...." ucapan Arsy langsung terhenti saat Teddy membungkam mulutnya dengan bibirnya yang lembut.
Arsy langsung mendorong tubuh Teddy dengan cepat. Tangannya terlalu reflek melakukan itu karena Arsy paling tidak suka di paksa. Jari -jarinya langsung menutup mulutnya dan Arsy langsung mengambil tas ranselnya dan pergi dari ruangan Teddy. Arsy menuju lift dan turun ke lobby.
Jantungnya berdegup dengan kencang. Arsy tidak bisa mengendalikan dirinya. Ia hanya rindu pada Papanya dan Bunda Bella.
Keluar dari lift, Arsy menuju kantin kantor dan memilih tempat duduk disana. Arsy mulai memesan makanan dan minuman kepada pelayan kantin dan muali membuak ponselnya.
Ia melihat notifikasi pesan singkat yang masuk ke ponselnya. Teddy berusaha menghubunginya berulang kali, mulai dari menelepon dan mengirimkan beberapa pesan singkat kepada Arsy. Namun, Arsy tetap cuek dan tak peduli.
Arsy membuka beberapa artikel tentang pernikahan yang di jodohkan, pernikahan yang baik, pernikahan yang langgeng.
Ia mulai mencari tahu banyak artikel. Mencoba memahami dan lebih mengerti arti sebuah pernikahan. Usianya memang sangat muda, harus menikah dengan orang yang tak di kenal dan harsu menerima denga lapang dada.
"Arsy sudh berusaha menerima semuanya. Bahkan Arsy sudah berdamai dengan diri Arsy, tapi kenapa rasanya sulit. Ada ketakutan tersendiri, saat berdekatan dengan Pak Teddy," ucap Arsy lirih sambil menyuapkan bubur ayam ke dalam mulutnya.
Saat ini Arsy tak memiliki teman untuk bicara. Arsy menatap ke sekeliling, banyak orang yang menatap dirinya dengan tatapan aneh.
__ADS_1
Ada seorang laki -laki yang kemudian menyapa Arsy.
"Boleh saya temani?" tanya seorang laki -laki dengan pakaian yang dengan Arsy.
Arsy menatap lelaki itu lekat lalu mengangguk kecil.
Lelaki itu duduk dan meletakkan makanan dan minuman \=yang di bawanya.
"Mbak juga magang di sini?" tanya lelaki itu pelan.
Arsy meletakkan ponselnya dan menutup mulutnya untuk menelan bubur yang masi tersangkut di tenggorokan.
"Maaf Mbak kalau mengganggu. Nama saya Benhard, panggil saja Beben. Saya magang di sini," ucap Benhard pelan sambil mengulurkan tangannya kepada Arsy.
Arsy memblas uluran tangan itu.
"Arsy." jawab Arsy singkat.
"Magang di sini juga? Di bagian apa?" tanya Beben pelan.
"Wah hebat banget," jawab Beben dengan takjub.
Beben pun langsung menyuapkan satu sendok nasi uduk yang di belinya tadi.
Arsy hanya memberikan senyum kecut kepada Beben.
"Kamu di bagian apa?" tanya Arsy mencoba bertanya.
"Bagian administrasi bareng mbak Riana, kekasih Pak direktur," ucap Beben dengan polosnya.
"Mbak Riana? Kekasih Pak direktur? Memang nama direkturnya siapa?" tanya Arsy mulai curiga.
"Pak Teddy kan? Bukannya Mbak Arsy asistennya Pak Teddy? Katanya asisten direktur?" tanya Beben yang malah bingung.
"Oh ya. Kirain ada direktur lain," jawab Arsy sambil mengangguk -anggukan kepalanya pelan.
__ADS_1
Arsy pun menyeruput teh manisnya yang masih panas dengan perlahan. Ia cukup terkejut dengan ucapan Beben.
"Kenapa Arsy kesel ya, denger Riana menganggap Pak Teddy kekasihnya? Atau memang Arsy cemburu?" tanya Arsy di dalam hatinya.
"Mbak, Mbak Arsy gak apa -apa? Kok kayak kaget gitu?" tanya Beben kemudian kepada Arsy.
"Oh ... Gak apa -apa. Arsy malah baru tahu. Panggil Arsy saja, jangan pake Mbak. Biar lebih terlihat akrab. Kamu sudah lama di sini?" tanay Arsy mulai mencari tahu.
"Ekhemm ... Sudah. Sekitar satu bulan. Masih dua bulan lagi. Memangnya boleh pakai pakaian ketat begitu? Setahu saya, Pak Direktur paling gak suka lihat perempuan pakai pakaian tidak sopan. Dulu pernah ada yang di suruh pulang sampai akhirnya membatalkan diri untuk magang di sini," ucap Beben jujur.
"Ah ... Iya. Arsy juga di tegur. Arsy baru hari ini masuk. Ini Arsy di usir, katanya kamu ke lobby saja, makan di sana. Gitu," ucap Arsy pelan.
"Oh ... Kena teguran juga?" tanya Beben pelan.
"Ya. Senasib pastinya. Oh ya ... Jadi Mbak Riana itu pacarnya Pak Teddy? Pernah lihat jalan berdua?" tanya Arsy mulai penasaran. Rasa cemurunya mulai melingkupi hatinya. Apalagi melihat Riana tadi yang bgitu centil mendekati Teddy tanpa rasa malu.
'Seringlah mereka jalan berdua. Namanyajuga Direktur dan sekertarisnya. Iya gak sih?" ucap Beben polos.
"Oh iya bener juga. Tapi maksud Arsy jalan berdua, kayak makan siang bareng atau pulang bareng, atau apa gitu yang gak menyangkut urusan kantor?" tanay Arsy mulai antusias ingin mengetahui hubungan Teddy dan Riana.
"GAk sih. Pak Teddy selalu sendiri. Tapi, Mbak Riaan bilang Pak Teddy itu pacaranya, bahkan di dompet pribadi Mbak Raiana ada foto Pak Teddy, belum lagi di laptopnya semua PP nya foto Pk Teddy. Kamu kenapa? Suka ya sama Pak Teddy?" tanya Beben menuduh.
"Ih apaan. Gak kok." jawab Arsy dengan cepat.
"Terus? Kenapa tanya -tanya penasaran gitu. KAyaknya yang suka sama Pak Teddy di kantor ini banyak banget, termasuk itu tuh," ucap Beben sambil menunjuk perempuan muda yang sangat cantik dan modis. Tubuhnya seperti biola tak berdawai dan wajahny abegitu glowing speerti gadis muda masa kini.
Arsy menoleh ke arah perempuan yang di tunjuk oleh Beben.
"Siapa dia?" tanya Arsy yang semakin penasaran. Banyak perempuan cantik di kantor ini.
"Aku juga kurang tahu siapa dia. Tapi banyak orang memanggil dengan panggilan Melati. Tiap siang, dia selalu kirim makan siang buat Pak Teddy. Pernah suatu hari adu mulut dengan Mbak Riana. Tapi ...." ucapan Beben sengaja di hentikan karena melihat seseorang di balik Arsy.
"Tapi apa? Bicara saja. Toh kita berbisik," ucap Arsy yang mulai penasaran. Arsy menatap Beben lekat dan memaksa lelaki itu melanjutkan ucapannya.
Beben hanya menundukkan wajahnya dan sikapnya kaku seperti patung.
__ADS_1