
Wulan dan Arsy sudah duduk di bagian belakang Wulan hanya menatap Arsy dan menatap Bu Lina yang duduk manis bagaikan bos di sebelah Teddy tanpa rasa bersalah.
"Gak salah posisi nih," celetik Wulanasal hingga Teddy pun menatap Wulan dari kaca spion tengah.
Arsy langsung mengambil alih pembicaraan.
"Tadi itu siapa Lan?" tanya Arsy pelan.
"Ekhem ... Siapa ya. Kenal gak kenal juga. Gak perlu tahu lah. yang penting gw baik -baik aja kan?" ucap Wulan pelan.
"Gw gak yakin. Lu ada apa sebenarnya?" tanya Arsy penasaran.
Wulan itu tipe perempuan alim dan jarang berinteraksi dengan lelaki apalagi sampai di tarik seperti itu.
Ponsel Wulan berdering keras. Tertera nama Bismo di sana dan Wulan mendiamkan. Hanya melirik dari kantong sakunya.
"Angkat. Siapa yang telepon Lu," tanya Arsy penasara.
"Nyokap gw. Udahlah biarin aja," ucap Wulan pelan.
__ADS_1
Arsy menatap lekat Wulan dan Wulan malah mencari pandangan lain dan menghindari tatapan Arsy.
"Kalian berdua mau pulang?" tanya Bu Lina pelan.
Arsy dan Wulna saling bertatap bingung.
"Memang kenapa Bu?" tanya Arsy mulai curiga.
"Ya ... Saya dan Pak Teddy mau ada urusan sekolah," ucap Bu Lina pelan.
"Urusan apa Bu?" sahut Teddy dengan cepat. Ia tidak mau Arsy berprangka buruk yang membuat salah paham. Kejadian tadi pagi saja sepertinya belum termaafkan, pasti sampai rumah akan ada drama mengulas kembali.
"Oh ya? saya malah lupa," ucap Teddy yang memang lupa akan kepanitiaan itu.
"Bu ... Terakhir bayar kapan ya?" tanya Wulan pelan.
"Besok terakhir. Karena panitia akan membayar biaya akomodasi, hotel dan tempat yang akan di kunjungi di sana," ucap Bu Lina menjelaskan.
"Ekhemm ... Arsy turun di rumah Wulan saja. Maaf kalau Pak Teddy ada urusan dengan Bu Lina tidak masalah, kami berdua di turunkan di ujung jalan depan," ucap Arsy pelan sambil mencubit paha Wulan.
__ADS_1
"Iya Pak. Kita turun di depan toko buku itu saja," ucap Wulan pelan.
"Jangan macam -macam. Barusan kamu mau terluka, ini malah minta turun di jalan, nanti bisa terulang lagi. Saya antarkan kalian ke rumah. Dan Arsy tetap di mobil," ucap Teddy tegas. Bu Lina pun menoleh ke arah Teddy yang tak biasanya bersikap tegas dan terkesan posesif.
"Tapi Pak ... saya mau kerjakan PR fisika dulu. Iya kan Lan? tadi harus di kerjakan berdua?" ucap Arsy mencari alasa.
"Iya benar Pak. Kita berdua mau kerjakn tugas kelompok," ucap Wulan berusaha meyainkan Teddy.
"Oke baiklah," jawab Teddy pelan.
Ia sedang malas berdebat. Mengurusi kepanitiaan untuk study tour juga sama pentingnya.
Tak lama, sampai juga di depan rumah Wulan. Keduanya turun dan berpamitan kepada Teddy dan Bu Lina.
"Bapak sepertinya agak berbeda dengan kedua murid ini, terutama dengan Arsy. Memangnya ada hubungan apa? Masih saudara atau gimana?" tanya Bu Lina yang masih penasaran dengan sikap Teddy
"Kedua orang tua Arsy menitipkan Arsy kepada saya. Jadi wajar kalau saya memberikan perhatian yang aak berbda kepada Arsy," ucap Teddy tanpa dosa.
"Tapi, kalau semakin dekat biasanya kalau orang jawa akan bilang alon -aon waton kelakon. Bisa jadi nanti ada perasaan yang bermain di sana," ucap Bu Lina mulai memancing.
__ADS_1
Sejak tadi Bu Lina memang melihat cincin yang melingkar di jari manis Teddy.