Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
ARSY SIAP


__ADS_3

Arsy sudah mengganti pakaiannya dan sudah tertidur pulas di tempat tidur. Teddy mulai mencuci dan langsung mengeringkan pakaian Arsy agar bisa di pakai besok ke sekolah.


Setelah selesai, Teddy pun ikut merebahkan diri di sebelah Arsy. Kedua matanya belum ingin terpejam dan pikirannya masih melayang memikirkan kejadian tadi.


Tubuhnya mulai bergerak dan mengganti posisinya ke samping sambil melihat Arsy masih pulas tertidur. Arsy sudah empat jam tidur nyenyak setelah menangis.


"Sudah puas lihatnya?" tanya Arsy tiba -tiba dengan kedua mata yang masih terpejam hingga membuat Teddy terkejut.


"Kamu gak tidur?" tanya Teddy gugup. Gengsi dong, ketahuan menatap wajah Arsy diam -diam dan mengagumi kecantikannya.


"Baru bangun di suruh tidur lagi? Laper Pak, Arsy," cicit Arsy manja.


"Lapar? Mau makan?" tanya Teddy pelan.


Arsy mengangguk manja.


"Apa saja. Mie instant juga boleh," ucap Arsy lirih.


Teddy menatap jam dinding dan baru saja jarum jam mengarah pada angka tiga. Tubuhnya baru merasakan nyamannya kasur, tapi permintaan Arsy juga penting saat ini.


"Oke. Kita makan. Kamu mau duduk di mana? Di sofa atau di sini?" tanya Teddy pelan.


"Di sini saja. Sama cemilan ya," cicit Arsy semakin manja.


Kali ini harapan Arsy untuk bermanja -manja hanya pada Teddy. Mungkin dengan cara seperti ini, ia juga bisa melupakan semua yang terjadi baru saja. Melupakan Bismo, melupakan Wulan dan semua yang telah membuatnya kecewa.


"Baik. Di tunggu tuan putri, mie intantnya," ucap Teddy dengan senyum lebar.


Teddy pun berjalan menuju dapur dan mencari mie instant yang tadi ia simpan di rak makanan.


Lima belas menit kemudian. Teddy masuk ke dalam kamar dan menatap Arsy yang sudah duduk di atas kasur sambil memainkan ponselnya.


"Pesanan tuan putri datang ... Ini mie instantnya sengaja di kasih telu biar lebih spesial," ucp Teddy yang memberikan satu mangkok mie instant itu kepada Arsy. ARsy menrimanya dengan tertawa. Tingkah Teddy terkadang lucu.


"Terima kasih suamiku ...." jawab Arsy yang ikut mencoba bucin kepada Teddy.


Teddy mengkerutkan dahinya karena kaget dengan ucapan Arsy yang menyebutnya dengan sebutan suami.


"Suami?" tanya Teddy lirih.


Arsy mengangguk kecil.


"Suami kan? Suami Arsy, kan? Apa sudah bukan? Ganti istrinya? Bukan Arsy? Apa Bu Lina?" tanya Arsy ketus.


Teddy duduk di tepi ranjang menghadap Arsy.


"Bicara apa kamu, Sy," ucap Teddy pelan sambil mencubit dagu Arsy dengan gemas.


"Lagian Bapak ... Suami? Kenapa tanya gitu. Arsy kan kesel," ucap Arsy jujur.


"Kesel? Apa benci?" tanya Teddy yang masih mencoba menggoda Arsy.


"Benci," jawab Arsy mulai meniup mie instanya. Perutnya sudah berbunyi sejak tadi. Untung saja Teddy tidak mendengar, bisa keki dong Arsy. Harga diirnya jatuh seketika saat perutnya berbunyi kayak bunyi kaleng kerupung kosong.


"Benci itu benar -benar cinta," ucap Teddy menjelaskan.

__ADS_1


"Hu um ... Emang," jawab Arsy santai lalu mulai meneyruput mienya dengan cepat melalui garpu.


Wajahnya nampak puas menikmati mie instant viral yang tadi dibelinay di mini market.


Teddy menatap lekat Arsy. Ia masih terperangah mendengar jawaban Arsy. Ia tidak tahu, ini ucapan hanya candaan atau memang dari hati. Sikap Arsy itu sulit di tebak.


"Memang kamu sudah cinta sama saya?" tanya Teddy mencoba memancing.


Sambil mengunyah dan membuka keripik kentang berbumbu barbeque, Arsy menatap lekat Teddy lalu menyuapkan satu keripik kentang itu ke dalam mulut Teddy.


"Bukan mulutnya, makan Pak." ucap ARsy pelan.


Teddy menurut dan membuka mulutnya untuk menerima suapan keripik kentang itu.


"Enak?" tanya Arsy pelan lalu meniup kembali mie yang sudah di gulung di garpu.


Teddy mengangguk kecil.


"Enak." jawabnya pasrah. Jujur Teddy kurang suka makan makanan gurih yang terlalu banyak mecin seperti itu. Berbanding terbalik dengan Arsy yang memang menyukai cemilan gurih. Maklum mereka berbeda generasi. Teddy berada di generasi milenium dan Arsy berada di generasi micin.


"Buka mulutnya lagi," titah Arsy lembut dan menyuapi Teddy dengan mie instant yang sudah di tiupnya berkali -kali agar tidak panas.


Melihat Teddy yang menuruti semua permintaannya sejak tadi, itu tandanya memang ia peduli dan menghargai Arsy sebagai istrinya.


"Enak?" tanya Arsy kemudian sambil menghapus sisa bumbu yang menempel di dekat bibirnya dengan lembut.


Teddy lagi -lagi di buat terpengarah dengan sikap Asy yang nampak berbeda. Arsy lebih nampak terlihat manja.


"Enak banget," jawab Teddy pelan tanpa berkedip masih menatap Arsy.


"Pak ...." panggil Arsy pelan.


"Bantu Arsy ya Pak," jawab Arsy pelan sambil menunduk. Sedikit malu mengungkapkan sesuatu yang dari hati secara jujur.


"Bantu apa?" tanya Teddy pelan.


"Bantu Arsy untuk terus bisa mencintai Bapak," jawab Arsy lirih.


"Saya tidak mau memaksa kamu, Sy. Lakukan apapun sesuai hatimu, bukan karena orang lain dan timbul keterpaksaan. Kalau itu saya gak mau bantu. Saya akan tetap seperti ini. Karena memang saya sayang dan cinta sama kamu. Tapi kalau kamu belum bisa menerima saya? Saya akan menunggu sampai kamu benar -benar bisa menerima saya pakai hati kamu, bukan pakai logika kamu,' ucap Teddy menjelaskan.


Arsy menggelengkan kepalanya pelan.


"Arsy kagum dengan Bapak. Arsy cemburu dengan Bapak. Bukankah itu sudah membuktikan kalau Arsy memiliki rasa yang sama seperti Bapak?" tanya Arsy pelan.


Teddy tersenyum manis. Ia sabar sekali menerima sikap Arsy.


"Pembuktian bukan hanya sekali, dua kali, tapi seterusnya," jawab Teddy pelan.


"Kan Arsy sudah bilang. Arsy mau berusaha Pak. Kenapa sih bukannya di bantu malah jawabnya kayak gini," ucap Arsy kesal.


"Bukan begitu Sy. Semua itu butuh proses, pakai hati, bukan emosi. Karena kamu lagi kecewa terus ingin lebih dekat dengan saya. Saya akan sellau ada buat kamu, karena kamu memnag tanggung jawab saya. Kamu itu istri saya. Tapi ... Kamu kan pernah punya pacar, walaupun hubungan kamu menggantung begitu saja. Mungkin kamu masih berharap karena dulu kalian punya harapan bersama. Semua itu proses, dan perjalanan proses itu gak mudah. Bnayak lika -likunya, nyak rintangannya, banyak hambatannya, tidak seperti membalikkan telapak tangan terus selesai. Sesuatu yang instantdan di paksakan, hasilnya juga gak akan baik," jelas Teddy panjang lebar.


Arsy meletakkan mangkuk mie yang belum habis itu ke nakas di samping tempat tidurnya lalu meminum air yang ada di sana.


Ia berdiri menggunakan atasan piyama Teddy tanpa celana panjangnya karena terlalu besar. Bajunya saja panjangnya hampir selutut.

__ADS_1


Arsy turun dari tempat tidur lalu berjalan menuju kamar mandi dan Teddy hanya menatap istrinya itu. Ia meluruskan duduknya dan menarik napas panjang.


Teddy hanya tidak ingin memaksa Arsy untuk cepat bisa menerimanya dan mencintainya.


Tak lama Arsy kembali masuk ke dalam kamar tidurnya dan menutup pintu kamar itu dan menguncinya. Lampu kamarnya di matikan hingga ruangan itu sangat gelap sekali.


"Kenapa di matikan Sy?" tanay Teddy yang menoleh ke arah Arsy \=. kamar itu nampak gelap tapi sinar cahaya lampu dari luar masih bisa masuk melalui sela -sela jendela yang tak tertutup hordeng dengan rapat.


Arsy berjalan mendekati Teddy dan kini ia duduk di pangkuan lelaki itu. Posisi mereka saling berhadapan.


"Sy ... Kamu kenapa?" tanya Teddy pelan.


Telunjuk Arsy pun menutup bibir Teddy agar tak bersuara. Arsy mencoba memeluk Teddy dengan erat. Teddy pun membalas pelukan itu . Bahan piyaama yang tipis dan licin membuat Teddy seolah memegang tubuh polos Arsy.


Wajar, pikiran lelaki langsung menuju hal -hal yang membuatnya merasa bahagia.


"Pak ... Arsy siap kok, kalau Bapak mau,'" ucap Arsy lirih di dekat telinga Teddy.


Suara itu benra adanya. Teddy tidak sedang bermimpi. Tapi ... Teddy tahu, Arsy hanya memaksakan diirnya untuk ini. Semua yang ia lakukan bukan dari hatinya. Tapi dari rasa kecewanya, dan rasa kesalnya.


Teddy mengendurkan pelukan di tubuh Arsy dan menatap Arsy yang nampak polos dan lugu.


"Saya akan menunggu kamu, sampai kamu ikhlas memberikannya untuk saya. Bukan begini caranya," ucap Teddy pelan.


"Arsy ikhlas Pak." jawab Arsy dengan suara yang sedikit berat.


Tangan Arsy mulai memegang wajah Teddy. Memang benar wajahnya sangat tampan dan ganteng. Pantas saja, banyak wanita menggilai suaminya. Dengan berani, Arsy mengecup pipi Teddy dnegankecupan yang sangat lembut.


Teddy hanya menarik napas dalam. Seorang laki -laki dewasa dan di pancing seperti ini dnegan status mereka yang jelas dan SAH, di tambah lagi Teddy memang sudah mencintai Arsy sejak lama. Tidak membutuhkan waktu lama, gairah Teddy pun memuncak. Tapi Teddy harus tetap bersikap tenang dan tidak terburu -buru. Teddy tidak mau kalau Arsy hanya menginginkan ini smeua karena emosinya.


"Ehemm Pak ..." suara Arsy sanagt lembut.


Kedua tangan Teddy masih berada di pinggang Arsy.


"Iya?" jawab Teddy yang mulai berat. Napasnya mulai memburu menahan sesuatu yang tak bisa ia tahan. Ini alami terjadi dan ukan di buat -buat.


"Kok ada yang ganjal sih," jawab Arsy merasakan aneh lama -lama berada di pangkuan Teddy. Seperti ada sesuatu yang menyembul dan mengeras mengenai pahanya sehingga Arsy mulai tidak nyaman berada di pangkuan Teddy.


Teddy mulai gemas dengan istrinya ini. Secara Arsy itu anak IPA dan belajar ilmu biologi. Masa iya hal alamai begini tidak tahu.


Tatapan Teddy begitu lekat pada Arsy. Satu tangannya naik ke atas punggung Arsy.


"Kamu belajar biologi kan?" tanya Teddy lirih dan menarik tubuh Arsy semakin mendekat padanya.


"Iya ..." jawab Arsy lirih.


Teddy hanya mengangguk pelan lewat matanya. Wajah keduanya sudah sangat dekat membuat Teddy semakin menginginkan apa yang ada di pikirannya saat ini.


Cup ...


Teddy memberanikan diri mencium Arsy. Kali ini bukan sekedar kecupan di bibirnya tapi Teddy melakukan sesuai dnegan nalurinya saat ini. Bibir Arsy dan bibir Teddy saling bertaut dan mereka saling menikmati luamtan itu. Pelukan Teddy pun semakin erat begitu juga dengan Arsy yang mulai terabwa suasana. Tangan Teddy yang berada di punggung Arsy pun sudah naik dan memegang tengkuk Arsy agar ciuman itu tidak berhenti. Satu tangannya mulai masuk ke dalam piyama Arsy dan naik ke atas. Ya, saat ini Arsy tidak memakai daleman karena di cuci.


Dengan jiwa jantan, Teddy yang sudah bergairah sejak tadi pun mulai beraksi. Ia tidak peduli Arsy akan marah atau bagaimana. Nafsunya sudah meronta -ronta, apalagi melihat Arsy yang sudah terbuka bajunya dan mulai di sentuh oleh Reno.


Teddy tidak rela, kalau hal itu terulang lagi Ia begitu menjaga Arsy. Namun, hampir saja semua terjadi jikaia tidak tepat waktu datang.

__ADS_1


"Argh ... Pak," lirih Arsy mengerang saat tangan Teddy mulai meremas gundukan kenyal dengan gemas.


Wajah Arsy memerah dan menatap Teddy. Bibirnya masih tertaut, dan Teddy hanya membalas tatapna itu dan melanjutkan kembali aktivitasnya.


__ADS_2