
Malam ini adalah malam pertama Arsy tinggal di rumah Mama Tina, mertuanya. Teddy sengaja mengajak Arsy untuk tinggal beberapa hari di rumah orang tuanya sebelum akhirnya memboyong Arsy pindah ke rumah barunya.
Arsy sudah berada i kmaar Teddy. Kamarnya ternyata lebih luas daru kamar miliknya. Di dalam kamar itu ada rak buku yang sangat tinggi berisikan buku -buku tebal yang tertata dengan rapi. Sekilas Arsy melihat buku -buku itu berjudul tentang ilmu kesehatan dan ilmu kedokteran, walaupun ada beberapa di antaranya buku -buku tentang keuangan, statistik, akuntansi dan manajemen.
Tadi saat datang, Mama Tina dan Papa Baron sedang tidak ada di rumah. Hanya ada Sum, asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Teddy. Arsy meletakkan tas slempangnya di atas nakas dan duduk di tepi ranjang. Kamar lelaki tampan itu begitu rapi dan bersih. Kamarnya sederhana dan tidak banyak ornamen aneh -aneh. Hanya ada kasur, rak buku, lemari pakaian besar, sofa dan meja kerja dengan perlengkapan kerja, serta kaca besar dengan rak gantung berisi beberapa kosmetik milik Teddy.
ceklek ...
"Arsy?" panggil Teddy yang berusaha membwa beberapa tas dan koper dari bawah menuju lantai dua.
"Ya Pak?' jawab Arsy yang kaget dengan panggilan Teddy.
Teddy meletakkan koper dan tas itu di lantai dekat lemari pakaian. Lalu berjalan menghampiri Arsy.
"Kamu kenapa? Sejak makan tadi, selalu diam dan terlihat murung?" tanya Teddy pelan.
"Gak apa -apa Pak. Arsy rindu pada kamar Arsy," jawab Arsy pelan.
Teddy duduk di tepi ranjang dan saling berhadapan dengan Arsy. Tangan Arsy di genggam. Energi positif selalu di berikan Teddy kepada Arsy. Teddy selalu berusaha sebaik mungkin menjadi suami yang baik, membuat Arsy selalu nyaman dan tenang.
"Sy, Ini kamar kamu juga. Kamu bebas melakukan apa saja di sin. Pakai semua yang ada di kamar kamu, anggap ini kamar kamu, kamar kita," ucap Teddy menasehati.
Arsy menatap lekat ke wajah Teddy. Ia tidak tahu bagaimana harus bersikap. Kadang Arsy tidak ingin di atur hidupnya, kadang juga Arsy menerima perlakuan manis Teddy terhadap dirinya.
__ADS_1
"Emm ... Mau mandi? Biar saya rapihkan pakaian kamu di lemari," ucap Teddy pelan.
"Gak usah. Nanti biar Arsy rapihkan sendiri." jawab Arsy singkat.
Arsy bangkit berdiri dan menarik tas besarnya.
"Ini lemarinya?" tanya Arsy pelan kepada Teddy yang masih terus menatap dirinya.
Teddy menganggu pelan dan menghampiri Arsy untuk membantu istri belianya itu.
Ia membuka lemari yang sebagian sudah di kosongkan dan memang di khususkan untuk Arsy. Arsy hanya melongo dengan heran.
"Ini sudah kosong begini? kayak sudah di persiapkan sebelumnya? Jangan - jangan ini semua rencana Bapak? Biar Arsy mau tinggal di sini?" tanya Arsy yang semakin ktus.
Arsy merasa di permainkan dalam pernikahan ini. Semuanya seperti sudah di atur dari awal hingga Arsy seperti orang bodoh yang tak tahu apa -apa dan hanya mengikuti alurnya serta mengiyakan semuanya demi menuruti keinginan Teddy sebagai suaminya.
Arsy melepas pandangannya dan fokus membereskan pakaiannya ke dalam lemari hingga seua koper dan tas itu kosong. Ia mulai menata kosmetik di rak yang sama untuk menyimpan kebutuhan kecantikannya dekat kaca besar.
Teddy yang merasa di abaikan pun keluar dari kamar tidur itu. Ia lebih memilih menjauh sementara dari Arsy. Mungkin Arsy butuh waktu untuk beradap tasi dan membiasakan diri dengan kamar brunya dan rumah Teddy. Ini memang gak mudah bagi Arsy.
Arsy menata bukunya dan perlengkapan sekolahnya di meja kerja Teddy dan meletakkan tas sekolah yang biasa di pakainya.
"Huft ... Akhirnya selesai juga," ucap Arsy yang mulai merasa lelah. Saatnya mandi dan berendam di dalam bathup, tadi Arsy sempat melihat kalau kamar mandi Teddy ada bathup untuk berendam.
__ADS_1
Arsy mengambil handuk dan berkaca di kaca besar. Ia melihat ke arah cermin. Wajahnya nampak kuyu dan lelah.
"Arsy sudah menjadi istri dan ini adalah cincin pernikahan antara Pak Teddy dengan Arsy. Apa kata teman -teman nanti di sekolah?" ucap nya sambil menunjukkan jari maninya di depan kaca. Cincin itu memnag nampak cantik sekali, dan terliht sangat elegan tentu harganya sangat mahal.
Ia berjalan menuju kamar mandi membuka pintu kamar mandi dan menutup pintur kamar mandi itu dengan rapat dan mengunci. Handuk yang ia ambil tadi di sampirkan di gantungan dan Arsy mulai menyalakan air panas di bathup sambil membuka satu per satu pakaiannya hingga tubuhnya benar -benar polos dan siap untuk mandi dan berendam.
Tangan Arsy memegang air di bathup. Hangatnya sudah cukup dan keran air panas itu di matikan. ARsy mencari aromaterapi di sekitar bathup dan mencampurkan ke dalam air tersebut. Tubuhnya mulai masuk ke dalam bathup dan berendam di dalam bathup hingga tubuhnya terasa rileks.
"Enak banget. Capeknya hilang, wangi aromaterapinya juga sangat harusm," ucap Arsy memuji kamar mandi Teddy yang terasa nyaman sekali.
Selang beberapa menit. Pintu kamar mandi di ketuk pelan.
"Sy ... Arsy? Kamu di dalam?" panggil Teddy dari depan kamar mandi.
"Iya Pak." jawab Arsy singkat.
"Oke. Saya tunggu. Mama Tina sudah pulang, kita makan malam bersama," titah Teddy pelan.
Sejak tadi Teddy berada di lantai bawah di ruang kerja Papa Baron. Ia mengerjakan tugas kantor yang mendak di kirimkan oleh sekertarisnya via email. Besok pagi, ada rapat mendadak dan mau tidak mau Teddy harus ke kantor pagi -pagi setelah mengantarkan Arsy ke sekolah.
"Pak ... Pak Teddy ...." teriak Arsy dari dalam kamar mandi. Arsy merutuki kebodohannya. Ia membawa handuk kecil sehingga tidak bisa menutupi tubuhnya. Lebih bodohnya lagi, ia tidak membawa pakaian ganti ke dalam kamar mandi. Ia hanya terbiasa di marnya sendiri kalau lupa ia tetap berani keluar dari kamar mandi, sedangkan ini Arsy satu kamar dengan Teddy. Masa iya, ia harus telanjang di depan Teddy. Pasti malu sekali rasanya.
Teddy pun terkesiap dengan panggilan Arsy. Ia langsung menghampiri kamar mandi. Ia pikir ARsy terkunci di dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Iya Sy. Kenapa?" tanya Teddy yang ikut panik.
"Pak ... Tolong ambilkan pakaian untuk Arsy. Arsy lupa bawa, emm jangan lupa pakaian dalamnya juga," titah Arsy meminta tolong.