
Dalam perjalanan pulang ke rumah. Arsy terus saja menangis dalam pelukan Mama Tina. Papa Baron tidak ikut di dalam mobil, karena membawa motor gede milik Teddy.
Kepala Arsy di usap lembut oleh Mama Tina hingga Arsy pun tertidur karena lelah di pangkuan wanita paruh baya itu.
"Pak Parjo mulai besok antar jemput Arsy di sekolahnya. Pakai saja mobil Teddy," titah Mama Tina kepada supir pribadinya yang sudah mengabdi selama puluhan tahun itu.
"Siap Bu," jawab Pak Parjo pelan siap menerima tugas baru.
Dulu, beliau yang sering mengantar jemput Teddy ke sekolah. Lelaki itu anak yang pintar dan penurut hingga suatu hari Teddy salah pergaulan saat duduk di bangku SMA.
Kenakalan remaja yang mungkin menjadi turun temurun di sekolahnya itu. Ia tahu persis letak ruang -ruang yang di jadikan persembunyian siswa -siswa nakalnya termasuk di era jamannya dahulu.
"Arsy itu ikut drama. Jadi pulangnya agak siang. Mending Pak Parjo tungguin saja biar dia tidak menunggu. Arsy sedang hamil muda. Terus, kalau dia ingin sesuatu soal makanan turuti saja. Itu pesan Teddy," titah Mama Tina pelan kepada supir pribadinya itu.
"Iya Bu. Akan selalu saya ingat?" jawab supir itu pelan.
Tak lama mobil itu sudah masuk ke dalam halaman rumah besar milik keluarga Baron, Papah mertua Arsy.
"Arsy sayang ... Yuk pindah istirahatnya ke kamar, Nak," ucap Mama Tina dengan suara lembut dan begitu pelan sekali membangunkan menantunya itu.
Arsy merasakan kelembutan tangan Mama Tina yang mirip dengan tngan Bunda Bella. Kedua matnay terbuka pelan dan menatap ke arah Mama Tina dengan samar.
"Bunda? Bunda pulang?" cicitnya lirih. Sepertinya Arsy begitu rindu dengan Bundanya. Beberapa kali Arsy memimpikan Papah dan Bundanya pulang ke rumah dan berkumpul bersmaa kembali.
MAma Tina hanya mengulum senyum. Ia tahu menantunya ini begitu manja.
"Ini Mama, Nak. Yuk bangun dulu. Mama mau buat makan malam spesial buat kamu. Mungkin kamu punya keinginan mau makan apa?" tanya Mama Tina pelan mengusap pipi arsy pelan.
Arsy terkejut sekali. Wanita paruh baya di depannya itu adalah Mama Tina, Mama mertuanya bukan Bunda Bella.
"Maaf Ma. Kirain Bunda. Arsy lagi gak pengen makan apa -apa. Boleh ARsy tidur saja? Nanti biar Arsy buat susu hamil di kamar, dan ada cemilan yang sudah di siapkan Mas Teddy. Ekhemm ... Penerbangan Mas Teddy kira -kira berapa lama sampai Bali?" tanya Arsy pelan.
__ADS_1
Pertanyaan itu kini membuat Mama Tina tak bisa menjawab. Teddy berpamitan ke Bai sedangkan tujuannya adalah London. Teddy hanya tidak ingin mmebuat Arsy bersedih dan ingin ikut bersamanya.
Niat Teddy memberikan surprise kepada Arsy. Ia akan mengunjungi kedua orang tua Arsy sebelum dan sesudah urusan rumah sakitnya.
"Nanti juga Teddy pasti ngabarin kamu, Sy. Kamu dan anak dalam kandungan ini adalah bagian terpenting Teddy. Tentu Teddy akan lebih dulu menghubungi istrinya di bandingkan Mama atau Papa, kecuali kamu tidak bisa di hubungi, tentu Teddy akan menghubungi Mama dan bertanya tentang keberadaanmu," ucap Mama Tina menjelaskan.
Jawaban Mama Tina sungguh tak membuat Arsy puas. Malah semakin banyak petanyaan yang ingin ia ungkapkan saat ini. Kisahnay jadi seperti sebuah drama. Ada hal yang di sembunyikan seperti sedang menyembunyikan dosa besar.
"Ekhemmm ... Gitu ya," jawab Arsy sambil berusaha tersenyum puas dengan jawaban mertuanya. Arsy berusaha tidak bertanya lagi. Memang alangkah baiknya ia menunggu kabar Teddy dengan cara menunggu suaminya itu yang lebih dulu menghubunginya.
Mama Tina dan Arsy pun keluar dari mobil dan berjalan masuk. Arsy langsung pamit naik ke atas menuju kamar untuk membersihkan tubuhnya. Sedangkan Mama Tina langsung ke dapur untuk melihat makan malam yang di persiapkan oleh asisten rumah tangganya.
Arsy masuk ke daam kamar mandi. Sesiang ini, perutnya dua kali terasa keram. Pertama saat berada di cafe gelato dan kedua saat Arsy merasakan kehilangan meleihat kepergian Teddy.
Lagi -lagi Arsy terkejut, flek berupa darah itu jelas ada di pakaian dalamnya. Tak hanya itu flek darah bercampur lendir sama seperti tadi saat ia pulang sekolah.
"Ada apa ya? Apa Arsy harus ke dokter Effendy menanyakan ini? Atau minta di antar Mama Tina?" tanya Arsy dalam hati.
Arsy bergegas mengganti pakaiannya setelah ia membersihkan diri di dalam kamar mandi. Dengan cepat iamengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja riasnya dan langsung memencet nomor Bunda Bella.
Sambungan telepon itu tersambung dengan nada dering yang terdengar belum di angkat. Tiba -tiba saja, langsung di matikan oleh Arsy sepihak. Ia kembali mengurungkan niatnya bertanya kepada Sang Bunda.
"Apa tanya Wulan ya?" ucap Arsy pelan bertanya pada dirinya sendiri.
Pikirannya mulai kalut. Ia harus segera mendapatkan jawaban tentang apa yang ia keluhkan saat ini. Arsy terduduk di tepi ranjang dan mulai mencari di internet tentang kasus yang di alaminya sebagai ibu muda yang baru pertama kali mengandung.
Beberapa artikel dan ulasan pun muncul, satu per satu Arsy baca tanpa ada yang terlewati. Sebagian mengatakan itu hanya benturan yang mengakibatkan gesekan saja, dan hanya perlu istirahat, ulasan lain bisa mengakibatkan keguguran.
Deg ...
Tangannya bergetar dan begitu dingin. Dalam hati Arsy mengambil keputusan bulat. Besok ia akan pergi ke dokter kandungan bersama Wulan. Ia akan bolos sekolah, agar supir pribadinya tak mengetahui kepergiannya. Bisa -bisa Mama mertuanya marah besar, belum lagi Bunda Bella akan menasehatinya dengan tegas, dan Teddy, lelaki posesif ini tentu akan cemasdan kembali pulang. Apa? Kembali pulang? Karena keadaanku? Apa mungkin? Kalau memang itu bisa di jadikan suatu alasan agar Teddy bisa kembali secepatnya, kenapa tidak di lakukan rencana itu?
__ADS_1
Tapi, tunggu dulu, lebih baik ia periksakan lbih dulu, apa yang sebenarnya terjadi. Baru ia bicara baik -baik dengan suaminya, jika memang tidak ada masalah engan kandungannya. Lalu, Bagaimana jika sesuatu buruk terjadi dan akhirnya kejadian yang menimpa Wulan juga menimpa dirinya? Mama mertuanya mungkin tidak akan memaafkan dirinya.
Arsy terlalu berpikiran negatif dan sempit. Seolah -olah ia sudah mendahului takdir yang akan terjadi padanya.
Kini, ponselnya berdering keras. Bunda Bella mneleponnya kembali setelah sambungan tadi tidak terangkat oleh Bunda Bella. Namun, Arsy malah gugup dan panik.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Non Arsy ... Di panggil Ibu, untuk makan malam bersama," ucap asisten rumah tangganya mengetuk pelan kamar Arsy.
"Iya. Nanti Arsy turun," jawab Arsy pelan.
Arsy meletakkan ponselnya dan berjalan ke meja rias untuk mengambil satu dus susu hamil untuk persediaan di bawah. Ia pun turun menuju ruang makan. Mama Tina dan Papah Baron sudah menunggunya di meja makan.
"Ayo makan dulu, Arsy. Kamu belum makan malam," titah Mama Tina pelan.
Mama Tina lagsung mengambilkna piring dan nasi serta memilihkan sayur serta lauk yang bergizi untuk Ibu hamil seperti Arsy.
"Makasih Ma," ucap Arsy pelan saat Mama Tina meletakkan piring nasi itu di depan Arsy.
Ketiganya diam. Memang Papah Baron sangat pendiam dan jarang sekali bicara atau bertanya. Paling hanya seperlunya saja. Mama Tina sendiri sudah terbiasa diam saat waktu makan. Arsy yang sedikit gugup pun mulai terbiasa dengna keadaan di rumah ini. Arsy harus beradaptasi dengan keluarga suaminya yang memang lebih cenderung diam. Tidak seperti dirinya dan Bunda Bella kalau sudah bertemu akan terasa ramai seperti pasar.
Setelah makan malam selesai. Arsy pun menuju dapur untuk membuat susu hamil di gelas besar. Ia teringat pesan suaminya untuk tetap minum susu dalam keadaan eneg sekali pun. Itu hal biasa yang terjadi pada ibu hamil, dan Arsy harus melawa rasa tidak sukanya agar menjadi kesehatan bagi pertumbuhna janinnya.
Asisten rumah tangga dan Mama mertuanya melihat dari balik dinding dan tak banyak bicara. Mereka sengaja ingin melihat kemandirian Arsy juga, dengan di berikan kebebasan di rumah ini untuk melakukan apapun yan ia sukai.
Susu rasa strawberry itu sudah jadi. Arsy meletakkan kemabli susu bubuk nya di dalam lemari makan. Ia membawa gelas itu menuju kamarnya. Ia mau beristirahat sambil menonton televisi dan menunggu kabar sang suami.
Tidak ada hujan, tidak ada angin dan tidak ada sesuatu yang menghalagi jalannya. Gelas dalam gnggamannya pecah begitu saja. Arsy terkejut dan memegang dadanya. Ia merasa sesuatu yang buruk sedang terjadi.
"Firasat apa ini?" tanyanya lirih sambil melihat pecahan gelas kaca yang sudah tersebar di lantai.
__ADS_1
Deg ...