
Bismo hanya terdiam di tempatnya. Seolah ia hanya pasang badan dengan apa yang telah ia lakukan. Ia memang mengikat Arsy di kursi sejak siang. Tak ada rasa kasihan karena rasa takut kehilangannya menghilangkan semua akal sehat Bismo.
"Mau tangkap saya? Tangkap saja? Silahkan? saya tidak akan melawan," ucap Bismo dengan suara lantang.
Beberapa polisi itu pun menurunkan senjatanya saat melihat Bismo yang pasrah dan tidak membawa senjata tajam.
Teddy langsung masuk ke dalam untuk menyelamatkan istrinya. Tatapannya begitu tajam ke arah Bismo yang juga menatap tajam ke arah Teddy. Keduanya saling bertatap dengan sengit.
Polisi itu langsung menangkap Bismo tanpa hanagn dan tanpa ada pemeberontakan.
"Kamu tidak apa -apa, Sayang?" tanya Teddy dengan suara lembut. Teddy memeluk Arsy dan emncium kening sang istri dnegan penuh ketulusan. Rasa cemasnya sedikit menghilang dengan prtemuannya dengan Arsy malam ini yang nampak baik -baik saja.
__ADS_1
Kedua tangan Teddy membuka ikatan yang ada di tangan Arsy. Kedua mata Arsy menatap Bismo yang di tangkap dan di borgol.
"Jangan ...." teriak Arsy keras.
"Kenapa Sayang?" tanya Teddy pelan.
"Mas ... Bilang sama para polisi itu. Jangan tangkap Bismo. Tolong Mas, Bismo gak berbuat jahat. Tolong Mas,' ucap Arsy dengan berurai air mata.
"Arsy!! Mas gak bisa lakukan itu. Dia membawa kamu pergi dari rumah sakit tanpa seizin Mas. Membuat cemas Mas. Membuat panik Mas dan smeua orang di rumah sakit. Sapai Mas harus lihat CCTV untuk mencari keberadaan kamu!! Dan setelah di temukan? Kamu ada di kursi dan di ikat erat tanpa daa rasa kasihan. Dia bahkan tahu, kamu sedang emnagndung, tapi dia diam saja. Seolah ingin kamu dan anak kamu mati seperti Wulan?" ucap Teddy penuh amarah.
"Tega kamu, Mas!! Kita perlu tahu, apa alasan Bismo," ucap Arsy dengan nada melemah dan emmohon.
__ADS_1
"Kalau hanya ingin tahu tentang hal itu. Kita bisa bicarakan di kantor polisi. Bawa dia Pak. saya tidak ingin melihatnya lagi," ucap Teddy dengan ketus.
Bismo pun langsung di giring dan di bawa ke kantor polisi. Arsy pun di gendong oleh Teddy menuju mobilnya.
Selama di dalam mobil keduanya slin mendiamkan dan tak ada ynag membuka suara untuk mengawali pembicaraan.
"Masih marah sama Mas?" tanya Teddy pelan. Teddy berusaha membuat Arsy sedikit tenang. Mungkin ia juga trauma dnegan kejadian tadi. Belum lagi kejadian sebelum ini saat ia juga di sekap dan hampir saja di perkosa.
Arsy terdiam ia hanya menatap ke arah kiri. Kaca jendela gelap itu terlihat terang saat lampu jalan menyorot tepat pandangannya. Arsy hanya bisa menangis dan sesekali menyeka air matanya yang luruh dari kedua matanya yang indah.
Tangan Asy pun di genggam oleh Teddy. Ia tahu istrinya masih marah. Di butuhkan waktu dan bicara dari hati ke hati.
__ADS_1
Perlahan Arsy menarik tangannya dan mengangkat kedua kakinya ke atas lalu memeluk erat kedua kakinya dengan kedua tangannya.
"Jangan begini Sy. Kasihan bayinya tertekan di dalam," ucap Teddy pelan menasehati.