
Satu jam kemudian. Arsy sudah cantik dalam balutan baju pengantin. Kebaya berwarna putih tulang dengan kain panjang salur emas dan rambut yang di sanggul dengan model khas ibu kartini membuat Arsy nampak terlihat semakin dewasa.
"Arsy sayang?" panggil Bunda Bella yang juga nampak sangat cantik seklai dengan balutan kebaya berwarna merah marun.
"Iya Bun," jawab Arsy lirih. Arsy berusaha berdamai dengan dirinya sendiri. Kata -kata Mbok Yum tadi pagi membuka pikiran Arsy. Tidak selamanya perjodohan itu memang buruk, mungkin kita menganggap buruk karena kita belum mengenal dengan baik.
"Cantik sekali. Bunda sampai pangling lihatnya," ucap Bunda Bella yang memang tercengang melihat Arsy yang begitu sangat cantik.
"Bunda ...." jawab Arsy malu. Sejak tadi kedua mata Arsy pun tak lepas dari pantulan cermin. Ia sendiri mengagumi kecantikan wajahnya sendiri sampai ia tak percaya bahwa yang sedang berada di depan cermin itu adalah dirinya sendiri.
__ADS_1
Bunda Bella langsung menghampiri Arsy dan memberikan tangannya untuk segera mengajak anak gadisnya itu keluar dari kamar tidurnya. Sebentar lagi acara akad nikah itu segera akan di mulai. Keluarga Teddy sudah datang ejak sore tadi. Teddy sendiri baru saja datang satu jam yang lalu.
"Arsy gak marah kan sama Bunda? Sama Papah?" tanya Bunda Bella menahan tangisnya. Bunda Bella sendiri masih merasa bersalah kepada anak semata wayangnya itu. Tapi, hanya ini jalan terbaik agar ARsy ada yang menjaga dan memperhatikan lebih fokus. Tidak hanya itu, Teddy adalah lelaki sempurna yang sudah lolos seleksi dari Papah Arsy dan Bunda Bella.
Arsy terdiam tak mengucap sepatah kata pun sambil menatap lekat kedua mata Bunda Bella. Arsy tahu, Bunda Bella tidak mungkin memberikan hal yang buruk bagi anaknya. Benar kata Mbok Yum, setiap orang tua hnaya ingin anaknya bahagia dan selalu tersenyum. Setiap orang tua tidak ingin melihat anaknya sedih dan kesusahan. Terkadang apa yang di berikan oleh orang tua itu sudah di pikirkan masak -masak oleh mereka dan bukan keputusan yang ujug -ujug.
Arsy hanya memeluk Bunda Bella tanpa bicara. Tubuhnya bergetar hebat dan mengeratkan pelukannya pada tubuh ibundanya itu.
"Hey ... Kenapa jadi mellow gini? Bukannya tadi siang marah sama Bunda?" ucap Bunda Bella menggoda.
__ADS_1
"Arghh Bunda. Arsy kan cuma syok," ucap Arsy pelan. Arsy tidak mau membuat Bunda Bella bersedih.
"Arsy, Bundahanya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar -besarnya karena kamu sudah mau menerima perjodohan ini dengan ikhlas. Bunda harap, kamu bisa menerima Nak Teddy dengan baik. JAdi istri yang baik, yang nurut, yang gak ernah macem -macem. Kamu harus tahu, Nak Teddy ini lelaki yang baik dan sangat baik menurut Bunda," ucap Bunda pelan memuji Teddy, calon menantunya itu.
Arsy hanya tersenyum tanpa menjawa dan mengangguk kecil. Walaupun di dalam dasar hati Arsy yang paling dalam, ia masih belum bisa menerima dengan ikhlas. Tapi, Arsy akan mencoba menerima Teddy sebagai bentuk dan cara Arsy juga untuk melupakan Bismo. Ketua Osis yang telah di pacarainya satu tahun terakhir ini. Arsy akhirnya melihat dengan mata kepala sendiri kalau Bsmo juga bermain api dengan sekertaris osis yang baru.
"Turun Yuk. Teddy sudah akan mengucap ijab kabul." pinta Bunda Bella sambil menggandeng Arsy.
"Iya Bunda. Wulan sini," ucap Arsy kepada sahabatnya.
__ADS_1
Arsy pun turun ke ebawah menuju ruang tamu yang sudah di sulap menjadi tempat ijab kabil dengan di gandeng oleh Bunda Bella dan Wulan.