Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
INI DI BALI


__ADS_3

Malam pertama di Pulau Bali sedikit agak berbeda dengan malam - malam sebelumnya. Bukan karena kamar hotel yang kurang enak. Tapi, situasi dan kondisi sedikit membuat mereka berdua waspada.


Kejadian siang tadi bisa selesai tanpa masalah baru. Wulan bisa pulang dan kini istirahat di kamar khusus dengan seksi kesehatan kepanitiaan studi tour.


Teddy, Arsy dan Bismo tutup mulut soal kondisi Wulan sebenarnya. Wulan hanay beralsan kelelahan. Mungkin beberapa hari ini ia kan tinggal di hotel dan istirahat total. Teddy yang bertanggung jawab atas kesehatan Wulan.


Keduanya sudah makan malam bersama di aula bawah. Arsy naik ke kamarnya terlebih dahulu dan mandi di kamarnya. Arsy memakai daster pendek dan memakai cardigan. Ia beralasan ingin menemani Wulan.


"Lu kayaknya deket sama Pak Teddy? Ada hubungan apa?" tanya Siska dengan suara sinis.


"Pak Teddy? Kalau di di tarik garis dari sejarah sih. Kita masih ada hubungan saudara tapi jauh," jawab Arsy santai. Ia menggeraikan rambutnya untuk mneutupi plester yang menempel di lehernya.


Siska tertawa sinis. Ia berjalan mendekta ke arah Arsy. Lalu menyibakkan rambut Arsy yang langsung di hempas oleh Arsy.


"Mau apa lu? Megang -megang rambut gw segala?" tanya Arsy tak kalah galak.


"Heh .. Lu tuh pura -pura alim, lihat leher lu tuh merah semua? Lu tutupin pakai plester. Lu kira guru -guru di sini bisa lu kibulin?" teriak Siska yang selalu iri dengan Arsy.


"Heh ... Jaga tuh mulut!!" teriak Arsy dengan keras.


Jujur, Arsys tak terima. Untuk apa Siska mengurusi hidupnya. Toh, ituurusan pribadi Arsy.


"Di bayar berapa lu?" tanya Siska.


"Apa sih? Gw gak ngerti sama ucapan lu?" ucap Arsy mulai geram.


"Jadi ... ini tips nilai bagus lu, Sy? Deketin guru, di pepet, mau di ***** biar dapat nilai baik. Ternyata lu se -hina itu ya?" ucap Siska yang semakin menjadi jadi.


PLAK!!


"Jaga mulut lu. Dari pada besok gw sumpel pakai pasir putih," ucap Arsy yang pergi begitu saja meninggalkan kamar hotel itu.


Ia kesal sekali. Males juga tidur bareng sama perempuan yang suka buat onar.


Arsy segera masuk ke dalam lift mneuju lantai tiga.


Tok ... Tok ... Tok ...


ceklek ...


Teddy segera menarik Arsy ke dalam kamarnya. Ia masih menengok ke kanan dan ke kiri.


"Kenapa sih?" tanya Arsy yang merasa aneh.


Teddy pun menutup pintu kamar itu dan mengunci rapat. Ia tersenyum aneh pada Arsy.

__ADS_1


"Gak apa -apa," jawabnya santai.


Teddy langsung merangkul Arsy dan memeluk istri labilnys itu dari belakang.


"Mas itu rindu kamu. Seharian kita kan bareng," ucap Teddy langsung menciumi leher Sang Istri.


Entah lagi kesambet setan Bali atau hanoman di sana. Sikap Teddy manis sekali dan lebih blak -blakan.


Arsy memutar kedua ola matanya dengan malas. Sesekali mendesah kegelian karena sapuan bibir dan lidah di lehernya.


Ia langsung berbalik menatap ke arah Teddy dan memegang dahi Teddy.


"Gak panas. Mas gak lagi sakit kan?" tanya Arsy pelan.


"Gak. Mas sehat. Kenapa?" tanya Teddy yang gantian bingung.


"Aneh tahu gak?" kedua mata Arsy terus menatap lekat ke arah Teddy.


"Aneh kenapa sih? Masa suami rindu istrinya gak boleh? Masa suami peluk istrinya gak boleh? Kalau di pegang sama ...."


"Udah deh gak usah memancing ikan di air keruh. Jangan bikin Arsy kesel." suara Arsy nampak kesal. Ia kesal sejak dari kaarnya tadi hingga ke kamar Teddy pun rasa kesalnya masih saja di bawa. Sensitif sekali seperti sedang datang bulan.


Arsy melepaskan tangan yang melingkar di perutnya.


"Mas Teddy yakin kita aman berduaan begini? gak takut gitu di gerebek?" tanya Arsy tiba -tiba. Ucapan Siska tadi membuatnya panik.


"Iya di gerebek. Karena kita berpasangan," ucap Arsy polos.


Teddy paham dnegan maksud Arsy dan mengambil tas kecilnya mmeperlihatkan buku nikahnya.


"Tunjukkan ini saja. Beres kan. Sudah tidur. Besok acara kita ke Kintamani, sorenya kita mau ke Joger terus ke Kuta," ucap Teddy membaca jadwal untuk besok.


"Ya," Arsy menjawab singkat. Tubuhnya ikut tertidur dengan terlentang.


beberapa hai ini, Arsy merasa perutnya seing terasa kembung dan mual tapi tidak sampai muntah. Kalau di usap pelan rasanya enak dan rasa mual itu menghilang.


"Kamu kenapa Sy? Mual?' tanya Teddy pelan.


"Iya Mas," jawab Arsy pelan.


"Mau minum air anget? Biar di ambilkan," tanya Teddy pelan.


"Mas ... Mau jalan -jalan. Bisa?" tanya Arsy pelan.


"Hah? Jalan -jalan? Mau kemana? Kamu gak capek?" tanya Teddy pelan.

__ADS_1


"Gak. kayak mau jalan -jalan gitu rasanya," ucap Arsy sedikit merengek.


"Sy ... Ini di hotel. Hotel bali, bukan Mas gak mau tapi, akan jadi pertanyaan orang banyak. Kecuali ...." ucap Teddy terhenti.


"Kecuali apa Mas?" tanya Arsy pelan.


"Kamu mau mempublikasikan hubungan kita," ucap Teddy pelan.


"Pernikahan kita?" tanya Arsy bingung.


"Ya. Pernikahan kita," jawab Teddy tegas.


Arsy menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Gak. Gak bisa. Arsy gak mungkin buka maslah ini. Bisa -bisa Arsy habis sama fans kamu Mas," ucap Arsy pelan.


"Fans? Mana ada fans?" tanya Teddy tak mengerti. Wajahnya nampak berlipat di dahinya.


"Ada. Siska dan teman -teman," ucapArsy pelan.


"SIska teman se -kelasmu itu?" tanya Teddy mulai mengingat satu per satu murid cantiknya.


"Iya," jawab Arsy singkat.


"Yang cantik itu kan?" tanya Teddy sengaja menggoda Arsy. Namun Arsy belum terpacing emosinya.


"Iya. Siska di kelas Arsy," ucap Arsy menjelaskan.


"Iya yang rambutnya pirang dan nge -bob, kalau pakai kemeja satu kancingnya sengaja di buka pada jam istirahat nunggu di tegur guru. Terus kalau pake rok abu super pendek dan ketat. Siska itu kan, yang kamu maksud?" tanya Teddy pelan.


"Wuih ... Hapal nih sama murid teladan masuk ruang BP. Puas ya punya murid yang tiap hari sengaja cari masalah biar di tegur sama guru Bp nya. Eh ... Guru Bp nya juga genit, jadi deh tuh salah paham ..." ucap Arsy muali sadar akan arsa cemburunya.


"Ya memang cantik. Lalu, memang begitu adanya. Tapi kan tetap, Mas ini seorang lelaki normal ...."


"Iya normal kalau lihat cewek seksi dan cantik. Itu kan?" ucap Arsy kesal.


Teddy tertawa keras dan mengacak rambut Arsy hingga berantakan.


"Makanya dengerin dulu kalau Mas ngomong. Mas itu lelaki normal, jadi maunya sama perempuan baik -baik yang sopan, yang tulus, dan itu kamu, sayang," ucap Teddy pelan sambil menoel hidung Arsy.


Wajah Arsy langsung berubah, Tadi manyun langsung bahagia.


"Bener?" tanya Arsy pelan.


Teddy mengangguk kecil dan mengecup kening istri labilnya dengan mesra.

__ADS_1


"Mas gak pernah bohong sama perasaan Mas. Mas bahagia banget bisa miliki kamu, Arsy," ucap Teddy pelan.


Arsy pun mentaap Teddy. Binar bahagia di wajah keduanya mulai terlihat.


__ADS_2