
Bismo dan Arsy kembali turun menuju bis terakhir. Dua koper besar milik keduanya sudah masuk di dalam bagasi yang sama dan saling bertumpuk.
Arsy naik ke atas bis lebih dulu dan hanya tersisa bangku di bagian depan sebelah kiri. Karena semua tempat duduk sudh terisi penuh eman -temannya. Hanya tinggal bagian depan saja, kalau bagian depan belkang supir memang di peruntukkan untuk guru pendamping masing -masing bis.
"Cie ... Satu bangku nih ye ...." celetuk salah satu siswa yang memang gemar ber -ghibah ria.
"Kenapa? Iri?" tanya Bismo tiba -tiba yang sudah berdiri di belakang Arsy sambil memegang pundak Arsy.
"Kalau iri, gw udah mepet Arsy dari dulu,' ucap seorang laki -laki yang memang dari dulu menyukai Arsy.
Satu bis itu hampir sebagian besar lelaki. Siswi cantiknya hanya ada bebeapa gelintir orang saja.
"Duduk Sy," titah Bismo pelan.
Arsy duduk di bangku dekat jendela. Seperti biasa, Arsy lebih nyaman jika duduk di sebelah kaca, dan Bismo sangat tahu itu.
Bismo pun duduk di sebelah Arsy dan bersandar pada bangku bis.
Para guru pendamping terlihat sedang melakukan briefing dan doa bersama sebelum masuk ke dalam bis mereka. Supir dan kenek serta supir pengganti sudah siap di atas bis.
Suasana bis masih riuh dan ramai. Mereka semua bercanda gembira. Beban akan ujian akhir pun sengaja di lupakan sejenak agar tidak mengganggu acara liburan kali ini.
Arsy duduk diam menatap ke arah depan. Satu tangannya masih di genggam erat oleh Bismo.
"Mo, Lepasin. Gak enak nanti kalau ada guru pendamping," pinta Arsy pelan.
"Semua teman kita, dan para guru, tahunya kita pacaran. Jadi, gak usah risau, kecuali yang jadi guru pendamping kita itu Pak Teddy. Baru aku lepas," ucap Bismo tegas.
Beberapa menit kmudian, kumpulan guru pendamping itu pun bubar dan mereka berjalan sesuai dengan bis mereka masing -masing.
Nampak Bu Lina yang terus mengekor Pak Teddy dan seolah seperti ingin berdekatan terus.
'Kok arahnya ke bis ini ya?' batin Arsy yang menatap ke arah keduanya.
Benar saja. Ucapan adalah doa yang d kabulkan secara langsung. Bis terakhir ini di dampingi oleh Bu Lina dan Pak Teddy.
__ADS_1
Pak Teddy naik terlebih dahulu dan betapa terkejutnya saat kepalanya mendongak menatap Arsy yang juga menatap sendu ke rah suaminya. Teddy langsung jengah melihat Bismo yang ada di kursi sebelah Arsy dengan kedua tangan yang saling menggenggam.
Kalau di rumah, mungkin Teddy bisa saja langsung bicar pada Arsy tentang ketidak sukaannya ini. Tapi, kalau di sekolah sesuai perjanjian, hubungan mereka hanya sebatas guru dan murid saja, kecuali beberapa orang yang memang sudah mengetahui hubungan mereka.
Teddy hanay menunduk dan melempar pandngannya dari Arsy. Saat itu Bismo sedang memjamkan kedua matanya. Tapi, jelas ia melihat kedatangan Teddy. Semua ini memang sudah di rencanakan antara Bismo dan Bu Lina.
Bu Lina sendiri berjalan di paling akhir dan tak peduli dengan tatapan Arsy yang melongo melihat kebersamaan keduanya.
"Pak ... Saya duduk dekat kaca ya?" pinta Bu Lina dengan suara yang makin lembut.
Tanpa menjawab, Teddy pun menggeser duduknya ke arah samping.
Arsy langsung melepas pegangan tangannya di dalam genggaman Bismo hingga Bismo berpura -pura bangun dan kaget.
"Kenapa Sy?" tanya Bismo pelan.
"Panas, " jawab Arsy ketus.
Teddy melirik sekilas ke arah Arsy yang memang merasa panas duduk di samping kaca yang memantulkan sinar matahari.
Peluh Arsy terlihat mengucur menahan panas.
"Arsy? Sini tukar tempat duduk dengan saya?" titah Teddy yang tidak tega melihat Arsy kepanasan seperti itu.
Arsy menoleh ke arah Teddy yang mengangguk kecil.
"Jangan Pak. Biarkan saja. Mereka berdua itu kan sedang pacaran. Jangan diganggu," ucap Bu Lina memohon untuk tidak pindah.
"Karena mereka pacaran. Saya mau pindah, biar tidak terjadi hal -hal yang di inginkan. Ibu mau tanggun jawab?" tanya Teddy ketus.
Skat Mat dong ...
Bu Lina tidak bisa menampik ucapan Teddy. Teddy berdiri dan menarik tangan Arsy yang terulur dan mereka berdua berpindah tempat duduk. Bismo hanya diam tak berkutik. Padahal sudah enak duduk bersama Arsy.
Arsy bersandar di tempat duduk yang baru dan terasa lebih nyaman. Kedua kakinya memanjat tempat penginjak kaki dan kedua matanya sengaja di pejamkan agar tak di ajak bicara oleh Bu Lina.
__ADS_1
"Jangan main -main dengan saya," tegas Teddy lirih tepat di samping telinga Bismo.
Bismo hanya menunduk dan merasa bersalah.
"Kamu pikir saya tidak tahu. Kamu sekongkol dnegan Bu Lina. Cerita hidupmu itu saya tahu. Atau kamu mau dapat sanksi dari sekolah?" tanya Teddy ketus.
"Jangan Pak. Maafkan saya. Niat saya hanya ingin melindungi Arsy," ucap Bismo pelan.
"Melindungi? Melindungi yang bagaimana? Dengan pegangan tangan? Kamu kira Arsy itu anak kecil yang harus kamu gandeng kemana -mana? Gitu? Kamu pikir saya tidak tahu, kamu masih berharap pada Arsy kan?" tuduh Teddy ketus.
"Maaf Pak." jawab Bismo lirih.
"Saya ingatkan. Sekali lagi saya lihat kamu menggoda Arsy. Maka saya pastikan, kamu dan Wulan tidak bisa melanjutkan sekolah," ucap Teddy mengancam.
"Bapak mengancam saya?" tanya Bismo. Ia memberanikan diri menoleh ke arah Teddy.
"Tidak ada mengancam. Kalau pun saya gak bilang, suatu saat sekolah juga akan mengendus," ucap Teddy mengingatkan.
Teddy melempar pandangannya ke luar kaca menatap ke arah Arsy dari pantulan kaca.
Bismo diam dan sibuk bermain dnegan ponselnya. Sepertinya sedang chat denagn seseorang.
Perjalanan menuju kota Surabaya sangatlah jauh. Bisa -bisa datang besok pagi. Siang ini kita akan makan di daerah cirebon sambil beristirahat dan menikmati laut pantura.
Semua siswa tampak diam dan hening. Ada yang tidur, ada yang mengobrol dengan temn sebangkunya dan ada yang sibuk bertelepon.
Arsy sendiri menikmati perjalanan dnegan memejamkan kedua matanya sambil sesekali membuka matanya dan menatap jalan tol yang sepi dan terasa panas sekali.
"Kamu dan Pak Teddy benar sudah tunangan? Atau hanya drama saja?" tanya Bu Lina ketus. Ia menatap ke arah cincin Arsy yang memang sama persis dengan cincin yang di pakai oleh Teddy.
Arsy menoleh ke arah Bu Lina.
"Serius dong. Kita berdua tunangan. Memang ada yang aneh? Sampai Ibu gak percaya?" tanya Arsy sambil menunjukkan cincin di jari manisnya.
"Apa sih menariknya kamu?" tanya Bu Lina yang masih tak percaya. Bisa -bisanya Teddy memilih Arsy.
__ADS_1
"Kalau itu, Ibu tanya langsung pada Pak Teddy. Bukan kapasitas Arsy untuk menjelaskan," ucap Arsy pelan. Ia kembali memejamkan kedua matanya. Malas sekali berbicara dengan Bu Lina, yang ujung -ujungnya hanya membahas hal itu lagi.