Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
S2.CPA.17


__ADS_3

Emil dan kawan -kawannya sudah berada di kantin kampus dan mengedarkan pandangannya ke seluruh area kantin kampus. Sorot kedua matanya berakhir di ujung kantin dengan tatapan yang sangat sinis sekali. Ya, bagai elang mendapatkan mangsanya. Seketika jiwa -jiwa keras dari Emil pun segera ingin di salurkan.


"Lo semua pada pesen makanan yang lo suka. Kita duduk di sana. Tuh, persis di samping cewek yang lagi bunting," ucap Emil dengan senyum sinis ke arah Arsy.


Entah kenapa Emil melihat Arsy seperti mendapatkan mangsa untuk di bully. Di tambah lagi, Emil sedang kesal dengan Teddy, dosen ganteng yang di incarnya tapi sama sekali tidak merespon baik.


"Itu kan anak maba? Udah deh, Mil. kan udah puas ngerjain tuh anak kemarin. Kasihan juga lagi bunting," ucap Rosa dengan wajah sedikit memohon.


"Hah? Gue cuma mau main -main dikit aja kok. Biar di agak stres sama hamilnya. Lagi pula waktu gue lihat biodatanya itu sama sekali gak jelas. Dia masih masuk di KK orang tuanya. Terus kalau dia hamil? Dia hamil sama siapa? Pihak kampus gak mempertanyakan itu gitu?" tanya Emil ketus.


"Suttt ... Udah Mil. Jangan cari masalah. Kita kan gak tahu kebenarannya. Bisa aja dia anak pejabat kampus atau anak dosen siapa? Kita kan gak tahu. Bisa -bisa kita salah lawan," ucap Rosa mengingatkan.


"Kayaknya gak deh. Gue baca kok, nama orang tuanya. Namanya biasa aja kayak gak terkenal gitu," ucap Emil merasa bodo amat dan pergi emninggalkan Rosa dan beerapa temannya lalu berjalan menghampiri Arsy dan Mega.


Kedua teman itu kini sudah sanagt dekat dan tampak bahagia tertawa dan entah apa yang sedang mereka bahas.

__ADS_1


"Huhhh ... Ibu hamil itu ternyata rakus ya? Makannya banyak banget," ucap Emil denagn suara keras dan lantang agar semua mahasiswa yang ada di kantin itu menatap ke arah Arsy dan mempertanyakan tentang kehamilannya.


Benar saja, semua mendadak diam dan emnatap ke arah Arsy denagn tubuh sedikit montok dan perut yang besar. Selama ini tidak ada yang peduli dengan perut Arsy, tapi sejak Emil bicara dan seolah menyebarkan aib itu, semua orang seolah ikut menatap Arsy dengan sinis dan tak suka. Beberapa orang ikut berbisik dan menatap tajam ke arah perut buncit itu.


Arsy menoleh ke arah belakang dan kedua matanya langsung bertemu denagn mata sinis Emil.


"Kak Emil ngomong apa ya? Arsy gak paham," ucap Arsy dengan suara tetap tenang dan santai.


"Wehhh ... Dia nanya lho, Kak Emil tadi barusan ngomong apa?" ucap Emil mengejek sambil berseru keras.


"Kenapa? Apa yang salah dengan perut Arsy? Kalian mau ejek Arsy? Mau bilang Arsy wanita gak baik? Apa karena Arsy mahasiswa baru? Jadi perlakuan kalian begini? Tidak ada aturan yang mengikat seorang mahasiswi tidak boelh hamil saat kuliah," ucap Arsy kesal.


"Waduhhh ... Tambah pinter ngomong dong. Terus lo lulusan tahun berapa? Kalau lulusan tahun ini, berarti perut lo itu sudah besar saat lo duduk di kelas dua belasa. Bener gak?" ucap Emil sengaja memancing kemarahan Arsy.


"Kalau iya kenapa? Ada masalah sama Kak Emil? Toh, Arsy lulus dan punya ijasah. Salahnya dimana?" tanya Arsy mulai kesal.

__ADS_1


"Hamil ada bapaknya gak? Jangan -jangan cuma jadi korban?" ucap Emil terus membuat situasi makin memanas.


"Tolong jaga mulutnya!! Jangan asal bicara!!" ucap Arsy penuh emosi.


Mega ikut berdiri dan mencoba menenangkan Arsy.


"Udah Sy. Sabar aja. Inget lagi hamil," ucap Mega mengingatkan Arsy.


Arsy mengangguk kecil dan menarik tangan Mega untuk segera pergi dari tempat ini.


"Yuk pergi kita," titah Arsy pada Mega.


Mega pun menurut mengikuti Arsy.


"Eittsss ... Mau kemana? Urusan kita belum kelasr," tegas Emil dengan kaki yang sengaja di julurkan untuk menghadang langkah Arsy.

__ADS_1


__ADS_2