
"Kamu tidak apa -apa, Nak?" tanya Mama Tina yang langsung memeluk Arsy. Mama mertuanya tahu, Arsy begitu kaget dan terkejut dnegan gelasnya yang tiba -tiba pecah.
Mama Tina langsung membawa Arsy ke lantai atas menuju kamarnya untuk beristirahat.
"Nanti buatkan susu hamil yang baru dan bawa ke atas setelah beres dengan pecahan gelas ini. Tolong jangan bilang pada Bapak," titah Mama Tina kepada asisten rumah tangganya.
Asisten rumah tangga itu mengangguk paham dengan rasa hormat.
"Kamu gak apa -apa kan? Jangan mikirin yang tidak -tidak. Buang jauh -jauh pikiran buruk dari hati kamu," titah Mama Tina dnegan suara pelan.
Mulut ARsy masih terkunci rapat. Ia masih tidak bisa menjawab pertanyaan Mama Tina. Seolah pita suaranya macet dan tidak bisa mengeluarkan suara sementara waktu ini.
Pikiran Arsy langsung melayang dan tertuju pada Teddy. Kontak batinnya langsung mengunci wajah suaminya yang terlihat manis tersenyum kemudian brteriak meminta tolong.
"Arghhh ...." teriak Arsy saat masih berjalan di tangga.
__ADS_1
Bayangan buruk pun trelintas tepat di depan matanya.
"Kamu kenapa Arsy?" tanya Mama Tina yang ikut panik dan memegang erat Arsy agar tidak terjatuh karena terlihat tidak seimbang.
Papah Baron yang mendengar teriakan Arsy pun langsung melihat kedua perempuan itu bera di tangga. Lalu menghampirinya dan mengangkat tubuh Arsy yang sudah melemas. Kakinya tak kuat berpijak di lantai. Semuanya terasa linu dan tak bertenaga.
Arsy sudah berada di kamarnya. Tubuhnya sudh di rebahkan di kasur dan di tutupi dengan selimut tebal agar hangat.
Mama Tina langsung duduk d samping Arsy dan mengusap pelan kepala Arsy yang hanya diam sejak tadi. Air matanya sesekali menetes dari ujung matanya dan terjatuh di bantal.
"Sebaiknya kita panggilkan dokter saja. Sekalian memeriksa kandungannya. Takutnya, Arsy masih terlalu kecil usianya untuk mengandung. Mungkin ia belum siap dengan kehidupan barunya dan berumah tangga. Apalagi sekarang ia sedang hamil dan tentu akan melahirkan, ini bisa membuatnya stres tingkat tinggi," ucap Mama Tina pelan menjelaskan.
"Teddy belum ada kabar?' tanya Papah Baron pelan.
Papah Baron pikir, Arsy tak akan mendengar ucapannya. Kalau pun mendengar Arsy sedang tidak fokus pada pembicaraan kedua mertuanya ini.
__ADS_1
"Belum Pah. Ini masih di perjalanan. Ke London lho Pah, itu kan jauh," ucap Mama Tina mengingatkan.
Pandanagn Arsy pun yang tadinya kosong menatap langit -langit kamarnya, kini menatap Mama Tina yang ada di sampingnya.
"Mas Teddy ke London? Bukan ke Bali?" tanya Arsy memastikan. Ada senyum keut yang melukai hatinya. Goresan di hatinya itu, sudah dapat ia rasakan dari sebelum Teddy berangkat. Semuanya bohong, semuanya menyembunyikan sesuatu yang palsu.
Mama Tina dan Papah Baron hanya bisa diam dan saling berpandangan. Keduanya melempar jawaban yang harus di jawab untuk memuasakan hati Arsy.
"Ekhemmm ... Maafkan Teddy yang sudah tidak jujur. Teddy memang ke London bukan ke blai. Bukankah rumah sakit itu memang di bangun di sana sekaligus sebagai tempat magang koas dari mahasiswa jurusan kedokteran dari universitasyang akan kamu masuki nanti," jawab Mama Tina pelan.
Arsy menggelengkan kepalanya pelan. Arsy kecewa pada Mama mertuanya dan papah mertuanya yang ikut berbohong. Padahal dnegan jujur pun Arsy bisa menerima semuanya kok. Tidak masalah.
"Kenapa harus bohong," tanya Arsy lirih.
"Bukan berbohong karena menutupi sesuatu yang buruk. Teddy hanya tidak ingin membuat kamu sedih, Nak. Teddy tahu, kamu itu rindu dengan Papah Hermawan dan Bunda Bella. Teddy belum bisa membawamu kesana karena memang sebentar lagi kamu akan ujian, lagi pula, kondisi kamu yang sedang hamil muda bisa memberikan pengaruh buruk nantinya karena kamu kelelahan dalam perjalanan, apalagi di sana kamu hanay sebentar," ucap Mama Tina menjelaskan.
__ADS_1
Sebanyak apapun Mama Tina menjelaskan. Arsy tetap tidak bisa menerima semuanya dengan lapang dada.