Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
MINTA BEDAK BAYI


__ADS_3

Teddy menatap Arsy lekat. Ia tak percaya Arsy bisa bicara begitu tak masuk akal.


"Kok bicara kamu gitu, Sy? Mas gak pernah lho berpikiran kayak gitu," ucap Teddy sedikit kecewa.


"Gak pernah? Tadi barusan apa? Memang gak bilang pakai ucapan, smeua Mas buktikan dengan tindakan," ucap Arsy mulai kesal.


Arsy mulai murka ia menutup palstiknya dan ingin pergi dari sana. Ia sudah kesal dan benar -benar kesal.


"Arsy ... Jangan seperti ini. Jangan seperti anak kecil. Kamu itu sedang hamil. Jangan ambil kesimpulan sendiri tanpa kamu tahu ceritanya. Mas tadi melakukan itu karena Mas lagi bingung, amkanya Mas cuma bisa lihat kamu," ucap Teddy beralasan.


"Hah? Gak masuk akal? Aneh banget. Arsy itu siapa?" tanya Arsy mendekatkan wajahnya pada Teddy.


"Istri Mas," jawab Teddy lantang.


"Terus? Hanya status? Gampang lho, tinggal bilang, ini Arsy, istriku. Kenapa? Karena perempuan itu cantik? Atau mungkin perempuan itu idaman Mas Teddy?" tanya Arsy semakin marah dan berteriak.

__ADS_1


"Bisa gak dengerin Mas baik -baik. Bicara ynag baik -baik. Lihat, di sini banyak orang, dan gak mungkin kita berantem, berteriak dan berdebat begini. Mereka bisa anggap Mas sedang berbuat jahat sama kamu," ucap Teddy pelan sambil melirik ke arah kiri dan kanan.


"Udah ah. Arsy mau pergi, mau menikmati sore ini snediri. Nanti Arsy pulang sendiri. Mas mending pergi aja, atau jemput aja perempuan tadi atau si Ivana tuh yang sejak tadi bingung cari Mas," ucap Arsy kesal.


Ia berdiri dan berjalan emninggalkan kursi taman itu.


Teddy hanya menggelengkan kepalanya pelan. Sikap ARsy memang sulit di tebak. Kadang maanisnya melebihi manisnya gula. tapi, kalu sedang ngambek, teriakannya sampai terngiang di gendang telinga yang paling dalam.


Teddy pun ikut berdiri dan berjalan di belakang Arsy. Arsy menenteng plastik dan berjalan menunduk sambil menggendong tas ranselnya.


langkahnya terhenti dan berdiri di tengan taman beramin. Arsy mearsa di belakangnya ada yang sdenag mengikutinya. Ia menoleh ke arah belakang.


Wajahnya sumringah tapi langsung cemberut kembali. Ia sennag ternyata ia di ikuti oleh suminya, tpi ia kesal saat suaminya juga membalas tatapannya dan tersenyum padanya.


"Pergi!!" teriak Arsy dari tempat berdiirnya. Untung di sekitar situ tidak banyak pengunjung. Jadi tidak banyak orang melihat adegan yanag dramatis itu.

__ADS_1


"Gak akan pergi. Mas harus ikuti kemana pun kamu pergi. Mas gak mau ninggalin kamu dan anak kita," ucap Teddy lantang.


Arsy pun melanjutkan jalan menujuke arah samping taman bermain itu dan menuju arah jalan raya.


Dengan cepat ia berlari kecil mencari taksi. Namun tak ada yang lewat. Melihat Arsy yang sepertinya sudah ingin pulang pun, Teddy bergegas berjalan cepat menuju arah mobilnya yang di parkir di sepanjang jalan raya itu lalu menarik Arsy menuju mobilnya.


"Ayo pulang. Sudah mau geap dan huja. Nanti kamu sakit," ucap Teddy pelan.


Baru bicara begitu. Rintik hujan pun mulai turun. Gerimis mengundang dan membuat orang -orang yang berada di taman itu pun beralri tunggang langgang mencari tempat berteduh.


Kini Arsy dan Teddy sudah berada di dalam mobil. Suhu di dalam mobil sengaja di buat hangat. Teddy juga mengambil selimut bulu dan bantal agar Arsy semakin nyaman di dalam mobil.


"Sayang. Kita mampir beli susu hamil. Kamu mau rasa apa? Sekalian beli bedak bayi, ya?" pinta Teddy lembut.


Ada yang aneh dengan Teddy. Kenapa minta bedak bayi?

__ADS_1


__ADS_2