
Sejak pagi, Teddy dan Arsy sudah mulai sibuk. Mereka terbangun sangat pagi sekali dan langsung mandi besar. Tidak ada drama pagi hari, semua aktivitas berjalan dengan lancar.
Teddy yang bangun lebih dulu langsung menyiapkan air hangat untuk istri labilnya. Senyum keduanya begitu terlihat puas dan sumringah. Tidak ada tanda -tanda kekecewaan di wajah keduanya.
"Sy ... Mau sarapan apa?" tanya Teddy yang sudah mandi tapi belum memakai baju dinasnya.
Arsy baru saja bangun dan mengucek kdua matanya.
"Apa saja Mas. Arsy mandi ya," jawab Arsy lirih.
"Ada yang sakit gak? Kok jalannya masih kayak gitu?" tanya Teddy yang memperhatikan gaya berjalan Arsy yang terlihat berjarak dan melebar antara pangkal paha yang satu dengan pangkal paha yang lain.
Arsy nampak berhenti berjalan dan menatap ke arah Teddy sam tersenyum kecut.
"Memangnya kalau jalannya begini, pasti ada yang sakit?" gerutu Arsy.
"Kan Mas cuma tanya. Gak boleh sewot pagi -pagi," ucap Teddy menasehati.
"Gak sewot Mas. Arsy kan baru bangun. Boleh mandi gak sih?" tanya Arsy mulai di buat kesal oleh Teddy.
Teddy mengangguk kecil.
"Iya mandi sana. Jangan lupa keramas, takutnya lupa keramas, solanya habis nganu -nganu," ucap Teddy sambil tersenyum lebar dan terkekeh.
"Iya ih ...." jawab Arsy kesal dari dalam kamar mandi.
Arsy masuk ke dalam kamar mandi dan meletakkan handuknya di tempat handuk. Kedua matanya masih terasa lengket sekali. Ia malah asyik duduk di atas toilet yang tertutup, dan bersandar sebentar untuk melanjutkan mimpinya yang tertunda tadi.
Teddy sudah rapi dengan pakaian dinasnya dan kini ia berada di dapur lengkap dengan celemek di dadanya mulai memasak untuk sarapan pagi.
Tanpa terasa waktu sudah berputar menuju angka enam. Teddy memasak sarapan pagi sambil sesekali menatap ke aah kamar mandi yang sejak tadi masih tertutup rapat tanpa suara. Sudah setengah jam Arsy di dalam dan belum juga keluar. Bisanya Arsy itu kalau mandi tidak pernah lama seperti kebanyakan perempuan cantik lainnya yang terlalu banyak ritual di dalam kamar mandi.
Teddy berusaha tenang dan santai. Ia pikir mungkin Arsy sedang sakit perut dan memulai bertapa di atas toilet. Karena membuang hajat juga butuh kosentrasi serta ketenangan. Suatu kewajaran jika fenomena buang hajat itu di jadikan sebagai tempat untukmencari inspirasi.
sarapan paginya sudah matang dan sudah siap di atas meja makan. Karena akan melakukan perjalanan jauh, Teddy mmebuat sarapan pagi yang agak berat. Sesuai jadwal acara, makan siang akan di lakukan di sebuah kota besar dan sebagai tempat istirahat sebelum akhirnya menuju kota Surabaya dan menyeberangi lautan dengan menggunakan kapal.
Sambil menunggu Arsy, Teddy menyiapkan kedua koper besar mereka dan dua tas kecil.
__ADS_1
"Arsy ...." panggil eddy sambil mengetuk pintu kamar mandi. Tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi. Teddy berusaha membuka pintu kamar mandi dan memutar handle kamar mandi yang tidak terkunci sama sekali.
ceklek ...
Pintu kamar mandi terbuka. Teddy hanya bisa mengelus dada saat menatap Arsy yang masih duduk bersandar di atas toilet dengan kedua kaki bersila di atas toilet. Istri labilnya itu sama sekali belum mandi dan masih berpakian lengkap dan utuh. Dengan langkah pelan, Teddy mengambil shower lalu menyemprot ke arah Arsy.
"Argh ...." teriak Arsy sambil menutup wajahnya yang terkena semprotan karena kaget. Kedua matanya membuka lebar dan menatap tajam ke arah Teddy yang nampak kesal dengan Arsy.
"Apa -apaan sih Mas? Pakai nyemprot -nyemprot segala? Ini airnya masuk hidung," ucap Arsy dengan suara lantang. Ia tak terima sudah di perlakukan secara tidak adil seperti ini.
"Masih bilang kenapa? Ini sudah setengah tujuh kurang. Kamu belum mandi dan belum keramas. Kita ini mau pergi, mana belum sarapan pula. Bisa gak sih, kalau bersikap dewasa sedikit, gak ceroboh, tepat waktu," ucap Teddy yang kesal tetap dengan nada pelan menasehati.
Arsy masih tak terima dan menggerutu kesal.
"Ya sudah. Ini mau mandi dan keramas. Mas Teddy pergi dong, masa mau lihat istrinya mandi?" ucap Arsy kesal.
"Kalau Mas gak mau pergi kan juga gak apa -apa. Jangan kan lihat kamu mandi, lihat tubuh kamu polos bergerak -gerak manja di bawah Mas aja, Mas sudah dua kali lihat. Jadi untuk apa malu?" tanya Teddy yang menggoda Arsy. Ia malah senang memancing amarah macan betina yang sudah mulai jinak itu.
"Pergi ... Arsy mau mandi," teriak Arsy mulai kesal. Seketika membuat Teddy pun langsung berlari keluar dari kamar mandi dan menutup rapat pintu kamar mandi.
Teddy menghela napas dalam saat sudah berada di luar kamar mandi. Ia kembali ke meja makan menunggu istri labilnya selesai berdandan.
Arsy pun langsung berlari menuju ruang makan. Pagi ini, seluruh siswa boleh memakai pakaian bebas kecuali saat acara tertentu yang mengharuskan memakai seragam putih abu.
Teddy menatap Arsy dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pakaian yang di pakai Arsy sedikit ketat tapi memang masih sopan.
"Kenapa? Ada yang salah sama pakaian Arsy?" tanya Arsy pelan sambil merapikan pakaiannya kembali.
"Tidak ada. Tapi bagusnya sih, pakai jaket gitu, biar gak kelihatan menganggu penglihatan," ucap Teddy pelan.
Arsy menatap dirinya di cermin besar yang ada di dapur. Ia memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri untuk melihat dirinya di depan cermin. Apa salahnya dengan pakaian yang di gunakan.
Teddy menghampiri Arsy. Lalu menatap Arsy dari arah belakang.
"Apa sih Mas yang salah sama baju ini? Celana panjang, kaos pun pajang," tanya Arsy pelan sambil bergaya di depan cermin.
Tangan Teddy memeluk Arsy dari belakang dan memegang ujung kaos lengan panjang itu yang pendek.
__ADS_1
"Lihat kalau kamu menaikkan tangan kamu, maka baju ini juga aikut naik ke atas. Lalu, celana ini terlalu ketas dari belakang. Mas itu gak mau berbagi, apalagi banyak mata yang melihat kemolekkan tubuh Istri Mas secara tidak langsung. Bisa bikin travelling otak," ucap Teddy mengecup pipi Arsy pelan.
"Ih ... Cium -cium," ucap Arsy sambil mengelap bekas ciuman Teddy yang masih terasa menempel di pipinya.
"Emang gak boleh cium -cium?" tanya Teddy yanag masih memeluk Arsy dari belakang dan menatap ke arah cermin.
"Gak boleh. Harus ijin dulu," ucap Arsy mengingatkan.
"Ijin? Ijin ke siapa?" tanya Teddy kemudian.
"Ya ... Seseoarng yang memiliki Arsy lah," ucap Arsy ketus.
Teddy pun memutar tubuh Arsy dan kini mereka saling berhadapan. Keduanya saling menempel. tangan Teddy pun melingkar di pinggang Arsy.
"Hayo mau apa?" tanya Arsy menuduh.
Teddy menggelengkan kepalanya pelan.
"Mau apa? Gak apa -apa," jawa Teddy berkilah.
"Ini sih?" tanya Arsy pelan. Tubuh keduanya sudah saling menempel.
"Gak usah suudzon. Jangan berpikiran negatif. Ini rambut kamu ada apanya?" tanya Teddy pelan sambil menyibakkan rambut yang mengenai wajah Arsy.
Arsy diam karena wajah Teddy mulai mnedekat.
"Rambutnya ada apa Mas?" tanay Arsy lembut.
"Cuma pengganggu saja. Ijin cium ya ...." ucap Teddy lirih sambil menyibakkan rambuta Arsy dan mengecup bibir Arsy lembut.
"Ih ...." teraik Arsy mnedorong tubuh Teddy pelan.
Rasanya jantung Arsy itu mau lepas dari tubuhnya.
"Katanya suruh ijin. Giliran ijin malah di dorong?" ucap Teddy menggoda. Ia berpura -pura menatap ke arah jam tangannta dan mulai tersenyum aneh kepada Arsy.
"Kenapa Mas? Senyumnya aneh gitu?" ucap Arsy yaang langsung bergidik ngeri.
__ADS_1
"Kayaknya masih bisa satu atau dua ronde sebelum berangkat ke sekolah?" ucap Teddy setengah berbisik dan tersenyum penuh gaitah kepada Arsy.
Arsy melotot tak percaya. Suaminya benar -benar mesum dan penuh hasrat.