
Tidak ada yang perlu di takuti atau di khawatirkan jika semua itu memang benar adanya. Teddy pun meluluskan permintaan Ivana, teman lamanya untuk berkenalan dengan Arsy. Tentu, Teddy tak memberitahukan Arsy terlebih dahulu jika ia akan membawa tamu seorang wanita untuk main ke apartemen pribadi mereka.
Sepanjang dalam perjalanan, Ivana pun terlihat semangat dan banyak bercerita. Ia sengaja bercerita hal -hal manis yang pernah mereka lakukan dulu se -masa SMA. Mungkin Ivana sengaja mengingatkan Teddy, bahwa mereka pernah muda, pernah jalan bersama walaupun se -batas teman dan kini mereka sukses bersama.
"Argh ... Ponsel ku tertinggal di kantor," ucap Teddy pelan saat meraba dua kantong celana dan kantong jas yang di pakainya.
"Mau balik lagi?" tawar Ivana lembut.
Mereka sudah berada di setengah perjalanan dan di jam padat. Mana mungkin harus kembali dan balik ke rumah. Bisa -bisa sampai rumah sudah waktu tidur.
"Ekhemm ... Sepertinya tidak. Biarlah," jawab Teddy se -kenanya. Di dpean jalan tinggal belok saja, sudah sampa di apartemen Teddy. Kalau pun kembali ke kantor, lebih baik nanti akan ia lakukan saat bersama Arsy.
"Oh Oke. Keputusan di tangan kamu," ucap Ivana pelan.
Ivana duduk bersandar di sandaran jok dan memainkan ponselnya. Tak hanya itu ia mengambil tempat make up -nya dan menambal kembali bedak padat ke seluruh wajahnya yang masih lengkap dengan riasan. Bibirnya pun di tebalkan dengan sapuan gincu berwarna oren kemerahan. Tak lupa ia semprotkan beberapa kali parfum ke beberapa bagian pakaiannya.
Teddy cuek dan tetap fokus menyetir mobilnya karena memang jalanan begitu padat merayap. Jangankan menatap ke arah Ivana. Melirik pun sama sekali tak di lakukan.
"Ted ... Aku ke rumah kamu lain kali saja ya? Aku turun di depan jalan. Jangan lupa besok pagi aku tunggu. Ini kartu nama aku, dan itu alamat apartemen aku," ucap Ivana dengan suara sangat lembut sekali.
Teddy pun hanya mengangguk kecil. Ia mencari tempat pemberhentian yang tepat dan tak mengganggu kendaraan lain. Dekat belokan Teddy berhenti untuk menurunkan Ivana. Ivana pun berpamitan dan turun dari mobil Teddy.
Setelah menurunkan Ivana, Teddy langsung melanjutkan perjalanannya lagi yang tinggal beberapa menit saja menuju apartemen. Rasanya sedikit was -was. Ia meninggalkan Arsy sendirian dan berjanji akan pergi ke dokter kandungan sore ini. Tapi ia lupa karena banyaknya pekerjaan di kantor, di tambah masalah baru pun datang setelah satu minggu lebih Teddy tidak datag ke kantor.
ceklek ...
Pintu apartemen itu terbuka. Lampu -lampu ruangan itu belum di nyalakan dan semua gelap gulita. Matahari sudah terbenam, tak ada lagi sinar matahari yang masuk melalui celah jendela kamar apartemennya.
"Arsy ... Arsy ...." teriak Teddy memanggil nama istrinya dengan suara keras.
Sambil berjalan masuk dan mengunci kembali pintu apartemen itu, Teddy pun menyalakan beberapa stop kontak agar lampu menyala dan ruangan itu menjadi terang.
Berulang kali Teddy memanggil nama Arsy. Namun Arsy tak menjawab. Suasana di ruangan itu begitu hening. Sama seklai tak ada suara seperti kamar yang di tinggal penghuninya.
__ADS_1
Teddy masuk ke dalam kamar tidur. Lalu menyalakan lampu kamar itu. Ia melihat Arsy tertidur dengan selimut tebal membungkus tubuhnya. Suhu ruangan itu begitu dingin, bungkus snack juga berserakan di lantai. Entah ada berapa bungkus keripik, ciki dan cemilan kering tak sehat lainnya.
Langkahnya pelan menghampiri sudut ranjang dan duduk di tepinya. Mengusap pelan rambut Arsy yang dingin.
Perlahan Arsy membuka matanya. Ia menutup matanya dan membungkus tubuhnya karena takut.
"Mas ...." panggil Arsy pelan.
Tubuhnya terasa lemas sekali. Suaranya juga begitu lirih.
"Mas ada di sini, Sy. Maaf ya. Kamu mau makan apa?" tanya Teddy lirih. Ia merasa sangat bersalah sekali.
"Mas kemana aja sih? Segitu sibuknya, di telepon gak bisa," ciict Arsy pelan. Rasanya sudah tak ada tenaga lagi untuk marah -mara.
Teddy menunduk dan mengambil tangan Arsy. Mengusap pelan punggung tangan itu dan mengecupnya sangat lembut sekali.
"Maaf, Sayang. Kantor sedang ada masalah besar. Tadi, Mas cari rekan yang bisa bantu untuk audit sistem dan laporan di kantor," ucap Teddy pelan menjelaskan.
Kedua mata Arsy mengerjap pelan. Urusan Teddy begitu banyak. Belum urusan di sekolah, urusan pembangunan rumah sakit dan semuanya itu ia lakukan sendiri tanpa di bantu oleh siapa pun.
"Kita ke rumah sakit sekarang ya? Kamu kuat jalan sampai parkiran?" tanya Teddy pelan.
Arsy mengangguk kecil.
"Kuat. Tapi ...." ucapan Arsy terhenti sejenk.
"Tapi apa?" tanya Teddy pelan.
"Tapi ... Arsy lapar," ucap Arsy pelan.
"Ya ampun. Kamu belum makan ya, Sayang? Kamu mau makan apa?" tanya Teddy pelan.
"Indomie goreng, pake telur, pake cabe rawit, pake udang," ucap Arsy semangat.
__ADS_1
"Indomie? Gak boleh. Itu makanan gak sehat. Lagi pula kamu belum makan nasi sejak siang, Arsy," ucap Teddy menasehati.
Sebagai dokter tentu Teddy tahu mana yang boleh untuk Arsy dan mana yang tidak. Mana makanan sehat dan bergizi untuk ibu hamil, dan mana yang hanya makanan pemuas nafsu saja tanpa memberikan sesuatu yang positif bagi tubuh.
"Ya sudahlah Arsy gak mau makan. Arsy lagi mau indomie," ucap Arsy manja.
"Arsy dengerin Mas. Indomie itu kalorinya besar, dan gak ada gizinya. Bikin kamu gendut juga," ucap Teddy pelan. Ia sengaja ingin menggagalkan niat Arsy menikmati indomie selera nusantara itu.
'Ya sudah. Gak perlu ke dokter dong? Kan Arsy sudah di jamin sama Mas, untuk makan makanan bergizi, tentu bayinya juga sehat," ucap Arsy ketus.
"Oke. Baiklah. Mas mengalah, Mas buatkan indomie goreng. Tapi dengan satu syarat," titah Teddy lembut.
"Apa?" tanya Arsy pelan.
"Janji mau periksa ya? Setelah ini kita datang ke klinik dokter Effendy," tegas Teddy kepada Arsy.
"Siap Bos. Sekarang makan indomie dulu ... laper," nada bicara Arsy.
"Oke, Nona muda. Di tunggu," ucap Teddy pelan.
Baru saja Teddy akan bangkit berdiri dari tepi ranjang, Arsy menariknya kmbali.
"Mas ... Kok ada yang aneh," tanay Arsy pelan.
Teddy terduduk kembali sambil mengernyitkan dahinya bingung.
"Aneh? Aneh kenapa?" tanya Teddy pelan.
"Wangi parfum Mas. Wanginya sedikit aneh, perasaan wanginya gak begini," ucap Arsy pelan.
Teddy langsung mencium jas hitanya. Berulang kali hidungnya mengendus wangi itu.
"Parfumnya kayak wangi parfum perempuan, wangi ana sui," ucap Arsy pelan.
__ADS_1
Arsy pun turun dan berjalan menuju meja rias dan mengambil satu botol parfum milik Teddy. Jelas wanginya beda sekali, aroma ana sui yang lembut dengan wangi axe yang tajam dan menyengat.
Tatapam Arsy begitu tajam ke arah Teddy yang masih tak paham.