
Teddy memundurkan tubuhnya dan langsung keluar dari mobilnya lalu berputar untuk membuka pintu mobil di sisi tempat istrinya duduk.
Arsy masih melongo kaget denagn perlakuan manis Teddy, suaminya yang selalu di luar nalarnya. Teddy selalu mempunyai cara yang menakjubkan hingga membuat Arsy senyum -senyum sendiri.
ceklek ...
Pintu mobil sudah terbuka, Teddy menunggu istrinya keluar dari mobil.
"Silahkan tuan putri. Kok malah bengong sendiri?" tanya Teddy yang malah bingung melihat rasy tak bergerak sama sekali.
"Ehhh ... Iya Mas. Masih berdebar ini," ucap Arsy jujur sambil memegang dadanya.
Teddy hanya mengulum senyum dan menunggu istrinya keluar dari mobil. Arsy susah payah menggeser kedua kakinya dan menurunkannya hingga menapak di halaman parkir. Perutnya yang sudah besar agak emnyulitkan Arsy bergerak.
"Pelan -pelan sayang," titah Teddy pelan sekali.
__ADS_1
Arsy hanya menghembuskan napsnya pelan sekali. Sedikit melelahkan banyak bergerak seperti ini. Kedua mata Arsy mengedarkan pandangannya dan menatap ke segala arah. Arsy juga tidak mau terlihat banyak orang bahwa Teddy adalah suaminya. Walaupun Teddy bukan dosen di kampus ini.
"Mas langsung pergi aja deh. sana. Arsy malu," cicit Arsy langsung mendorong tubuh Teddy menjauh dari dirinya agar cepat masuk kembali ke dalam mobil.
"Mau ijin sama panitianya dulu. Mas mau titip kamu," ucap Teddy pada Arsy.
"Gak usah. Arsy bisa jaga diri kok," ucap Arsy pada Teddy dengan nada memohon.
"Bukan masalah itu Sy. Tapi kamu lagi hamil besar," ucap Teddy dengan rasa khawatir.
"Percaya sama Arsy, Mas. Arsy bisa jaga diri dan Arsy mau mandiri. Arsy pergi dulu ya," ucap Arsy langsung pergi begitu saja meninggalkan Teddy yang hanay bisa menatap istrinya berjalan denagn sedikit terburu -buru.
Arsy menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang lalu melihat Teddy yang malah berjalan mengejar dirinya.
"Ihhh ... Udah sana pergi. Sini tangannya," ucap Arsy kesal lalu mencium punggung tangan Teddy dengan hormat. Arsy kembali berjalan dan menaiki anak tangga menuju ke arah lobby kampus tempat berkumpul semua mahasiswa baru.
__ADS_1
Arsy langsung masuk ke dalam barisan. Beberapa mahasiswa menatap dirinya dengan tajam termasuk kakak panitian yanag tadi sedang menjelaskan. Arsy sedikit terlambat.
"Kamu!! Baru datang langsung masuk barisan!! Sopan dikit jadi maba!!" ucap kakak panitia dengan suara ketus.
Arsy menunduk dan berjalan ke arah depan dengan langkah pelan. Arsy berdiiri di depan kakak panitia yang membentaknya tadi.
"Ini contoh yang tidak baik ya!! Jangan mentang -mentang lagi hamil, terus dapet perlakuan khusus? Ohhh ... Tidak ada kamusnya dalam kampus ini. Semua maba akan di perlakuakn sama!! Paham!!" ucap kakak panitia itu denagn suara keras dan lantang kepada semua maba agar paham.
"Paham Kak!!" jawab semua maba serempak.
"Nama kamu siapa?" tanya kakak panitia ituketus sambil menunjuk ke arah meja untuk registrasi kedatangan dulu dan masuk ke barisan yang mana.
"Arsy," jawab Arsy pelan.
"Cari namanya di sana lalu masuk dalam barisan sesuai kelompok. Lambat banget kayak keon!!" ucap kakak panitia itu kesal.
__ADS_1
Teddy melihat dari kejauhan. Ia tentu kasihan pada istrinya yang memang terlambat beberapa menit saja. Tapi sesuai kesepakatan dan permintaan Arsy. Arsy ingin mandiri dan tidak mau di bantu.
Teddy hanya bisa menghela napas dalam dan berdoa agar Arsy dan bayinya baik -baik saja.