Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
KESEMPATAN DALAM KESEMPITAN


__ADS_3

Wulan tak berkutik hanya gelengan pelan dan sedikit ragu yang ia tunjukkan sebagai jawaban untuk Bu Lina. Posisi Wulan yang bersalah menjadi sangat sulit.


Kapal sudah masuk ke dalam dermaga. Sudah banyak orang berdiri dan keluar dari ruangan untuk berbaris antri keluar dari kapal. Terasa sesak dan sumpek sekali sepertinya.


Wulan langsung berdiri dan membawa tas ransel kecilnya menuju pintu keluar ruangan itu meninggalkan Bu Lina.


"Lho ... Wulan. Kok Ibu di tinggal? Kita masih bicara dan kamu belum menjawab," ucap Bu Lina sedikit berteriak.


"Wulan mau ke kamar mandi Bu," jawab Wulan sekenanya dan tetap berdiri antri menuju keluar dengan orang banyak.


Teddy sudah keluar sejak tadi. Kedua matanya terus bergerilya mencari Arsy yang sulit di temukan karena memang terlalu banyak orang di kapal itu. Teddy berusaha berjalan terus ke depan dan menuju luar kapal. Baginya lebih baik menunggu Arsy di luar kapal di sekitar tempat tunggu parkiran Bis.


Bismo terus berusaha membangunkan Arsy yang entah tidur atau pingsan di bahunya.


"Sy ... Bangun. Kapal sudah berhenti. Kamu bangun donga, kita keluar dari sini," ucap Bismo yang terus menepuk pipi RAsy pelan.


Tangan Arsy begitu dingin. Wajahnya masih pucat. Arsy tetap tidak bangun. Bismo panik setengah mati. Kedua matanya mengdar dan berusaha mencari pertolongan. Tapi semua orang cuek dan sibuk untuk turun dan berbaris antri.


Bismo mencari akal. Ia membuka botol minuman yang berisi air mineral lalu menumpahkan sedikit ke tangannya lalu di usap lembut ke wajah Arsy agar gadis itu terbangun. Tapi usahanya gagal. Kini giliran bibir Arsy yang di olesi air agar bibirnya tak kering dan tak seputih itu seperti mayat.


Tangan Bismo menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali. Ia bingung luar biasa. Belum lagi nanti di salahkan oleh Pak Teddy, guru biologi yang killer.


Bismo mencari cara yang mungkin masih bisa ia lakukan. Tidak mungkin Arsy di tinggal begitu saja di sini.


"Eungh ...." suara erangan pelan lolos dari bibir Arsy. Tubuhnya tak bergerak masih di posisi yang sama tapi Arsy sudah bisa bersuara. Perlahankeduanya matanya di buka. Kepalanya masih berputar dan terasa pening dan pusing.


Rasa mual yang sejak tadi membuat sesak dadanya pun muali berangsur membaik walaupun masih terasa sakit di bagian ulu hati.


"Arsy ... Bangun Sy. Sudah sampai," ucap Bismo pelan.


"Heumm ... Sakit kepala Arsy," jawab Arsy lirih. Tangannya memang memegang kepalanya dan memijat pelan.


"Kamu kuat gak? Klaau gak kuat, biar aku gendong, di belakang. Kita harus cepat turun dari sini, dan kamu bisa cerai tempat yang lebih nyaman untuk istirahat," ucap Bismo pelan menyarankan.

__ADS_1


"Arsy lemes Mo. Ini beneran gak kuat buat jalan, pusing juga kayak muter -muter gitu. Penegn makan yang seger biar enegnya hilang," ucap Arsy pelan.


"Mau makan apa? Kayaknya di pelabuhan gak bisa lama. Tapi kalau bisa di bungkus, nanti aku belikan," ucap Bismo pelan.


"Bakso urat yang pedes banget," ucap Arsy pelan. Sesekali Arsy menelan air liurnya karena membayangkan bakso urat yang besar -besar di tambah kuah bakso yang pebuh sambal dan saos serta kecap. Pasti nikmat tak terkira, Arsy yakin mualnya akn hilang.


"Hah? Bakso urat? Kamu lagi ngidam Sy? Kamu kan gak suka pedes? Nnati malah sakit perut," ucap Bismo mengingtakan. Bismo kenal Arsy bukan sehari atau dua hari. Ia tahu Arsy tidak menukai makanan pedas. Kalau ia memaksa makan pedas bisa dua hari du amlam Arsy bolak balik ke kemar mandi sampai tubuhnya lemas.


"Ngidam? Cuma pengen bukan ngidam"' cicit Arsy pelan meluruskan.


"Itu sama saja Arsy kepengen sama mengidam itu sami mawon," ucap Bismo pelan.


Bismo melihat sudah banyak orang yang berhasil keluar dari kapal. Antrian pun tidak se -parah tadi sampai berdorong -dorongan ingin segera keluar dari kapal. Biasanya mereka mencari kesempata untuk mencopet makanya sengaja melakuak dorong -dorongan untuk mengalihkan perhatian penumpang kapal.


"Sy ... Yuk turun. Kuat gak?" tanya Bismo kembali.


Arsy masih menyandar di bahu Bismo. Dengan cepat Bismo pun berjongkok dan menyuruh Arsy naik ke punggungnya. Sepertinya Bismo akan kuat menggendong mantan kekasihnya itu. Secara, Arsy kan memang sangat mungil sekali.


"NAik cepet. Kita harus turun sekarang. Nnati kita keinggalan Bis, Sy. Cepet," ucap Bismo tegas.


Arsy pun menurut. Untung saja dia memakai celana pendek dan kaos oblong jadi tidak repot pas di gendong oleh Bismo.


Bismo mulai berjalan pelan menuruni anak tangga menuju parkiran pelabuhan dengan Arsy yang berada di pungggungnya. Kepala Arsy di letakkan apad bahu Bismo. Sudah tidak ada lagi rasa malu atau atau rasa sungkan kalau merasakan sakit.


Selama dalam perjalanan menuju parkiran, Arsy dan Bismo tidak bicara sama sekali. Arsy mungkin merasa masih pusing dan mual sehingga tubuhnya tak bertenaga untuk bicara.


Beberapa teman -teman se -angkatannya mulai menyoraki keduanya yang terlihat makin mesra dan bucin. Beberapa teman dekat Bismo pun mulai berteriak dan bersiu keras hingga Bismo merasa malu. ia malu dan takut bila Pak Teddy melihat mereka.


"Itu anak -anak pada kenapa sih?" tanya Arsy pelan. Ia hanya bisa mendengar suara itu terdengar di telinganya. Suara riuh, teriakan, candaan dan suara celetukan konyol.


"Biasa kan, anak -anak kalau lihat kita begini di anggap kayak bucin," ucap Bismo pelan.


"Bucin? Emang dulu kita bucin?" tanya Arsy lirih dengan kedua mata terpejam.

__ADS_1


Bismo tertawa pelan. Sesak rasanya di dada. Dulu mereka saling menyayangi, tapi sekarang mereka dekat tapi tak memiliki hubungan apa -apa.


"Cuma tertawa? Oh iya ... Arsy lupa, dulu kamu kan masih aktif sebagai ketua OSIS, makanya gak bucin, harga diri seorang jetua OSIS pasti di pertaruhkan," ciict Arsy lirih mengingat saat masih bersama.


"Maafkan aku yang dulu gak bisa menjadi seorang laki -laki yang kamu inginkan. Sekarang aku pasntas kamu sisihka, dan kamu bisa mendapatkan yang lebih abk dari aku. Dan itu terwujud kan?" ucap Bismo pelan.


"Kamu baik Mo. Arsy harap kamu juga mendapatkan wanita yang lebih baik dari Arsy. Arsy cuma mau pesen, silaturahmi kita jangan terputus ya? Walaupun kamu juga gak bisa bersama dengan Wulan, kita bertiga bisa sahabatan dengan baik," cicit Arsy lirih. Rasanya air amtanya telah mengumpul di kelopak matanya.


Bismo berusaha tegar dan menahan smeua rasa capur aduk di hatinya.


"Jadi mau makan bakso gak? Kamu di Bis dulu, dan aku beli bakso, annti aku suapi," ucap Bismo pelan.


Ia mencari Bisnya dan naik ke dalam Bis. Semua orang mulai panik melihat Arsy yang pucat dari jarak dekat. Begitu juga dengan dua guru pendamping di bis itu. Bismo mendudukan Arsy di kursinya dan bergegas turun kembali untuk membeli basko urat pesanan Arsy.


Jangan salah, sejak tadi ada sepasang mata yang kesal melihat kedekatan mereka lagi.


"Jangan cari kesempatan dalam kesempitan. kamu thau Arsy sudah ada yang punya," ucap Teddy yang sudah berada di samping Bismo yng sdeang memesan bakso urat untuk Arsy.


"MAksud Bapak apa ya? Bismo gak paham," ucap Bismo pelan.


"Buat apa menggendong Arsy? Memangnya dia masih anak balita?" tanya Teddy pelan.


"Arsy sakit Pak. Dia mengeluh pusing dan kepalanya berputar," ucap Bsimo jujur.


"Saya harus percaya pada mantan kekasihnya? Yakin tidak ad niat buruk?" tanya Teddy pelan.


"Maaf Pak. Saya sama sekali gak meracuni pikiran Arsy. Seharusnya Bapak tidak menuduh hal buruk pada saya. Arsy yang datang dan ingin pindah Bis. Tadi di kapal pun dia mual mau muntah, dan sekarang minta bakso urat yang pedes," ucap Bismo pelan menceritakan semuanya kepada Teddy.


"Kamu mau meracuni Arsy? Bukankah di tidak suka pedas? Maah di kasih sambal?" tanay Teddy keras.


"Arsy yang minta Pak. Dia kepengen yang pedas biar mualnyahilang katanya," ucap Bismo menirukan ucapan Arsy tadi.


Teddy pun tak menjawab dan pergi begitu saja membuat Bismo mengehla napas dalam.

__ADS_1


__ADS_2