Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
TAWARAN TINGGAL BERSAMA


__ADS_3

Teddy sudah berdiri di depan kamar apartemen milik mertuanya. Namun, kedua orang tua Arsy ssudah pindah dari apartemen itu. Ia pun keluar kembali dan mengucapkan banyak terima kasih kepada pemilik kios bunga karena telah baik mengantarkannya.


Sambil menunggu sore, Teddy pun berjalan menuju taman yang berada di sebelh apartemen itu. Ia sedih karena tak bisa menmukan mertuanya.


Teddy pun duduk di kursi taman dan menatap kosong ke arah depan dengan pandangan gelap. Entah apa yang ia lihat saat ini. Ia tela membohongi pemilik kios bunga dengan beralasan mertuanya tidak ada. Padahal, mertuanya sudah tak tinggal di sana lagi.


Tepat di jam sore itu, Bismo baru saja pulang dari tempat kerjanya. Tubuhnya yang lelah harus berjalan melewati dua blok lagi menuju apartemen kecilnya. Saat melewati taman, i amelihat sosok lelaki gagah yang sangat ia kenal. Wajahnya tak asing, hanya saja Bismo tak percaya bisa bertemu dengan lelaki itu di kota ini. Padahal ini negar yang jauh dan Bismo merasa ini sebuah mimpi. Menghilangkan kenangan buruk di masa lalunya tnyata tak semudah yang di bayangkan.


Langkah Bismo pelan berjalan menuju lelaki gagah dan tampan yang selama ini telah menjadi gurunya sendiri. Tak hanya itu, guru yang ia benci karena telah merebut cinta pertamanya dan menikahi kekasih hatinya yang telah berjanji bakal bersama -sama hingga dewasa nanti.


"Pak Teddy ...." ucap Bismo pelan. Ia hanya menyapa dnegan memanggil nama guru itu dan memastikan kalau orang tersebut memang benar Pak Teddy mantan gurunya.


Panggilan itu mmebuat Teddy pun menegakkan duduknya dan mencari -cari asal suara.

__ADS_1


"Ya ... Kamu siapa?" tanya Teddy sambil mencari -cari keberadaan orang memanggilnya.


Bismo menatap lekat ke arah Teedy. Ia melihat ada yang aneh. Apa benar gurunya ini buta?


"Anda benar Pak Teddy? Guru Biologi?" tanya Bismo masih saja tak yakin. Tapi wajah, postur tubuh itu memang milik Teddy.


"Iya," jawab Teddy mengulum senyum.


Lalu, Teddy angkat bicara. Ia tahu lawan bicarnya pasti kaget melihat kondisinya seperti ini.


Bismo masih juga tak percaya. Ia mengibaskan tangannnya kedepan wajah Teddy. Teddy tidak merespon dengan kedipan atau apapun. Semuanya nampak datar saja. Kedua matanya memang terbuka tapi sama sekali tak bisa melihat apapun. Semuanya gelap dan gelap.


"Ekhemm ... Saya hanya pernah melihay anda. Amda mau kemana?" tanya Bismo pelan.

__ADS_1


"Saya mau ke rumah mertua tapi mereka sudah pindah. Saya tidak tahu harus kemana. Saya baru saja datang ke kota ini setelah satu bulan penyembuhan luka akibat kecelakaan pesawat," ucap Teddy pelan menjelaskan.


Mendengar kata kecelakaan pesawat. Kepala Bismo langsung pening dan sakit. Ia langsung memegang kepalanya dan menahan rasa sakit yang begitu terasa seperti di hujam batu besar berkali -kali. Sesekali teringat kobaran api dan jeritan banyak orang dan wajah yang menyerupai Teddy. Namun, Bismo sama sekali tak mengingatnya.


"Anak muda? Kau tidak apa- apa?" ucap Teddy pelan.


"I'm okey. Mau tinggal sementara di apartemenku? Kalau iya, dengan senang hati kita bisa menjadi teman," ucap Bismo memberikan saran.


"Kau yakin? Aku bisa merepotkan kamu," ucap Teddy pelan.


Bismo tertawa keras. Ada kebencian di hatinya kepada gurunya ini. Tapi ... rasa belas kasihannya terlalu tinggi hingga ia lebih memilih untuk membantu Teddy dan mengijinkannya tinggal bersama.


Teddy menerimanya dengan sumringah. Kehidupannya begiru mudah dan di lancarkan. Selalu di temukan oleh orang -orang baik dan tulus membantunya.

__ADS_1


Keduanya berjalan menuju apartemen Bismo. Dalam perjalanan mereka babyak bercerita dan akhirnya membeli makanan untuk makan malam.


__ADS_2