
Sore ini, Arsy sudah terlihat nampak cntik sekali dengan balutan gaun pink yang di padu padankan denag list dan aksesoris berwarna gold. Perutnya yang sedikit buncit di tutupi oleh pita yang ada di depan tepat di bagian perutnya.
Mama Tina sengaja memanggil perias untuk merias Wulan dan Arsy juga Mama Tina yang akan menghadiri acara perpisahan Akhir dari Masa Bakti Putih Abu.
Kebetulan Arsy dan Wuln punya kepentingan peran dalam acara tersebut. Mereka berangkat lebih awal. Acara akan di mulai tepat pukul tujuh malam. Sedangkan Arsy dan Wulan sudah hadir pukul lima sore.
Arsy yang akan sibuk mempersiapkan pementasan sedangkan Wulan akan sibuk dengan peragaan busaa sekaligus penggerak acara di kelas mereka.
Suasana sore itu sudah sangat ramai. Semua anak murid terlihat berbeda dalam balutan gaun serta make up tebal yang semakin membuat mereka pangling dan tak mengenla satu sama lain.
"Arsy langsung ke ruangan thater ya, Lan. Kalau mau cari ARsy di sana. Ini Arsy sudah bawa cemilan dan susu. Kamu gak perlu khawatir lagi," titah Arsy pelan.
"Ya. Siap. Selamat mempersiapkan drama terbaik," ucap Wulan tertawa.
"Ya ampun, Itu drama samapi mual ngapalinnya saking sudah di luar kepala," ucap Arsy pelan.
Jujur, Arsy bosan memerankan peran putri salju yang begitu -begitu saja. Naskah dan gerakannya sudah faseh dan sama sekali sudah berada di luar kepala.
"Semoga gak ada drama dadakan yang bikin mewek penonton," ucap Wulan asal.
__ADS_1
"Drama apa? Drama ini mana ada mewe -meweknya?" tanya Arsy kesal.
Sudah tahu, jalan cerita puteri salju itu bahagia, endingnya senang. Paling adegan yang membut sedih, saat puteri salju akan di jadikan mangsa atau ingin di bunuh dengan berbagai cara oleh ibu tirinya.
"Ya, sapa tahu, tiba -tiba, pangerannya gak mau nyium loe? Kan loe gak mungkn bakal bangun tuh. Betul gak? Malah bergembira atas kematian puteri salju," ucap Wulan tertawa keras.
Tak bisa membayangkan kalau endingnya benar begitu. Cerita dongeng berubah mala petaka kalau akhirnya begini. Tidak akan ada yang percaya dongeng lagi.
"Ahhh ... Kebiasaan kamu, Lan. Pinter ngadi -ngadi. Kirain cuma pinter pelajaran aa, ternyata pint mmebuat emosi juga," ucap Arsy kesal.
Wulan hanya tertawa, ia melihat Arsy sudah menghilang di balik koridor yang mengarah pada ruang ganti seklaigus brifing terakhir para pemain drama.
Entah kenapa, sore ini, jantung Arsy begitu berdegupkeras. Ada hal yang sepertinya akan terjadi tapi apa? Arsy gak paham. Seharian ia tidur dan menangis membuat kantung matanya sedikit bengkak.
"Arsy ... Dari mana saja? Di tunggu dari tadi. Ini sudah mau maghrib, Sayang," ucap pelatih daram itu dengan gemas karena Arsy sedikit terlambat.
"Maaf Pak. Biasa macet," ucap Arsy pelan.
"Baju kamu cantik sekali? Mau tetap pakai ini atau pakai itu? Baju puteri yang di gantung? Tapi, ini bagus banget lho, tinggal rambutnya aja di gerai dan di buat agak curly lalu di beri mahkota, gimana?" tanya pelatih drama itu memberikan saran.
__ADS_1
Arsy adalah icon karena sebagai pemeran utama. Dia adalah pemeran yang di tonjolkan.
"Kalau boleh, Arsy pakai ini saja. Gaun ini nyaman, lihat perut Arsy, sudah buncit," ucap Arsy berbisik sambil menunjukkan perutnya.
"Oke. Tolong perias, benerin make up dan stylish rambut Arsy ya," titah pelatih drama itu yang ikut pusing mengurus sekian banyak pemain.
"Arsy mau ke kamar mandi dulu ya?" ucap Arsy pelan.
Semenjak hamil, Arsy memang sering sekali buangair kecil.
Saat berada di depan toilet, Arsy menunggu di depan pintu toilet itu. Kebetulan di ruangan itu toilet hanya ada satu saja.
Saat pintu itu di buka, Arsy menunduk sedang membenarkan pita di depan perutnya, dan ....
'Ekhemmm ... Wangi itu .... Mirip seperti wangi parfum yang sering Arsy cium. Parfum yang sudah tidak asing lagi.'
Arsy menoleh dan menatap pria bertopeng dengan pakaian comang camping. Sepertinya ia pemeran tambahan yang melengkapi bagian panggung. Arsy mengurungkan niatnya untuk memanggil. Ia pun masuk ke dalam.
Lelaki itu menoleh ke arah pintu toilet yang sudah tertutup dan tersenyum sambil mengangguk penuh arti.
__ADS_1
'Akan tiba saatnya ....' bati lelaki itu di dalam hatinya.