
Teddy langsung menutupi susu yang ada di meja kasir dengan tubuhnya. Ia berusaha memberi kode pada sang kasir untuk mendahulukan men -scan susu hamil itu dan langsung di masukkan ke dalam kantong plastik agar aman dari mata elang Bu Lina yang ada d kasir sebelah.
Sang kasir pun nampak cuek dan tak paham dnegan maksud Teddy hingga Arsy pun memegang lengan baju Teddy saat Bu Lina menghampiri keduanya.
Arsy dan Teddy hanya mematung menatap Bu Lina yang menatap keduanya secara bergantian. Paslnya, ini sudah malam, Arsy masih berpakaian seragam lengkap dan nampak masih rapi sekali.
"Kamu belum pulang, Sy?" tanya Bu Lina sambil mengernyitkan dahinya. Ia merasa aneh.
"Belum Bu. Lagi nganter Pak Teddy belanja. Iya kan, Pak?" tanya Arsy sambil mencubit lengan Teddy.
'Iya Bu. Tadi kebetulan saya ada perlu terus belanja dulu baru saya antar Arsy pulang ke rumah," ucap Teddy beralasan.
Kini, kedua mata Bu Lina menatap ke arah meja kasir. Jelas ia sedang melihat beberapa buah -buahan potong termasuk rujak di sana. Lalu, ada kotak susu yang nyempil di antara beberapa barang tersebut dan Bu Lina pun langsung mengambilnya karena penasaran.
"Ini susu siapa?" tanya Bu Lina menatap ke arah Arsy yang langsung terdiam tak bisa menjawab. Bibirnya terasa terkunci. Teddy pun lansung mengambil alih pembicaraan.
"Punya sepupu. Tadi pesan," jawab Teddy setenang mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan baru. Bu Lina bukan anak kecil yang mudah di bohongi. Usianya sudah matang dan cukup paham dengan dunia dewasa.
Bu Lina menatap tajam ke arah Arsy. Ia seolah tak mendengar jawaban Tedy yang ada di sebelahnya.
__ADS_1
"Jangan sampai, kamu mempermalukan nama sekolah kita. Kalau sampai iya. Kamu akan tahu akibatnya. Gak sayang sama pendidikan? Kalau ternyata sekolah mengeluarkan kamu?" tanya Bu Lina keji.
"Bu ... Kok anda malah memojokkan Arsy. Saya sudah jawab, kan? Itu susu hamil punya sepupu saya. Kalau ibu gak percaya, ayo kita ke rumah dan Ibu akan tahu kebenarannya," ucap Teddy berusaha membela Sang Istri.
"Kok malah and ayang marah, Pak?" tanay Bu Lina memutara tubuhnya menatap Pak Teddy.
"Karena Arsy, tunangan saya. Dia calon istri saya. Saya berhak membela ARsy sampai titik darah penghabisan," ucap Teddy tegas.
Sang kasir sudah selesai dan mengucap nominal yang harusdi bayar Teddy. Semua barang belanjaan sudah rapi di kantong plastik dan di letakkan di kereta dorong agar memudahkan konsumen membawanya hingga tempat parkiran.
Teddy pun langsung membayar belanjaan itu dan menggandengan tangan Arsy tanpa peduli pada Bu Lina yang masih kesal karena jawaban Teddy barusan.
Arsy pun langsung membalas genggaman tangan itu dan memeluk lengan Teddy dengan mesra. Ia sengaja memanas -manasi Bu Lina, dan menunjuukan bahwa Teddy adlah miliknya. Arsy adalah pemenangnya. Satu -satunya wanita yang berhasil merebut hati Teddy dan akhirnya di persunting menjadi istrinya.
"Saya pulang dulu ya, Bu. Permisi," ucap Arsy dengan sopan berpamitan.
Teddy dan Arsy sudah berada di parkiran mobil. Ia memasukkan semua barang -barang belanjaan bulanan untuk di apartemennya.
"Kamu lapar?" tanya Teddy di sle a-sela merapikan smeua barang -barang belanjaannya.
__ADS_1
"Gak Mas," jawab Arsy pelan.
Tubuhnya hanya lelah saja. Ingin rasanya di rebahkan di tempat tidur.
"Kamu capek ya?" tanya Teddy pelan sambil menutup pintu bagasi mobilnya dan meragkul Arsy menuju pintu samping mobil di bagian penumpang.
"Iya. Punggung Arsy sakit," jawabnya pelan.
"Nanti sampai di apartemen, Mas pijetin. Itu karean kehamilan kamu, makanya kamu cepat ellah dan sakit di beberapa bagian tubuh kamu. Besok -besok, pulang sekolah pulang saja. Gak usah ikut ke kantor. Mas iya kamu gak percaya sama sumai sendiri?" tanya Teddy pelan.
"Bukannya gak percaya. Kalau suaminya ganteng sempurna gini, Arsy juga kan was -was. Pelakor dimana-mana. Arsy kan bukan wanita sempurna. Masak aja gak bisa," jawab Arsy lirih.
"Memangnya Mas pernah mengeluh soal ini? Gak kan? Mas terima kamu apa adanya kamu, agar kamu juga bisa terima Mas dnegan smeua kekurangan Mas juga," jawab Teddy pelan sambil membukakan pintu mobil itu.
"Kalau Arsy cemburu dan berujung takut kehilangan. Itu perasaan yang wajar kan, dalam suatu pernikahan?" tanya Arsy pelan.
Teddy tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan.
"Ya. Itu wajar. Tandanya hati kamu muali bisa menerima Mas dnean baik. Makasih ya, Sayang. Kamu sudah emmbuka hati kamu untuk Mas. Mas sellau menunggu moment ini. Mas merasa menjadi lelaki yang paling beruntung, bisa di cintai oleh gadis lucu seperti kamu," ucap Teddy pelan dan mengecup kening Arsy dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1