
Kedua manik mata Arsy dan Teddy saling bertemu pandang dan mengunci satu sama lain. Ini permintaan Arsy dari dalam lubuk hati yang terdalam. Bberapa hari ini, Arsy sudah menahan untuk bisa pulang dan berjalan di di atas tanah merah di mana kedua bayi kembarnya di kuburkan.
Tatapan Arsy tajam dan begitu lekat ke arah Teddy seperti meminta sesuatu yang harus di turuti oleh Teddy. Begitu juga dengan Teddy yang menatap Arsy penuh rasa bimbang.
"Kenapa? Mas Teddy gak jawab pertanyaan Arsy? Mas Teddy gak mau antar Arsy ke makam? Arsy ini, ibu mereka, mau ketemu anak Arsy. Arsy belum lihat mereka," ucap Arsy dengan nada tinggi.
"Tapi sekarang belum saatnya kamu kesana, Arsy." ucap Teddy tetap denagn suara lembut.
"Terus? Kapan? Kapan waktu yang tepat buat Arsy melihat kuburan si kembar? Kapan Mas? Atau Mas sengaja ingin melihat Arsy terpuruk,? Iya?" tanya Arsy dengan suara meninggi dan memelan seketika. Hatinya begitu hancur mendapatkan penolakan halus dari suaminya itu.
"Mas hanya gak mau melihat kamu selalu menangis Arsy. Hanya itu. Sakit rasanya melihat kamu yang kusut dan selalu menangis. Itu yang buat Mas melarang kamu pergi ke makam anak kita. Kecuali, kamu berjanji untuk tidak menangis. Kamu bisa?" tanya Teddy menunduk dan meletakkan kepalanya di pangkuan Arsy.
__ADS_1
Kedua tangan Arsy memegang lengan kursi dengan erat. Tubuhnya mulai bergetar dan air matanya tak bisa di bendung lagi untuk tidak turun.
"Kalau Mas Teddy sayang sama Arsy, Mas Teddy pasti bisa memberikan apa yang ARsy inginkan. Saat ini keinginna Arsy hanya bertemu dengan si kembar," ucap Arsy tegas.
Arsy mengangkat kepala Teddy dengan lembut dan berdiri lalu pergi masuk ke dalam emnuju kasurnya. Tubuhnya masih etrasa sakit dan nyeri di bagian perut bawah.
***
"Bikin malu orang tua saja!!" terik Dirga, Papah Emil sambil melayangkan tanagnnya menampar pipi anak gadisny yang baru saja pulang dari kampus.
Emil tak bisa menghindar dari tamparan sang Papah. Emil hanya bisa memegang perihnya pipi bekas tamparan sang Papah dan menatap tajam ke arah Papah Dirga dengan penuh kebencian.
__ADS_1
"Kenapa?! Kamu tidak suka?! Kamu tidak terima Papah tampar?" teriak Papah Dirga pada Emil, putrinya.
"Bukannya sudah sejak dulu, Emil gak suka sama Papah!! Lalu ngapain pulang lagi ke rumah ini? Bukannya sudah senang hidup sama istri muda Papah yang nakal itu!!" teriak Emil penuh emosi.
"Apa katamu!! Dai istriku!! Kamu tidak berhak mengejk dia, Emil!! Papah datang untuk memberikan surat panggilan dari Kampus atas perilaku buruk kamu!!" ucap Papah Dirga pada Emil sambil melemparkan surat penaggilan itu ke wajah Emil.
"Lebih baik, kamu itu mulai dari sekarang mencari pekerjaan saja dan hidup mandiri. Percuma juga kuliah kalau akhirnay di drop out karena masalah sepele. Kamu sengaja mendorong teman kamu yang hamil hingga kedua bayinya meninggal!!" teriak Papah Dirga semakin kesal melihat putrinya yang selalu tak bersikap baik padanya.
"Papah menyesal telah membuat kamu, Emil!!" teriak Papah Dirga penuh emosi.
Papah Dirga pun langsung pergi dari rumah itu meninggalkan Emil dan istrinya yang sudah lama ia cerai sepihak.
__ADS_1