
Pagi ini Arsy dan Teddy berangkat bersama menuju kampus. Arsy sejak tadi bertanya pada Teddy, dimana suaminya itu akan mengajar.
"Dari tadi di tanya malah bikin bete aja. Mas Teddy itu mau ngajar dimana? Susah amat kasih tahu nama universitasnya sih?" tanya Arsy dengan nada suara jengkel.
Wajahnya terlihat sanagt menggemaskan jika merajuk seperti itu. Teddy hanya melirik sekilas dan emngulum senyum tanpa menjawab pertanyaan Arsy dan tetap fokus menyetir membelah jalan raya yang begitu padat.
Merasa tak respon pertanyaannya dan dirinya seperti diabaikan tak dianggap ada, Arsy pun ikut terdiam dan berusaha merasa bodo amat.
Tak berselang lama, mobil Teddy langsung masuk ke area parkiran Universitas Pamitran. Teddy memarkirkan mobilnya di halaman belakang kampus bukan di halaman depan.
"Arsy turun di sini saja. Biar gak kejauhan juga jalannya. Tadi kayaknya anak maba udah pada kumpul di depan kan?" tanya Arsy pada Teddy.
"Maa anterin ya? Tidak ada penolakan. Mas mau pastikan kamu berada di lingkungan yang benar, dan bisa menjaga kamu. Mas mau titipkan kamu pada panitia OSPEK MABA," tegas Teddy pada Arsy.
__ADS_1
"Iya Mas. Tapi ini udah siang. Mas juga harus ke kampus tempat Mas mengajar. Nanti malah telat, kena sanksi lagi hanya karena nganter Arsy. Ini kan hari pertama Mas Teddy kerja," ucap Arsy dengan nada peduli.
Mobil sudah berhenti dan Teddy menatap gemas istrinya yang hari ini begitu bawel dan malah membuat Teddy gemas sendiri. Teddy melepas sabuk pengaman di tubuhnya dan di tubuh Arsy.
Saat membuka sabuk pengaman di tubuh Arsy, seperti biasa, Teddy mencuri cium pipi tembem Arsy sambil mengusap perut istrinya yang besar.
"Mamanya hari ini bawel banget. Tapi, Papahnya suka karena mukanya Mamah jadi lucu. Dedek semua sehat -sehat ya di dalam perut Mamah. Jangan nakal, janagn bikin Mamah susah. Kasihan Mamahnya mau menuntut ilmu, biar kelak kalian menjadi anak -anak yang bisa di banggakan oleh orang tua," ucap Teddy mengecup perut besar itu dengan enuh kasih sayang.
Teddt mnegangkat wajahnya dan kini menatap Arsy yang juga menatap suaminya dengan senyum manis.
"Mamahnya juga hati -hati ya. Jangan lupa makan dan gak boleh capek -capek. Tetep semangat ya ini sudah jadi pilihan kamu sejak awal mau tetap kuliah," ucap Teddy pada Arsy.
Arsy mengangguk mantap. Arsy sangat yakin dengan keputusannya untuk tetap meneruskan kulaih di usia kehamilan yang tua ini. Toh, hanay tinggal melahirkan, setelah itu ada orang tuanya. Ada baby sitter juga yang bakal membantu Arsy mengauh dua bayi kembarnya. Kuliahnya juga masih semester satu, belum banyak mata kuliah yang di ambil dan tentunya tidak sesibuk saat sekolah. Itu yang Arsy lihat. Terkadang kenyataan dan impian itu beda tipis dan sulit sekali di jalankan setelahnya.
__ADS_1
"Pasti Mas. Dont worry ya sayangnya Arsy," ucap Arsy dan kini ia berani mencium pipi Teddy. Ini masih di dalam mobil dan parkiran itu nampaknya sepi. Tentu tidak akan ada yang melihat kalau sekedar mencium pipi saja.
Teddy tersenyum miring ke arah Arsy mmebuat Arsy salah tingkah sendiri dan memundurkana tubuhnya.
"Apalagi? Awas Arsy mau turun," cicit Arsy dengan wajah memerah seperti kepiting rebus.
"Kok cuma pipi yang kiri. Nanti yang kanan iri lho, Sayang. Harus adil," cicit Teddy memutar wajahnya sedikit hingga keduanya saling berhadapan agar Arsy bisa menggapi pipi Teddy sebelah kanan.
Tanpa banyak bicara Arsy hanya terkekh kecil dan memajukan wajahnya untuk mencium pipi kanan Teddy. DEngan cepat Teddy menggeser wajahnya dan bibir Arsy malah tepat mengenai bibir Teddy.
Cup ...
Arsy terkejut dan menatap kedua mata Teddy yang juga menatap dirinya lekat. Pagi ini memang di suguhi olah raga senam jantung yang begitu mendebarkan.
__ADS_1