
Teddy berjalan pelan sambil mengamati lelaki yang ada di depan Arsy. Terlihat mereka mengobrol sesuatu yang menarik tapi ARsy tidak mau menerima ulurn tangan itu.
"Pak Teddy, Kita duduk dimana?" tanya Keyla pelan sambil mencari tempat duduk yang pas untuk merka. Kedua matanya mengedar hingga melihat Arsy, gadis yang tadi bersama Teddy sudah bersama lelaki lain.
"Saya sudah ada janji dengan Arsy. Maaf Keyla," ucap Teddy pelan.
"Lihat, gadis magang itu saja tidak mempedulikan Bapak. Masih mau berbaik -baik juga. Se -spesial apa dia?" tanya Keyla sinis.
Teddy hanya tersenyum kecut. Malas memperdebatkan hal yang sama seklai tidak di ketahui oleh Keyla.
Langkah kakinya semakin cepat saat lelaki itu mulai terlihat modus. Ia sengaja berdiri dan menyibakkan rambut ARsy dan berusaha menyentuh wajah Arsy..
"Ehem ...." suara deheman yang cukup keras membuat Rendy menoleh dan kembali duduk di kursinya.
Teddy langsung meletakkan nampan besar di meja tepat Arsy duduk.
"Saya mau duduk di sini. Kamu bisa pergi," ucap Teddy dengan suara lantang.
Rendy pun menatap Arsy yang menunduk tak berani mengangkat wajahnya.
"Dia siapa Sy? Om kamu?" tanya Rendy tanpa bersalah. Wajah Rendi terlihat sinis dan kesal.
"Maaf Kak Rendi. Arsy memang sudah ada janji makan siang dengan Pak Teddy," ucap Arsy pelan.
"Oh gitu. Oke. Kapan -kapan aku ke rumahmu. Aku ajak makan di tempat yang lebih bagus dari kantin ini," ucap Rendy kesal.
Rendy pun langsung bangkit berdiri dan pergi begitu saja meninggalkan Arsy dan Teddy.
Dari kejauhan, Keyla masih mencuri pandang ke arah Teddy. Ia sangat penasaran dnegan Arsy, si gadis magang. sampai Teddy menolak ajakannya. Banyak lelaki menginginkan Keyla, apalagi sampai Keyla yang meminta. Tapi, Keyla merasa tertantang dnegan penolakkan Teddy kepadanya. Ia semakin penasaran untuk mendapatkan Teddy.
Arsy mengambil piring pesannnya dan mulai menikmati makanannya pelan.
"Kamu sengaja? Mau balas dedam?" tanya Teddy yang mulai murka. Ia tidak bisa menyembunyikan rasacemburunya terhadap Arsy.
Arsy hanya menggelengkan kepalanya pelan. Ia juga kesal, tadi di abaikan begitu saja, malah di suruh cari tempa duduk sendiri. Sedangkan Teddy asyik mengantri dengan nenek lampir yang bernama Keyla.
"Dendam? Untuk apa?" tanya Arsy kemudian.
Teddy terlihat menarik napas panjang dan perlahan menghembuskan. Ia berusaha menenangkan hatinya agar tidak memicu perdebatan yang tak penting.
"Makanlah. Tidak usah bahas ini," ucap Teddy pelan. Ia berusaha tidak emosi.
Arsy diam dan menghabiskan makanannya. Ia lapar sekali sejak tadi.
__ADS_1
"Tadi itu siapa?" tanya Teddy yang masih peasaran.
Arsy berhenti mengunyah dan menatap Teddy yang bertanya tanpa menatap wajah Arsy.
"Bicara sama Arsy?" tanya Arsy dengan sengaja membuat Teddy jengkel.
"Kamu pikir, saya bicara sama kentang goreng?" ucap Teddy makin paas.
"Ohh ... Kirain," jawab Arsy sekenanya.
"Siapa tadi?" tanya Teddy mengulang kembali pertanyaannya.
"Rendy," jawab Arsy singkat.
"Siapa?" tanya Teddy bertanya sambil menikmati makanan yang ada di depannya.
"Kakak kelas Arsy dulu," jawab Arsy pelan.
Teddy memang baru satu tahun bekerja sebagai Guru BP di sekolah Arsy. Awalnya ia mendaftar sebagai Guru Biologi, berhubung masih ada guru di posisi ini, maka Teddy di suruh menunggu. Sebentar lagi, Guru Biologi itu akan pensiun.
"Kakak kelas? Terus di gedung ini ngapain?" tanya Teddy beruntun bertanya karena penasaran.
"Lagi magang dari kampusnya seklaian bikin tugas akhir katanya," ucap Arsy jujur.
"Tadi mata Arsy sakit. Kayaknya kelilipan. Dia bilang itu mungkin karena rambut kamu, makanya dia benerin rambut Arsy," jawab Arsy pelan.
Teddy diam lagi dan menghabiskan makanannya. Arsy pun tidak peduli. Ia juga masih kesal.
"Kamu mau kemana. Saya ada rapat sampai sore. Mau di ruangan atau mau kemana?" tanya Teddy kemudian.
Teddy tidak tega melihat Arsy jenuh berada di gedung ini. Walaupun sebenarnya ia juga tidak sampai hati meninggalkan Arsy sendirian.
Arsy menatap ke sekeliling gedung besar ini. Ia tak melihat ada sesuatu yang bisa di lakukan kecuali bermain ponselnya.
"Arsy di ruangan saja," jawab Arsy pelan.
"Saya sampai sore? Gak apa- apa? Atau mau nonton? Gak jauh dari gedung ini ada gedung bioskop?" tawar Teddy kepada Arsy.
"Gak. Arsy gak mau," jawab Arsy pelan.
Teddy menatap ke arah jam tangnannya. WAktu makan siangnya sudah habis. Kini, ia harus kembali ke ruangannya untuk persiapan rapat kembali.
"Sudah selesai makannya?" tanya eddy pelan.
__ADS_1
"Sudah. Ini Arsy bawa aja ke ruangan boleh?" tanya Arsy pelan.
"Bawalah. Apa mau beli sesuatu lagi?" tanya Teddy.
"Gak Pak. Ini cukup," ucap Arsy pelan.
Waktu istirahat untuk makan siang sudah selesai. Keduany naik ke atas kembali ke ruangan. Tak lama Teddy pergi lagi untuk rapat dan meninggalkan Arsy di ruangan kerja itu sendiri.
Bosan? Tentu. Menunggu tanpa ada aktivitas dan tak ada teman bicara tentu sangat membosankan. Arsy duduk di sofa dan menutup telingaya dengan headset untuk mendengarkan musik kesukaannya.
Satu jam berlalu, Arsy masih bertahan sambil menikmati cemilan yang di bawanya tadidari kanti dan mencicipi kembali kue lapis legit pemberian Riana.
Dua jam kemudian. Bantal sofa sudah di tumpuk menjadi satu di ujung sofa. Tubuh Arsy mulai terasa pegal dan akhirnya ia rebahkan di sofa empuk itu dengan kepala yang bersandar pada tumpukan bantal sofa. Kedua kaki Arsy juga naik ke atas sofa. Ia sudah merasa seperti berada di kasurnya sendiri.
Tak lama, Arsy menguap dan akhirnya tertidur karena kelelahan.
Tepat jam empat sore, rapat direksi itu telah selesai. Teddy pun kembali ke ruangan. Ia melihat Arsy tidur di sofa dengan nyamannya. Jasnya ia buka dan untuk menutup kedua kaki Arsy.
Teddy melanjutkan pekerjaanya yang belum selesai di meja kerjanya.
Tok ... tok ... tok ...
"Masuk," jawab Teddy keras hingga pintu ruangan itu terbuka lebar.
Riana masuk ke dalam dan memberikan sebuah map.
"Ini dari pemilik perusaahaan. Beliau berpesan untuk memberikan ini kepada Pak Teddy setelah beliau pergi," ucap Riana pelan.
"Terima kasih Riana," jawab Teddy pelan.
"Adik Bapak mau magang di sini juga?" tanya Riana pelan.
"Adik saya?" tanya Teddy lupa kalau Arsy tadi memperkenalkan dirinya sebagai adik.
"Itu. Asy kan adik Bapak?" tanya Riana pelan. Ia makin penasaran banyak keanehan di sini.
"Ohh Arsy. Tida, dia lagi mals sekolah saja," jawab Teddy sekenanya.
"Ohh .. Baru SMA sudah malas sekolah," jawab Riana agak sinis.
"Bisa gak? Kalau kamu gak ikut campur urusan ini?" tegas Teddy yang mulai risih dan merasa terganggu.
"Maaf Pak," ucap Riana pelan kemudian keluar dari ruangan itu.
__ADS_1