
Tubuh Arsy menegang. Kepala sekolah menatapnya tajam dengan rasa penasaran.
"Arsy? Kamu dengar pertanyaan Bapak?" tanya Kepala sekolah itu mengulang.
Arsy mengangguk pasrah. Ia begitu takjub saat bertemu dengan orang yang tak di sangkanya dan berada di dalam lift yang sama, orang itu tak lain Kepala Sekolahnya sendiri.
"Pagi Pak," sapa Arsy dengan sopan dan sedikit menundukkan kepala.
Lift itu tidak turun ke bawah menuju aula hotel, tapi malah naik ke atas, mungkin ada yang membutuhkan lift itu juga dari lantai atas.
"Kamu dari mana? Kok ada di lantai empat?" tanya Kepala sekolah masih penasaran. Sejak tadi peretanyaannya tidak di jawab.
"Eum ... Tadi cuma mau jalan -jalan," jawab Arsy sambil berusaha tersenyum.
Ting ...
Lift berhenti di lantai tujuh. Namun tidak ada orang di sana. Arsy menutup kembali pintu lift dan memencet tombol ke bawah.
"Jalan -jalan? Memang sudah makan?" tanya Kepala sekolah itu pelan.
Ia melihat ada keanehan pada Arsy.
"Sudah Pak. Tadi kekenyangan terus jalan -jalan aja biar perutnya kosong lagi," ucap Arsy sambil tertawa terpaksa.
Lagi -lagi lift itu kembali berhenti tepat di lantai tiga. Teddy sudah berdiri di depan pintu lift dan menyapa kepala sekolah yang mengangguk pelan.
"Pak Teddy? Di lantai tiga juga?" tanya Kepala sekolah itu dengan penasran.
"Ya Pak. Saya tidak bisa tidur, jika harus bersama dengan orang. Jadi saya memilih pesan kamar sendiri biar lebih nyama," ucap Teddy beralasan.
"Oh gitu. Arsy rambut kamu basah begitu. Kenapa tidak kamu keringkan dulu. Bisa masuk angin, karena kamu habis perjalanan jauh, tentu tubuhmu sedikit lemah," ucap kepala sekolah itu menasehati.
"Emm ... Iya Pak," jawab Arsy lirih. Ia mengikat rambutnya. Hawa di sekitar lift itu terasa sangat panas sekali. Padahal suhu ruangan di dalam lift itu sangat dingin.
Arsy menyibakkan rambutnya. Teddy pun melirik ke arah samping untuk melihat Arsy dan begitu pun dengan kepala sekolah.
Kedua lelaki itu terkejut dengan apa yang di lihatnya di leher Arsy. Ada noda kemerahan yang sangat jelas di kulit putihnya.
__ADS_1
"Arsy?" panggil kepala sekolah itu kemblai.
"Ya Pak," jawab Arsy singkat.
"Itu leher kamu? Kok ada merah -merahnya?" tanya kepala sekolah yang bergeser mendekat ke arah Arsy untuk melihat dengan jelas.
Kepala sekolah itu mengamati dengan jelas. Ia takut, salah satu muridnya terluka atau punya penyakit mnular atau penyakit yang mengerikan.
Arsy nampak kebingungan. Ia sendiri bingung dengan tanda merah yang di maksud kepala seklah.Teddy melirik jelas ke arah leher Arsy. Noda itu jelas karena perbuatannya tadi pagi yang terlalu ganas dan gemas.
Teddy langsung menghalangi dan berpura -pura melihat juga, sebelum kepala sekolah itu sadar bahwa tanda kemerahan itu adalah sebuah tanda cinta.
"Coba saya lihat?" ucap Teddy langsung memegang rambut Arsy dan berpura -pura melihat jelas.
Arsy sendiri bingung. Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Ia merasa baik -baik saja. Tidak ada bagian tubuhnya yang sakit, apalagi bagian lehernya.
Ting ...
Pintu lift terbuka dan keduanya terselamatkan dalam kepanikan. Tapi, masalah yang timbul tidak hanya sampai di sana. Banyak mata melihat apa yang di lakukan Pak Teddy sebagai guru pendamping kepada Arsy sewaktu berada di dalam lift bersama kepala sekolah. Tangan Teddy ynag masih memegang rambut dan memeriksa kulit di leher Arsy pun menjadi perbincangan semua murid yang kebetulan melewati lift saat pintu itu terbuka.
"Lepas Pak," ucap Arsy ketus.
Arsy keluar dari lift dan menggeraikan rambutnya. Ia langsung masuk ke dalam toilet wanita untuk melihat noda merah seperti yang di maksud kepala sekolahnya.
Teddy nampak diam dan menoleh ke arah kepala sekolah yang melotot ke arahnya.
"Baru mau saya lihat Pak. Pintu lift terbuka, dan anaknya langsung pergi," Teddy berusaha mencari alasan menjawab sebelum di salahkan.
Kepala sekolah itu tak menjawab dan keluar begitu saja dari pintu lift.
Dengan langkah cepat Teddy mengikuti Arsy. ia harus menyembuyikan bekas tanda cinta yang menggemaskan itu.
Di depan cermin Arsy mengahdap ke samping dan mengikat rambutny ake atas. memang ada tanda merah jelas. Ia brusaha mengingat dan ahh ... 'Ini sih kerjaan Mas Teddy. Gak bisa gitu lebih lembut. Ganas banget,' kesal Arsy.
Ponsel Arsy berbunyi dan Arsy pun mengangkat telepon yang berasal dari Teddy.
"Kamu di mana Sy?" suara lembut Teddy terdengar panik.
__ADS_1
"Argh ... Mas Teddy membuat Arsy malu," ucap Arsy tegas. Lalu mematikan sambungan teleponnya dnegan cepat.
Teddy melihat sambungan teleponnya yang di matikan sepihak. Lalu berusaha menelepon kembali Arsy namun tidak di angkat.
Dengan wajah cemas dan panik Arsy mencari cara untuk mencoba menyembunyikan tanda merah itu.
"Harus pakai apa? Rambut di gerai? Kalau gerah dan kepanasan di ikat pasti terlihat. Kalau pakai jaket, berasa kayak orang sakit," ucapnya mulai kesal sendiri.
Sejak tadi Arsy hanya mondar -mandir di depan cermin dan masih bingung ingin menutupinya dengan apa. Suara toa tanda semua siswa harus berkumpul pun di abaikan oleh Arsy. Kedua matanya mulai basah, tubuhnya mendingin dan berkeringat. Itu hal biasa yang sering terjadi pada Arsy bila ia sedang panik dan cemas atau ketakutan.
Teddy sejak tadi berdiri di depan toilet wanita. Ia meyakini istri labilnya itu pasti ada di dalam dan pasti sedang menangis serta marah -marah tak jelas karena jengkel.
Suara toa itu sudah di ualng dua kali untuk mengumpulkan siswa dan sisinya di halaman hotel dan segera menaiki bis masing -masing karena akan di mulai plesiran yang pertama di Pulau Bali.
Tubuhnya bersandar pada dinding sambil berpikir sejenak. Satu tangannya melipat di depan dada menopang tangan lainnya yang mengusap dagunya tanpa janggut itu dengan pelan.
Dengan cepat Teddy masuk ke dalam toilet wanita dengan memberanikan diri. Benar saja, ia melihat Arsy sedang berjongkok di pojokkan dekat wastafel sambil menunduk di antara tangannya. Fix, Arsy menangis sat itu dalam kebingungannya. Ia pikir Teddy tidak peduli.
"Sy. Mas bawa handyplast. Sementara pakai ini dulu. Gak enak semua orang pasti nunggu kita di bis. Jangan sampai otrttang lain curiga," titah Teddy lembut.
Mendengar suara lembut dan menenangkan itu datang. Arsy pun langsung berdiri dan berlari ke arah Teddy dan emmeluk suaminya dengan erat.
"Arsy dari tadi takut dan malu. Kenapa sih Mas Teddy gak ngejar Arsy," ucap Arsy galau.
"Mas keja kamu. Manya Mas telepon kamu di mana? Mas mau bantu kamu, akrena ini kesalahan kita berdua," ucap Teddy pelan sambil mengusap kepala Arsy lembut.
"Apa? Kesalahan kita berdua? Mas yang salah, Mas yang buat tanda itu!! Mas yang terlalu ganas dan penuh nafsu," teriak Arsy kesal. Ia tidak mau di salahkan. ia hanya ingin tetap terlihat sebagai gadis polos yang tenang dan bukan penuh asrat.
"Oh ya? yakin? Mas yang ganas dan kamu tidak?" tanya Teddy mendekatkan wajahnya kepada Arsy.
"He em ... yakin dong," ucap Arsy percaya diri denga keyakinannya.
Teddy pun membuka sedikit swetear yang di pakainya dan menunjukkan tanda merah yang sama persis seperti yag ada di leher Arsy.
"Lihat ini? Ini perbuatan siapa?" tanya Teddy tersenyum geli.
Arsy lanagsung menunduk malu. Bukti itu jelas menandakan ia bukan gadis polos, ia pun sma mesumnya seperti Teddy, suaminya.
__ADS_1