
Suara decitan mobil begitu keras. Gesekan antraa ban mobil denagn aspal hitam hingga membekas di jalanan tapak ban yang dengan kuat mengerem. Kaki Teddy dengan spontan menginjak rem dengan sangat dalam.
Teriakan Arsy juga reflek lolos dari bibirnya dan hampir saja kepalanya terbentur dashboard. Untung saja, Arsy memakai sabuk pengaman di kursinya.
Teddy juga nampak kaget dengan sesuatu yang lewat dengan tiba -tiba. Teddy menoleh ke arah Arsy yang panik sambil memegang perutnya.
"Kamu gak apa -apa, Sayang? Maaf, tadi ada kucing lewat. Perutnya kenapa? Sakit?" tanya Teddy cemas. Tangannya mengulur ke arah Arsy dan ikut memegang perut Arsy pelan.
Arsy menyandarkan tubuhnya kembali ke sandaran jok. Rasanya mual sekali dan eneg di sekita ulu hati. Perlahan sabuk pengaman itu Arsy lepaskan. Nampak Arsy sedang menarik napas dalam dan pelan di hembuskan.
"Mana yang sakit, Arsy? Jangan diam saja? Jangan bikin saya cemas melihat raut wajah kamu yang seperti ini," ucap Teddy berusaha memegang dan mengusap perut Arsy dengan lembut.
Tangan Arsy menarik tangan Teddy lalu di giring ke bagian dadanya. Terasa degub jantung Arsy begitu keras berdetak.
Dengan tatapan sendu Arsy lekat kepada Teddy, "Kerasa?"
Pertanyaan itu membuat Teddy merasakan apa yang sedang di rasakan Arsy saat ini.
"Kerasa gak?" tanya Arsy pelan kepada Teddy yang sejak tadi tak menjawab.
"Ekhemm ... Ini baru di rasakan," jawab Teddy pelan.
Arsy melotot dan bertanya dengan suara keras, "Merasakan apa?"
"Detak jantung kan?" jawab Teddy polos tanpa ada rasa bersalah.
"Hah? Detak jantung? Dari tadi Mas ngerasain itu?" tanya Arsy ketus.
"Iya. Kamu tunjuk bagian dada kamu? Kan Mas rasain tuh degubnya tadi keras dag dig dug dag dig dug," ucap Teddy mengikuti semua suara apa yang di rasakannya tadi.
"Dih ... Bukan itu," cicit Arsy kesal. Suaminya sama sekali gak peka dengan maksudnya.
"Bukan?" jawab Teddy bingung. Jiwa kekonyolan Teddy sedikit kurang memang. Berbeda dengan Arsy yang terlalu receh menyikapi candaan. Walaupun ujung -ujungnya merajuk, ngambek biar di perhatiin.
__ADS_1
Arsy meggelengkan kepalanya pelan. Tangannya terys memegang tangan Teddy untuk merasakan apa yang sedang di rasakan Arsy di bagian dadanya.
"Kamu kenapa sih? Jangan bikin cemas Mas, dong" ucap Teddy makin bingung dan khawatir.
"Hemm ...." Arsy hanya berdehem dan memejamkan kedya matanya sepweti menahan rasa sakit.
"Arsy ... Kamu jangan bikin panik dong?" titah Teddy muali gusar.
"Mas ... Mas gak bisa ngerasain ya? Apa yang Arsy rasain sekarang?" tanya Arsy makin sendu.
"Kenapa Sayang? Coba bilang? Kalau ada apa -apa kita bisa langsung periksa," titah Teddy dengan nada suara mulai meninggi.
"Coba rasain sekali lagi. Katanya dokter? Masa gak bisa menganalisa," ucap Arsy pelan.
Tarikan napas Teddy terdengar berat. Jelas Teddy masih berusaha sabar mengikuti apa kemauan Arsy.
Tangannya masih memegang baguan dada Arsy dan Teddy mencoba fokus merasakan apa tang sedang di rasakan. Ia ikut memejamkan kedua matanya.
"Terasa Mas?" tanya Arsy pelan. Kedya matan Arsy sedikit membuka melihatvTeddy yang fokus emmeriksa dadanya.
"Ekhemm hanya detak saja?" tanya Arsy lirih seperti kesakitan.
"Makin cepat juga?" ucap Teddy polos.
"Getaran cintanya Arsy buat Mas Teddy, terasa gak?" tanya Arsy lembut.
Kedua mata Teddy membuka cepat. Ia sadar sedang di permainkan oleh Arsy.
"Jadi dari tadi cuma ngerjain Mas? Kamu gak apa -apa? Bayi kita juga aman?" tanya Teddy mulai kesal. Nada suaranya mulai meninggi.
Kedua mata Teddy menatap tajam ke arah Arsy. Teddy panik bukan main. Takut sesuatu terjadi pada kandungannya. Namanya juga seorang suami yang baru pertama kali tahu istrinya hamil, apalagi dibusia muda dengan usia kandungan masih sangat muda. Pasti akan sangat rentan sekali. Teddy panik luar biasa. Tapi, Arsy malah mengajaknya bercanda.
"Mas marah? Ini anaknya yang mau ngajak papahnya bercanda. Anaknya suka lihat papahnya bingung," cicit Arsy membela diri.
__ADS_1
"Argh ... Jangan bawa - bawa iru keinginan jabang bayi, Arsy. Mas tadi panik banget. Walaupun Mas itu dokter tetap saja ada kerakutan tersendiri kalau sesuatu terjadi sama orang yang Mas sayangi dan cintai, ada rasa takut kehilangan," ucap Teddy jujur.
"Jadi Mas sayang dong sama Arsy dan anak ini" ucap Arsy pelan sambil mengusap pelan perutnya.
"Harus gitu di jawab? Hal begini gak perlu di bahas kan. Kalau Mas siap menikahi berarti rasa cinta Mas itu besar untuk kamu," ucap Teddy kesal.
Teddy memutar tubuhnya dan harus melanjutkan perjalanannya menuju sekolahan untuk mengambil mangga muda. Ini juga suatu bukti kalau Teddy peduli dan ingin membuat Arsy tetap bahagia kalau keinginannya di wujudkan.
Arsy diam dan memakai kembali sabuk pengaman tanpa di suruh demi keselamatan ia dan bayinya. Niat hati mengajak bercanda dengan lelucon recehnya. Teddy malah nampak keaal padanya. Mungki bercandanya tidak pada posisinya. Tidak pas dengan waktu dan kondisinya.
"Mas ... Maaf ya," cicit Arsy penuh dengan penyesalan.
"Iya." Teddy hanya menjawab singkat dan kini fokus menyetir.
Arsy menoleh ke arah Teddy. Rasanya gak enak juga di ketusin oleh suaminya. Karena biasanya suaminya itu selalu bersikap manis dan lembut. Tapi kejadian ini sudah membuat Teddy kesal.
"Cuma jawab iya? Singkat banget," cicit Arsy sedih.
Teddy tak menggubris ucapan Arsy. Ia tetap fokus pada jalan raya. Takut ada kucing yang tiba -tiba nyebrang tanpa basa basi sampai membuat Teddy kaget.
Merasa di abaikan. Arsy pun beringsut duduk mendekati Teddy. Tangannya melingkar pada lengan Teddy hingga membuat Teddy mengulum senyum di dalam hatinya. Rasanya senang sekali melihat Arsy yang nampak agresif seperti ini. Sepertinya cara Teddy sukses membuat Arsy merasa sedih.
Kepala Arsy di sandarkan pada lengan kekar Teddy dan tangannya di letakkan di paha Teddy. Kadang Arsy menjadi sangat buvin dan begitu sebaliknya. Mereka sudah saling membutuhkan satu sama lain. Hanya saja masih ada rasa malu, kaku, canggung dan belum lepas.
"Kita jadi ambil mangga kan? Mangga yang ada di depan sekolah?" tanya Arsy pelan. Arsy sengaja membuka pembicaraan dengan Teddy.
"Hu um." jawab Teddy singkat.
"Mas ...." panggil Arsy sambil mengusap - usap paha Teddy dengan jari jemarinya.
"Hemmm ...." jawab Teddy hanya berdehem. Bukan malas menjawab. Lebih teoarnya sengaja. Kapan lagi Arsy mulia terlihat manja begini.
"Mau rujak ih," celetuk Arsy tiba -tiba berpura -pura mengidam. Mungkin dengan begini Teddy mau membuka suara.
__ADS_1
Tapi salah besar. Teddy begitu cuek seolah tak mendengar. Dalam hati Teddy tertawa keras. Ia senang membuat Arsy kesal. Sepertinya sesekali perlu di beri shock terapy kayak gini.