
"Hai cantik ...." panggil Bismo di dalam ruangan sempit saat menatap mantan kekasihnya meronta karena kedua tangan dan kakinya terikt kencang. Mulutnya tertutup lakban hitam yang sangat kuat.
Bismo ternyata memiliki sisi kejiwaan yang buruk Bisa di bilang sedikit psikopat, mungkin.
Bismo berjalan menghampiri Arsy yang duduk di atas kursi. lakban itu di buka hingga meninggalkan rasa perih di sekitar kulit Arsy.
"Argh ...." teriak Arsy keras saat lban itu di buka dengan paksa dan begitu cepat.
"Diam sayang. Jangan keras -keras teriaknya. Kayak di apain aja," ucap Bismo dengan suara pelan mengusap pipi Arsy lembut.
Wajah Arsy memerah kesal. Ia tak menyangka Bismo sekeji ini pada dirinya. arsy mneunduk dan berbicara ketus pada Bismo.
"Apa mau kamu, Mo?" tanya Arsy ketus. Arsy mulai muak dengan keberadaan Bismo.
"Semakin aku melepas kamu. Semakin gak ikhlas aku lihat kamu sellau mesra dengan guru bejat itu. Bisa -bisanya setua itu mencintai muridnya sendiri dan menikahinya," ucap[ Bismo kesal. Nyinyir seklai ucapannya.
"Itu jodoh. Kamu gak bisa melawan itu semua. Awalnya, Arsy juga berat. Arsy marah, Arsy gak terima dengan smeua ini. Karena apa? Karena Arsy punya kamu, Mo. Tapi, pilihan orang tua tak selamanya salah. Mungkin Arsy yang gak bersyukur. Arsy ras, kamu juga pasti bisa melewati masa -masa ini, Mo," ucap Arsy lirih.
__ADS_1
Arsy menunduk menahan air matanya.
"Kita punya tujuan yang sama, Sy. Kita punya angan -angan. Itu yang sama sekali gak bisa aku lupakan. Kita berjanji akan sellau bersama, kuliah bareng," ucap Bismo kesal.
"Mo ... Maaf. Arsy minta maaf," ucap Arsy lirih. Arsy tidak thau harus berbuat apa lagi. Ia pikir cintanya pada Bismo hanya sebatas cinta monyet seperti yang Papahnya bilang. Ternyata, Memory Bismo sangat ampuh menyimak dan menyimpan semua pembicaraan antara keduanya.
"Maaf? Mudah ya? Bilang Maaf aja," ucap Bismo mulai kesal.
"Arsy juga kan gak pernah tahu kalau kejadiannya akan seerti ini," ucap Arsy lirih.
"Seharusnya kamu punya effort untuk kita. Aku sudah kenal Papah kamu, Bunda kamu. Tapi bisa -bisanya kedua orang tua kamu dengan mudahnya menikahkan anak gadisnya pada pria lain yang belum tentu baik. Kamu tahu? Tentang Guru itu? Kamu yakin sama dia? Kamu gak meras di bohongi? Umur kalian jauh berbeda, bisa saja dia sudah pernah menikah? Atau punya anak di luar nikah? Semua bisa terjadi? Atau dia hnaya ingin menumpang hidup sama kamu. Nyatanya dia bekerja juga di perusahaan Papah kamu. Terus dia profesinya apa? Kalau benar dokter? Kenapa gak tugas? Kenapa malah pilih jadi guru biologi? Mau cari sasaran? Anak -anak perawan yang masih SMA? Gitu?" tanya Bismo semakin lantang dan ketus.
"Jaga ucapan kamu, Mo!! Bisa gak sih, berdamai dnegan keadaan?" tanya Arsy pelan.
"Berdamai dengan keadaan? Terus selama dua tahun ini aku menjaga kamu, aku gak sentuh kamu, ternyata aku hanya menjaga jodohnya orang? Gitu? Gila kamu Sy. Sakit rasanya di sini, kamu gak akan pernah tahu itu," ucap Bismo kesal.
"Cukup Mo. Jangan di teruskan. Arsy lagi gak mau berdebat dengan masalah ini. Arsy lapar," ucap Arsy lirih.
__ADS_1
Perutnya mulai terasa perih. Ia sudah tidak bisa menunda rasa laparnay semenjak hamil.
Bismo bangkit berdiri dan mengambil plastik yang ada di meja. Ia memang sudah mempersiapkan smeuanya. Ia tahu makanan kesukaan Arsy, tapi ada beberapa makanan yang tiba -tiba tidak di sukai Arsy juga.
"Aku suai," ucap Bismo lembut.
Bismo membuka satu bungkus sereal yang di campur susu instant di dalamnya. Pelan sekali Bismo menyuapkan serela itu ke mulut Arsy.
"Kamu suka?" tanya Bismo pelan.
Arsy hanya mengangguk pelan.
"Arsy mau pulang. Perut Arsy sakit, Mo," ucap Arsy lirih. Arsy mencoba bernegosiasi dengan Bismo.
"Pulang? Gak Sy. Kita di sini saja berdua. Aku pasti menjaga kamu," ucap Bismo pelan.
"Biarkan Arsy pergi, Mo. Arsy gak bisa berada di hawa sedingin ini," ucap Arsy lirih.
__ADS_1
"Asal kamu berjanji mau meninggalkan guru itu dan bersamaku seperti dulu. Anak itu tetap akan aku akui sebagai anakku, Sy. Aku janji," ucap Bismo pelan. Tatapannya sendu dan penuh kecemasan.
Kemarin -kemarin Bismo sudah bisa menerima semuanya dengan baik. Tapi, hari ini tiba -tiba ketulusan dan keihklasan itu hilang bersama angin.