
Malam ini keduanya mengurungkan niatnya untuk kabur. Nada tidak setuju untuk pergi dari rumah Pram. Bagi Nada masalah itu untuk di selesaikan bukan lari dari tanggung jawab.
Semalaman Nada gelisah tidak bisa tidur dnegan nyenyak. Hatinya tak tentu, dan pikirannya terus saja memikirkan solusi keluar dari masalah yang menjeratnya. Masalah yang di buatnya sendiri bersama Pram.
Hawa dingin yang semakin menusuk kulit Nada. Belum lagi suara gonggongan anjing yang begitu keras beberapa kali membuat Nada semakin merinding dan menenggelamkan tubuhnya di bawah selimut.
Indera penciumannya mulai mencium bau - bau aneh. Nada mengintip dari celah selimutnya. Terlihat sesosok bayangan hitam dan besar yang melewati jendelanya dan wanginya begitu khas seperti singkong yang di bakar. Tubuhnya begitu besar dan tinggi, Nada yakin sekali kalau itu bukanlah manusia.
'Apa itu?' Nada membatin. Ingin rasanya membangunkan Pram, tapi Nada tak sanggup membuka selimutnya. Keringat dinginnya mulai keluar. Kedua kakinya juga agak di naikkan hingga menyentuh dada.
Di malam itu hanya mesin waktu yang terdengar detak jarum jamnya. Lainnya suara - suara itu seolah tak ada dan waktu seperti berputar lama sekali menunggu pagi.
Tubuh Nada masih kaku di bawah selimut. Kedua matanya benar - benar tidak bisa terpejam hingga ayam berkokok tiba.
kukuruyuk ... kukuruyuk ...
Tanda pagi menjelang, Nada masih terjaga di bawah selimutnya dan sesekali melihat ke arah kaca jendela besarnya. Ia memberanikan diri membuka selimutnya.
Entah kenapa ingin sekali menatap jam dinding yang ada di atas pintu kamarnya. Tapi, di sana waktu maih menunjukka tepat jam dua belas malam.
Tiba - tiba angin berhembus dengan kencang masuk ke dalam kamar hingga kaca jendela dan hordeng itu membuka dengan sendirinya. Sosok mahkluk besar tadi kembali dan menampakkan tubuh besarnya dan wajah buruknya, menyerupai buto ijo.
__ADS_1
Seketika Nada berteriak dengan sangat keras. Namun tak ad yang terganggu dnegan teriakannya. Bahkan Pram yang tidur di bawah pun terlihat sangat nyenyak dan pulas. Teriakan Nada yang begitu keras sama sekali tak mengganggu tidur malamnya itu.
Mata besar dan bulat tanpa bola mata hitam dengan urat mata berwarna merah yang nampak dengan jelas ia munculkan di depan jendela kamar yang di pakai oleh Nada. Nada berjalan mundur karena takut, tubuhnya benar - benar berkeringat.
Makhluk itu tidak bersuara tetapi memang terlihat sedang mencari Nada dan ingin memangsanya. Satu tangan besarnya dengan bulu yang sangat lebat pun masuk ke dalam kamar dan berusaha menangkap Nada di ujung kamar yang terlihat sangat ketakutan.
Dengan berani Nada keluar dari kamar tidur itu dan berlari ke arah luar rumah melalui pintu belakang dekat dapur.
Nada baru sehari semalam berada di rumah itu dan di desa itu. Tentu ia tidak tahu seluk beluk di rumah itu dan desa itu. Nada hanya berlari mencari tempat persembunyian yang aman untuk dirinya.
Kaki mungilnya terus berlari degan langkah tertatih dan terasa lelah.
BRUK ...
"Apa malam ini adalah bulan pernama?" ucap Nada lirih.
Nada pernah membaca sebuah artikel jika saat bulan purnama dan bulan itu bulat sempurna adalah waktu yang tepat untuk melakukan ilmu yang berbau magis dan mistis. Orang -orang yang ingin berbuat jahat dengan melemparkan teluh atu pelet ini adalah waktu yang tepat.
Kejahatan yang tidak perlu terlihat tindakannya dan hanya pasti hasilnya. Menyentuh tanpa jejak dan mati tanpa tahu sebab akibatnya, itulah permainan teluh.
Saat Nada berusaha berdiri, tubuhnya seperti terkunci dan rambutnya tertarik ke belakang seperti ada yang menjambaknya. Wajah Nada pun menoleh sekilas ke belakang dan melihat sesosok nenek tua dengan tongkat di tangan kanannya. Rambutnya putih tersanggul rapi dengan anak rambutnya yang terlihat berantakan di wajahnya. Nenek tua itu tersenyum manis, tidak menakutkan tapi sedikit bergidik ngeri juga menatapnya.
__ADS_1
Lagi - lagi Nada hanya bisa berteriak dnegan keras tapi desa itu seolah mati dan tak ada yang mendengar teriakan kerasnya itu.
Nada berusaha melepaskan cengkeraman yang kencang itu dengan sekuat tenaga hingga, sweeternya sedikit robek dan terjatuh di dekat sumur.
Nada melanjutkan larinya setelah bisa melepaskan diri menembus hawa dingin yang terus menusuk kulitnya. Tubuhnya harus merasakan dingin karena sweeternya sudah terlepas dan kini ia hanya memakai piyama berlengan pendek dan tipis.
Kedua matanya hanya fokus melihat ke arah depan tanpa mau melihat ke belakang dan tetap mencari jalan dan tempat bersembuyi. Rasanya Nada sudah lelah sekali, berlari selama itu entah sudah berapa waktu ia berlari, namun langit tetap hitam dan gela seeprtinya mesin waktu juga ikut berhenti.
Setelah memasuki hutan belantara yang begitu gelap dneganranting - ranting pohon sebagai penghalangnya. Nada mendengar suara langkah kaki yang begitu tegas mengikutinya. Sosok bayangan hitam itu semakin dekat dan semakin terlihat bayangannya di bawah cahaya bulan purnama.
begitu juga dengan cekikikan Nenek tua yang seperti ada di tas kepalanya terbang dengan tongkat besar yang tadi di pegang di tangan kanannya.
"Aku harus kemana ini? Aku lelah sekali, kenapa belum ada desa yang ku temui. Kenapa sejak tadi hanya hutan dan hutan saja tanpa ada ujungnya. AKu tersesat dimana?" ucap Nada dengan ketakutan. Bibirnya bicara tapi kakinya tetap terus brlari mencari jalandan pandangannya fokus pada arah di depannya.
Rasanya ingin sekali Nada menangis dengan keras dan erteriak dnegan suara lantang meminta pertolongan. Ingin rasanya saat ini Nada pulang ke rumah orang tuanya dan meminta maaf atas semua kesalahannya. Tempat terenak memang hanya di rumah. Kenyamanan itu hanya bersama keluarga.
Akhirnya Nada pun berteriak dengan sanagat keras. Ia benar - benar cemas dan takut bila tersesat. Hidupnya sudah sulit semenjak pergi dari rumah dan akan semakin sulit jika kabru dari rumah Pram.
"Aku dimana? Aku kemana? Kenapa jalan ini tak berujung sama seklai," ucap NAda dengan sangat keras. Suaranya begitu menggema di langit. Tubuhnya semakin dingin karena hawa dingin dan keringat yang terus mengucur di tubuhnya membuat seluruh badannya basah. Nada lelah, ingin seklai berhenti dan duduk sebentar sambil mengatur napasnya. tapi itu smeua tidak mungkin ia lakukan. Malam ini ia seperti buronan ******* yang di kejar - kejar karena memiliki salah.
Pandangan Nada pun berkunang - kunang dan mengabur. Tubuhnya seolah melayang dan ulu hatinya terasa sesak, sakit sekali. Mual ingin muntah dan akhirnya Nada terjatuh saat akar besar pohon beringin itu menjalar di tanah dan tak terlihat oleh Nada. Nada tersandung.
__ADS_1
BUGH ...
Nada tak sadarkan diri.